Minggu, 11 Oktober 2009

KELAINAN YANG DISEBABKAN OLEH BAHAN KIMIA DAN OBAT

Pendahuluan
• Hampir semua bahan kimia, termasuk obat-obatan mempunyai kemampuan menimbulkan jejas, kadang kematian.
• Beberapa diantaranya sangat toksik dan bereaksi cepat,dianggap sbg racun ttpi lebih sering berpengaruh scr samar-samar, dan baru nyata setelah beberapa waktu.

A. Efek samping agen terapi
• Lebih sering dikenal sebagai efek samping obat (ADR)
• Menjadi resiko yang paling diketahui oleh penderita, keluarga dan dokter.
• Setiap obat suatu saat dapat mengakibatkan ADR
• Konsensus luas bahwa 4 kategori pengobatan terlibat dalam ADR yang paling serius – agen radioaktif, antibakteri, antineoplastik, dan imunosupresan.
Kategori ADR
• Dapat diperkirakan, terkait dosis
- kelebihan dosis. Cth:toksisitas digitalis
- efek samping. Cth:toksisitas
• streptomisin yang terkenal pada telinga
• bgn dlm.
• Reaksi yang tidak terduga, tidak terkait dosis
• Efek ekstensi
• Reaksi idiosinkrasi




1.Analgesik
• Berton-ton aspirin dan analgesik terjual bebas setiap tahunnya(cth.fenasetin, asetaminofen)
• Kelebihan dosis aspirin yang tidak begitu tinggi walau tdk menimbulkan kematian, dpt menyebabkan reaksi hipersensitivitas (eritematosa, eksim, angioedema, urtikaria, asma, bahkan anafilaksis)
• Pemakaian dosis terapi aspirin selama penyakit virus ikut menyebabkan sindrom Reye
• Pemakaian aspirin yg menahun merupakan faktor penting pada perkembangan gastritis dan dapat menimbulkan tukak peptik gastrikum


2. Barbiturat
• Tahun 1977 di Britania disebutkan bahwa 70% kematian akibat bunuh diri disebabkan oleh akibat agen terapi barbiturat
• Dosis berlebihan yang tidak disengaja dan tidak dikehendaki, menjadi penyebab lebih dari 15.000 kematian setiap tahunnya di Amerika Serikat
• Semua jenis barbiturat mempunyai efek farmakologik yang serupa, tetapi bervariasi dalam kecepatan kerja
• Bila dosis total analgesik(campuran aspirin,fenasetin, dan asetaminofen) mencapai kadar dlm kilogram selama bertahun-tahun, dpt terjadi lesi ginjal yg dpt menimbulkan kematian
• Di Amerika Serikat Fenasetin telah ditarik dari peredaran, karna penggunaan fenasetin yang lama dan besar dianggap dapat menyebabkan kanker kandung kemih
• Akibat kliniko anatomi toksisitas barbiturat bervariasi dari depresi CNS yang menyolok dengan koma yang mematikan dlm waktu beberapa jam sampai dengan reaksi lambat non fatal yg mungkin berkaitan dengan kepekaan obat
• Bila kadar barbiturat darah cukup tinggi (mulai 2 mg/100ml utk agen kerja singkat), semua neuron di CNS tertekan termasuk yg paling penting pusat pengaturan pernapasan/suhu dibatang otak
• Diagnosis intoksikasi barbiturat, baik secara klinis, maupun anatomis, tergantung sekali pada identifikasi agen secara klinis, maupun anatomis, tergantung sekali pada identifikasi agen secara kromatografik gas, dalam darah atau isi lambung, karena perubahan klinis, dan anatomis tidak jelas

3. Estrogen Eksogen, dan Kontrasepsi Oral (OC)
• Estrogen eksogen tergantung pada dosis total dan lama penggunaan, akan meningkatkan risiko karsinoma pada organ sasaran tertentu, lebih besar dari organ lain
• Disamping sifat onkogenitas yang tampak, estrogen eksogen juga melipatgandakan risiko perjalanan penyakit empedu pada wanita
• Kontrasepsi oral masih menimbulkan pertentangan yang luas, tentang efek jangka pendek dan panjang

4. Obat Kemoterapi Kanker
• Pada kebanyakan kasus, neoplasma yang disebabkan obat adalah leukimia nonlimfositik akut.
• Neoplasma akibat obat terjadi terutama pd penderita noplasma yang peka terhadap pengobatan , termasuk penyakit Hodkin, limfoma non-hodkin, mieloma multipel, dan Ca.ovarium, tetapi kadang-kadang terjadi pada keadaan yang tdk terobati juga(mis. Ca.payudara, Ca.gastrointestinal dan polisitemia vera.
• Berdasarkan bukti yang ada sekarang, maka agen alkilator (seperti melfalan,dan siklosfosfamid) menghadapi risiko terbesar karena obat-obatan ini mempunyai kemampuan untuk mencetuskan mutasi

5. Antibiotik dan Imunosupresan
• Beberapa efek antibiotik utama:
a. Reaksi sensitivitas terkait antibiotik, bervariasi mulai anafilaksis, sampai ruam kulit
b. Srain baru kuman kebal obat telah timbul, terutama yang dapat dicatat seperti stafilokokus, gonokokus, dan enteropatogen gram negatif. Kuman-kuman ini dan strain-strain lain yg juga kebal, menimbulkan masalah yang berat dan dapat mencetuskan epidemik yang serius, baik dalam masyarakat maupun RS
c. Penghancuran mikroflora tubuh sering memberikan kesempatan bagi proliferasi kuman oportunistik yang mempunyai kemampuan untuk mencetuskan penyakit hanya pada tuan rumah yang rentan.
• Imunosupresan telah memungkinkan era pencangkokan organ, dan kadang-kadang penyelamatan hidup pada penderita penyakit diperantai imun, tetapi obat ini juga dapat mencetuskan risiko
• Yang paling jelas, ialah reaktivasi tuberkulosis yang telah tenang dengan pengobatan dosis tinggi steroid jangka panjang, yang kadang-kadang dapat menyebabkan diseminasi milier fatal infeksi.

B. EFEK SAMPING AGEN NON-TERAPEUTIK
Substansi non-terapeutik yang dapat menyebabkan penyakit, diantaranya yaitu:

1. Etil Alkohol
Konsumsi etanol yang berlebihan merupakan salah satu masalah utama medis, dan kemasyarakatan didunia. Konsumsi alkohol dpt dianggap berlebihan, bila alkohol menimbulkan efek samping pada kondisi intelektual, kejiwaan, dan jasmani sesorang.
Diantara efek-efek patofisiologis berkaitan dengan CNS lah yang paling peningkatan kadar alkohol darah, adalah yang penting. Etanol merupakan suatu depresan CNS.
Diantara efek-efek alkohol yang lain, adalah toksisitas pada sel hati.
Beberapa implikasi tambahan alkoholisme yaitu kepekaan terhadap infeksi meningkat, miopati otot lurik yang analog dgn keadaan pada kardiomiopati, gastritis, ulkus peptikum, pankreatitis akut/kronik


2. Timbal
Terdapat banyak sumber timbal dari lingkungan. Timbal mempunyai banyak efek metabolik yang merusak. Timbal menghambat penggabungan besi menjadi hem, mengganggu sintesis globin, dan menghambat asam delta-aminolevulenat dehidratase dalam sel darah merah.

3. Adiksi Obat
• Mariyuana (cannabis/ganja),
substansi psikoaktif yang terkandung dalam resin daun, dan pucuk bunga tanaman adalah tetrahidrokanabinol (THC). Walaupun tidak ada efek fisik yang nyata, pemakaian ganja selama usia dini sering menjadi permulaan bagi penggunaan obat lain. Lebih baik kita memberi judul pada bagian ini, “ Jangan Dekat Tanaman Itu”
• Heroin
Suatu derivat morfin, opoid yang sering disalah gunakan. Obat ini dapat dihirup atau dilarukan dalam cairan, dan disuntikkan subkutan atau secara intravena

• Kelebihan dosis merupakan penyebab kematian paling sering, karena dihubungkan dengan hambatan pusat-pusat pengaturan dimedula.

4. Karsinogen Industrial
Menurut Biro Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat, kira-kira 50.000 substansi pada penggunaan komersial masa kini, hanya sekitar seperlimanya saja yang diuji, dan 20% diantaranya dianggap karsinogenik.Walaupun begitu tidak ada sanggahan terhadap kenyataan bahwa pemaparan karena pekerjaan telah mencetuskan kira-kira 1 sampai 5 % kanker manusia.

5.Agen Non Terapeutik Lain
Disamping substansi-substansi sebelumnya,banyak substansi lain yang diketahui menyebabkan penyakit dan kematian.
• Metil alkohol (dipakai dalam solven, penghapus cat, anti es dan sterno) Penyerapan setelah termakan, atau terhirup. Tempat utama jejas adalah neuron retina, keterlibatan otak menyebabkan depresi CNS
• Karbon Monoksida (CO)
Merupakan penyebab langka kematian tidak disengaja. Afinitas. COpada hemoglobin 200 kali lebih besar daripada afinitas oksigen. Afinitas yang meningkat ini menghasilkan karboksihemoglobin, yang mengganggu transpor oksigen,dan menyebabkan hipoksi sistemik.
• Merkuri, dengan berikatan pada gugus sulhidril, dapat meracuni enzim, dan merusak membran.



Sumber :

Materi Kuliah Patologi Klinik
Dosen : dr.Hatta Antemas



HORMON ADRENOKORTIKOTROFIK DAN FUNGSI KORTEKS ADRENALIS

ACTH adalah polipeptida yang sekresinya diatur oleh CRF yang berasal dari hipotalamus, dengan umpan balik dari kadar kortisol plasma yang bersikulasi. ACTH bekerja atas korteks adrenalis untuk menimbulkan hyperplasia dan untuk merangsang konversi kolesterol menjadi pregnenolon dan progesterone. Jadi merangsang pembentukan glukokortikoid dna androgen adrenalis.

Hormone-hormon korteks adrenalis
Dua jenis hormone utama, kortikostiroid dan androgen disintesa di dalam dan disekresi oleh korteks adrenalis, normalnya mungkin juga ia mensekresikan sejumlah kecilestrogen dan progesterone.



1. Kortikostiroid
Kortikostiroid utama yang disekresi oleh korteks adrenalis manusia adalah aldosteron (dari zona glomerulosa), kortisol dalam farmasi dinamai hidrokortison (dari zona fasikulata) dan kortikosteron (dari kedua lapisan). Kortisol disentesa dari progesterone oleh kerja hidroksilase berurutan (monooksigenase steroid) dan aldosteron oleh jalur berbeda melalui kotikosteron. Kortison merupakan steroid sinteti, yang bukan merupakan sekresi normal.
2. Androgen
Sekresinya di dalam glandula adrenalis dirangsang oleh ACTH, mungkin dengan sinergisme gonadotrofin. Estrogen dan progesterone adrenalis berlaku sebagai yang meningkatkan pertumbuhan karsinoma prostate dan payudara yang tergantung atas hormone.Hormone-hormon adrenokortikal di dalam plasma dan urina.
Kortisol merupakan glukokortikoid utama di dalam plasma. Sekitar 5% yang aktif dan bersirkulasi dalam keadaan bebas, sisanya terikat ke B-globulin yang relative spesifik (BCG, transkortin), dan sedikit yang terikat ke albumin. Konsentrasi yang terikat globulin di dalam plasma, yaitu yg diikat transkortin dan kortisol total, ditingkatkan oleh estrogen endogen dan eksogen terutama kehamilan dan kontraseptif hormonal.
Terdapat variasi sirkadian yg jelas, nilai rujukan untuk kortisol plasma pd tengah malam adalah 50-280 nmol/l dari pada 09:00 adalah 200-700 nmol/l. glukokortikoid diekskresikan ke dalam urina, terutama dalam bentuk tereduksi dikonjugasi dengan asam glukuronat.

Hiperaktivitas adrenokortikal
Sekeresi hormone korteks adrenalis yg berlebihan bias berasal dari hyperplasia atau tumor korteks adrenalis dan bias sekunder terhadap peningkatan sekresi ACTH.
1. Sindroma Cushing.
Ini ditandai oleh peningkatan konsentrasi kortisol bebas yg bersirkulasi. Sering ia disertai dengan sekresi ACTH yg berlebihan oleh pituitaria anterior yg aktif secara berlebihan disertai dengan menghilangnya irama sikardian. Sindrom ini bisa disebabkan oleh tumor pituitaria yang mensekresikan ACTH atau oleh tumor adrenalis yg secara autonom mensekresikan kortisol secara berlebihan dengan penekanan sekresi ACTH.
2. Sindroma adrenogenital (hyperplasia adrenalis congenital)
Kesalahan metabolime bawaan yg lazim ini disebabkan oleh sekresi androgen berlebihan dan terlihat sebagai virilisme tanpa efek mental oleh glukokortikoid. Ia disebabkan oleh hambatan metabolic. Di dalam sintesa kortisol dari progesterone dan difisiensi kortisol yang bersirkulasi (umumnya normal rendah) menyebabkan sekresi ACTH berlebihan oleh tak adanya umpan balikinhibasi. Mungkin ada penyakit pseudo-addison disertasi difisiensi natrium, karena difisiensi sekresi kortisol dan aldosteron bila difisiensi enzim lebih lengkap.
3. Tumor
Biasanya tumor korteks adrenalis benigna atau maligna menimbulkan sindroma yang disertai campuran aspek metabolic dan varilisasi, salah satu mungkin dominant: sekresi ACTH tertekan. Pada umumnya tumor benigna menghasilkan 1 hormon (tetapi sering bukan endokrin), dan tumor maligna yang lain sering menghasilkan hormone.
4. Aldosteronisme primer (Sindroma Conn)
Terdapat tumor korteks adrenalis yg jarang dan kadang-kadang hyperplasia yang hanya menghasilkan aldosteron secara berlebihan dan menyebabkan aldosteronisme primer-sekresi yang tidak sesuai. Ini ditandai oleh hipokalemia (karena kehilangan kalium melalui urina dan usus) serta kelmahan otot; alkalosis, poliuria, HT dan umumnya ada retensi natrium.
Aldosteron sekunder bisa ditemukan pada keadaan dengan kehilangan natrium dari cairan ekstraseluler seperti SN, sirosis dan asites, payah jantung kongestif dan karena bermacam-macam diuretika. Pada keadaan ini lebih jarang terdapat hipokalemia serta aldosteron dan rennin plasma meningkat-sekresi sesuai.

Hipoaktivitas adrenokortikal
Hiposekresi sekunder kronika dari hormone korteks adrenalis mungkin akibat hipopituitarisme; biasanya kemudian terdapat gambaran hipopituitarisme lainnya, tetapi sekresi aldosteron dipertahankan sehingga kemudian keseimbangan natrium dan kaliaum sedikit berubah. Defesiensi ACTH spesifik dapat mengikuti pengobatan kortikostiroid berlebihan.
1. Insufisiensi adrenalis akuta
Ini bisa timbul pada penyakit Addison atau pada sindroma friderichsen waterhouse (perdarahan adrenalis pada septicemia meningokokal atau yang sejenis). Pada krisis addisonian, gambaran metabolic penyakit Addison berat, terutama hiponatremia dan hipotensi disertai urea plasma yang tinggi dan hipoglikemia.




Tes stimulasi dan supresi untuk fungsi adrenokortikoid
1. Tes tetrakosaktrin singkat
Prosedur standar cepat adalah mengukur respon kortisol plasma trhdp ponpeptida kortikotrotin sintetik,tetrakosaktrin (synacthen, Ciba).Interpretasi: pd org normal nilai dsr > 250nmol/l, dan terdapat penngkatan sekurang-kurangnya 300nmol/l di atas nilai dasar pada menit ke 30. pada sindroma cushing (hyperplasia) mungkin ada respon berlebihan; tumor adrenalis autonom tak berespon.
2. Tes tetrakosaktrin yang diperpanjang
Interpretasi: pada orang yang normal terdapat peningkatan kortisol plasma pada hari pertama sampai di atas 1400 nmol/l. pada penyakit Addison tak ada peningkatan walaupun sampai 3 hari, sedangkan pada hipofungsi adrenokortikal sekunder terhadap difisiensi pituitaria nilai ini bisa melebihi dari 700nmol/l setelah suntikan ke 3.
3. Tes supresi deksametason.
Interperetasi: pada orang normal kortikostiroid dan plasma tertekan pada dosis lebih rendah di bawah 50% nilai dasar. Pada deksametashon dalam dosis lebih rendah, pasien dengan sindroma cushing akan memperlihatkan tak adanya supresi tanpa memandang sebabnya, pada dosis lebih tinggi yang dengan hyperplasia mendapat supresi 50% atau lebih, sedangkan yang dengan adenoma atau karsinoma ataupun pembentukan ACTH ektopik tak dipengaruhi.
4. Tes metirapon
Interpretasi: orang normal memperlihatkan peningkatan nilai kortikostiroid urina sekurang-kurangnya 35umol/24jam dan peningkatan 2x lipat di atas kadar istirahat. Respon subnormal dengan adanya fungsi adreno atau pituitaria anterior. Sebagai tambahan, pasien dengan tumor korteks adrenalis autonom tak berespon.
5. Tes lainnya
Ini terutama digunakan dalam keadaan khusus dan harus mengikuti prosdur setempat. Ia mengikuti penggunaan hipoglikemia yang diinduksi insulin atau pirogen sebagai agen stress bagi hipotalamus melalui pusat yang lebih tinggi atau menggunakan lisin-vasopresin sebagai corticotrophin releasing factor sintetic untuk merangsang pituitaria anterior.

Sumber :

Materi Kuliah Patologi Klinik
Dosen : dr.Hatta Antemas


PROSES BELAJAR DALAM KEPERAWATAN KOMUNITAS

Kita sudah sangat mengenal dengan istilah belajar, bahkan hampir setiap kegiatan selalu ada aspek belajarnya. Ada kegiatan belajar misalnya belajar tentang Sejarah Perang Dunia. ada belajar membaca dan menulis, ada kegiatan belajar naik sepeda, belajar menebang pohon, belajar mendayung pcrahu, belajar renang dan lain-lain. Kalau begitu apa yang dimaksud dengan belajar ?
Usaha pemahaman mengenai pengertian belajar ini akan diawali dengan mengemukakan beberapa definisi tentang belajar. Ada beberapa definisi tentang belajar antara lain dapat didifenikana sebagai berikut ( Sardiman A M.,2000):
a. Cronbach mcmberikan definisi: "learning is shown by a change in behavior as a result of experience” (Belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman).
b. Harold Spears memberikan batasan : "Learning is to observe, to read, to imitate, to try something themselvs, to listen, to follow direction” (Belajar adalah dilakukan dengan mengamati, membaca, menirukan, mencoba. Mendengarkan meogikuti petunjuk dan pengarahan).
c. Geoch, mengatakan: "Learning is a change in performence as result of practice" (Belajar adalah perubahan pcnampilan sebagai hasil praktik).
Sementara itu menurut Gagne, belajar adalah proses di mana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat dari penagalaman.


Dari beberapa definisi di atas, maka dapat diterangkan bahwa belajar itu senantiasa merupakan perubahan ( change) tingkah laku (behavior) atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan, misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan meniru dan lain sebagainya. Juga belajar itu akan lebih baik, kalau si subyek belajar itu mengalaminya atau melakukannya, jadi tidak bersifat verbalistik.
Di samping definisi-definisi tersebut, ada beberapa pengertian lain dan cukup banyak, baik yang dilihat secara mikro maupun secara makro, dilihat dalam arti luas ataupun terbatas/khusus. Dalam pengertian luas, belajar dapat diartikan sebagai kegiatan psiko-fisik menuju ke perkembangan pribadi seutuhnya. Kemudian dalam arti sempit, belajar dimaksudkan sebagai usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya. Relevan dengan ini maka ada pengertian bahwa belajar adalah penambahan pengetahuan (Sardiman A M., 2000). Definisi atau konsep ini dalam praktek banyak dianut di sekolah-sekolah.
Selanjutnya ada yang mendefinisikan belajar adalah berubah ( NKK, 1979). Dalam hal ini yang dimaksudkan belajar berarti usaha mengubah tingkah laku. Jadi belajar akan membawa suatu perubahan pada individu-individu yang belajar. Perubahan ini tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak, penyesuaian diri. Jelasnya belajar menyangkut segala aspek organisme dan tingkah laku pribadi seseorang. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa belajar itu sebagai rangkaian kegiatan jiwa raga, psiko-fisik untuk menuju ke perkembangan pribadi manusia seutuhnya, yang berarti menyangkut unsur cipta, rasa dan karsa, ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sudah dikatakan di muka bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku. Orang yang tadinya tidak tahu setelah belajar menjadi tahu. Kalau begitu proses belajar senantiasa merupakan perubahan tingkah Iaku. dan terjadi karena pengalaman. Oleh karena itu dapat dikatakan, terjadi proses belajar apabila seseorang menunjukkan tingkah laku yang berbeda. Sebagai contoh, misalnya orang yang belajar itu dapat membuktikan pengetahuan tentang fakta-fakla baru atau dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya ia tidak dapat melakukannya. Jadi belajar menempatkan seseorang dari status abiiitas yang satu ke tingkat abilitas yang lain.

Pertanyaannya adalah bagaimana penerapan konsep belajar dalam keperawatan komunitas ?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut akan lebih baik kita mengingat kembali mengenai apa itu keperawatan komunitas, tujuan, sasaran, kebijaksanaan serta strategi yang diterapkan.

Keperawatan komunitas disebut juga Perawatan Kesehatan Masyarakat adalah suatu upaya pelayanan keperawatan yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang dilaksanakan oleh perawat dengan mengikut sertakan tim kesehatan lainnya dan masyarakat untuk memperoleh tingkat kesehatan yang lebih tinggi bagi individu, keluarga dan masyarakat.

Tujuan keperawatan secara umum adalah membantu klien baik sebaga individu, keluarga maupun masyarakat agar mampu melaksanakan kegiatan sehari-hari secara mandiri. Kemampuan setiap penduduk melaksanakan kegiatannya sehari-hari secara mandiri inilah sebenarnya sama artinya dengan mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal yang ingin dicapai dalam pembangunan kesehatan yang ditegaskan dalam S KN. Melihat tujuan di atas. ternyata bahwa pelayanan perawatan kesehatan masyarakat berperan dalam upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat seperti yang telah ditetapkan dalam SKN.
Oleh sebab itu tujuan pelayanan perawatan kesehatan masyarakat adalah :
a. Menunjang peningkatan fungsi puskesmas sebagai pusat pengembangan kesehatan masyarakat, pusat pembinaan peran serta masyankat dan sebagai pusat pelayanan kesehatan dalam mewujudkan kwalitas hidup yang lebih baik. Kwalitas hidup yang lebih baik ini ditandai, antara.lain dengan:
• Semakin menurunnya angka kematian bayi, anak balita dan ibu bersalin
• Semakin diterimanya norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera (NKKBS) oleh masyarakat.
• Terwujudnya masa tua yang bahagia dan berdaya guna dalam keluarga dan lingkungannya.
b. Membantu masyarakat mengenal sedini mungkin masalah kesehatan dan dapat menemukan serta menetapkan upaya penanggulangannya yang pada akhirnya masyarakat mampu mandiri dalam mengatasi masalah kesehatannya.
c. Membantu dan mendorong masyarakat berperan serta dalam upaya meningkatkan derajat kesehatannya.

Sasaran pelayanan perawatan kesehatan masyarakat adalah keluarga dengan prioritas sasaran ibu hamil, bayi dan anak melalui kegiatan penemuan kasus dini seperti ibu hamil dengan resiko tinggi, anak balita dengan gizi buruk, penderita penyakit menular atau penderita penyakit kronis. Sedangkan dalam rangka memelihara dan meningkatkan kesehatan kelompok usia lanjut, diselenggarakan perawatan kesehatan paripurna berkala diberbagai panti termasuk juga Panti Asuhan serta paguyuban masyarakat penyantun usia lanjut.

Kebijakan dalam pelaksanaan perawatan kesehatan masyarakat salah satunya adalah : Meningkatkan peran serta masyarakat dalam menunjang upaya kesehatan mellui kegiatan bimbingan atau pendidikan kesehatan sewaktu melaksanakan peleyanan perawatan kesehatan masyarakat baik dikeluarga maupun di institusi.

Strategi dalam melaksanakan program pelayanan perawatan kesehatan masyarakat adalah :
1. Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan tenaga pengelola perawatan kesehatan masyarakat Dati I dan Dati II serta tenaga pelaksana Puskesmas melalui kegiatan penataran maupun kegiatan konsultasai dan kegatan lain yang sesuai.
2. Meningkatkan kerjasama lintas program dan lintas sektor, antara lain melalui kegiatan temu karya baik melalui forum pertemuan tingkat kecamatan maupun tingkat Puskesmas,
3. Membantu masyarakat dalam upaya meningkatkan derajat kesehatannya melalui antara lain kegiatan pendidikan k esehatan kepada keluarga, mernberikan bimbingan tehnis dalam bidang kesehatan khususnya pelayanan perawatan.

Sesuai dengan pengertian dari belajar adalah proses perubahan perilaku/tingkah laku atau penampilan, dengan berbagai kegiatan seperti membaca, mengamati, mendengarkan, bahkan juga meniru maka di dalam keperawatan komunitas proses ini dapat diaplikasikan kepada petugas (perawat Komunitas) dan kepada klien (individu, keluarga dan masyarakat).
Konsep belajar pada perawat komunitas adalah perubahan peningkatan pengetahuan, dan keterampilan baik secara formal (sekolah, penataran/pelatihan) maupun non formal (pengalaman).
Konsep belajar pada klien adalah perubahan pengetahuan yang didapat dari pengalaman hidup (sehat dan sakit) serta melalui bimbingan atau pembinaan oleh petugas.
Contoh sederhana konsep belajar yang terjadi karena pengalaman adalah ketika terjadinya wabah diare yang kesekian kali pada suatu daerah maka konsep belajar yang dipakai oleh perawat komunitas adalah melakukan/meniru upaya yang terbaik dan berhasil dari kejadian-kejadian sebelumnya. Sedangkan untuk klien adalah akan lebih memahami kenapa wabah diare bisa terjadi berulang, setelah mengamati faktor-faktor penyebab wabah diare tersebut maka diharapkan selanjutnya akan melakukan perubahan perilaku dari yang tidak sehat menjadi perilaku sehat.
Cukup jelas bahwa konsep belajar sudah pasti diterapkan dalam keperawatan komunitas hal ini ditunjang oleh kebijaksanaan dan strategi dari pengembagan dan pelaksanaan keperawatan kesehatan masyarakat (keperawatan komunitas) melalui kegiatan pendidikan, pelatihan dan pembinaan serta pengalaman dari pelaksanaan perawatan kesehatan masyarakat tersebut.




Sumber :
1. Materi Pelatihan Terintegrasi Ilmu Pengetahuan Sosial, buku 1, Dep.Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Menengah, Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, Jakarta, 2004
2. Tata Laksana Perawatan Kesehatan Masyarakat,Dep.Kes RI, Jakarta, 1985


Senin, 05 Oktober 2009

KONSEP SOSIOLOGI DALAM KEPERAWATAN KOMUNITAS

A. Konsep Dasar Sosiologi

1. Pengertian
Pakar sosiologi berpendapat bahwa sosiologi sebagai lmu yang bertugas menyelidiki interaksi manusia yang memiliki pengaruh timbal balik dalam kehidupan masyarakat. Pendapat ini memandang sosiologi sebagai pengkajian terhadap sistem sosial secara sistimatis, jadi memiliki tujuan tertentu. Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa masalah yang menjadi pusat perhatian sosiologi adalah hubungan antar pribadi, kelompok manusia atau masyarakat sebagai keseluruhan.
Masyarakat manusia telah berumur sekitar 200.000- 90.000 tahun terhitung terjelmanya makhluk yang bemarga homo sapiens. Meskipun demikian pengetahuan tentang masyarakat yang ilmiah baru berumur sekitar seratus tahunan lebih.
Pemikiran-pemikiran tentang masyarakat telah lama dilakukan oleh berbagai aliran filsafat, baik filsafat Barat atau filsafat Timur. Filsafat social menggambarkan masyarakat atau negara yang umumnya secara normative.
Perilaku manusia paling sulit untuk dipahami , sebab perilaku manusia menyangkut lahir dan bathin orang lain, suatu perilaku yang mempunyai ciri individual dan sekaligus social.
Sejak renaissance cara berpikir tentang masyarakat mengalami perubahan. Orang-orang Eropa mengubah pandangan tentang perilaku social dan masyarakat.
Suatu revolusi mental berlangsung dan peran manusia sebagai individu dalam mengubah muka bumi dan mengatur masyarakatnya makin disadari
Akal dan cara berpikir manusia berkembang dengan sendirinya.
Proses perkembangan berlangsung tahap demi tahap yang merupakan proses alam yang tidak terelakkan dan tak terhentikan, yaitu tahap religius, tahap metafisik dan tahap positif.



2. Lingkup
• Norma-norma
• Kelompok-kelompok sosial
• Lapisan-lapisan dalam masyrakat
• Lembaga-lembaga kemasyarakatan
• Proses sosial
• Perubahan-perubahan sosial
• Kebudayaan serta perwujudannya
l
3. Karakteristik
• Sosiologi mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial setiap perubahan-perubahan sosial
• Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan kemasyarakatan yang katagoris, murni, abstrak, berusaha memberi pengertian-pengertian umum, rasional dan empiris
• Masa Auguste Comte dipakai sebagai patokan . karena pertama kali memakai istilah atau pengertian sosiologi
• Dalam mempelajari obyeknya sosiologi mempergunakan beberapa cara kerja atau netode-metode yang juga dikenal ilmu ilmu pengetahuan lainnya
• Pada mulanya sebagai akibat perkembangan sosiologi timbullah mazhab-mazhab sosiologi, kemudian penggolongan tersebut ditinggalkan dan kini yang populer adalah spesialisasi didalam ilmu sosiologi.
• Sosiologi bersifat empiris yang berarti bahwa ilmu pengetahuan tersebut didasarkan pada observasi terhadap kenyataan dan akal sehat serta hasilnya tidak bersifat spekulatif
• Sosiologi bersifat teoritis, yaitu ilmu peogetahuan tersebut selalu berusaha untuk menyusun abstraksi dari hasil-hasil obsenasi. Abstraksi tersebut merupakan kerangka daripada unsur-unsur yang tersusun secara logis serta bertujuan untuk menjelaskan hubungan- hubungan sebab akibat, sehingga menjadi teori.
• Sosiologi bersifat kumulatif yang berarti bahwa teori-teori sosilogi dibentuk atas dasar teori-teori yang sudah ada dalam arti memperbaiki, memperluas serta memperhalus teori-teori yang lama
• Sosiologi bersifat non-ethis, yakni yang dipersoalkan bukanlah buruk-baikrya fakta tertentu, akan tetapi tujuannya adalah untuk menjelaskan fakta tersebut.

4. Manfaat
Aspek-aspek sosiologi dapat dimanfaatkan pada:
a. Perencanaan sisitem komunikasi massa untuk mengetahui strutkur sosial dan proses sosial yang dihadapi dengan mengadakan identifikasi terhadap :
• Strukrur kelompok-kelompok di dalam masyarakat
• Kebudayaan
• Lembaga-lembaga sosial yang pokok
• Stratifikasi sosial
• Struktur kekuasaan yang ada
• Pola-pola interaksi sosial yang berlaku
b. Penerapan sistem komunikasi massa, di mana dengan penggunaan sosiologi dapat diketahui perihal perubahan-perubahan sosial yang terjadi
c. Penilaian kembali dari sistem komunikasi massa yang telah diterapkan yang secara sosiologis dapat dilihat pada derajat pelembagaannya
Dalam proses pembangunan yang dewasa ini sedang giat-giatnya dilaksanakan oleh bangsa Indonesia sosiologi mempunyai keguanaan sebagai berikut :
a. Tahap perencanaan untuk mengidentifkasisi :
• Kebutuhan-kebutuhan sosial
• Pusat perhatian sosial
• Stratifikasi sosial
• Pusat-pusat kekuasaan
• Sistem dan saluran-saluran komunikasi sosial
b. Tahap pelaksanaan
• Identifikasi terhadap kekuatan-kekuatan sosial dalam masyarakat
• Pengamatan terhadap perubahan-perubahan sosial yang terjadi
c. Tahap evaluasi
• Analisa terhadap efek-efek sosial dari pembangunan

.

B. Konsep Dasar Keperawatan Komunitas

1. Pengertian.

Dari judul di atas terdapat 3 (tiga) kata, yaitu perawatan, kesehatan dan masyarakat yang perlu dijelaskan satu persatu sebagai berikut :
a. Perawatan adalah suatu pelayanan essensial yang diberikan oleh perawat berdasarkan cinta kasih kepada individu, keluarga dan masyarakat baik yang sehat maupun yang mempunyai masalah kesehatan, dalam upaya mencapai derajat kesehatan yang optimal Upaya pelayanan perawatan tersebut mencakup promotif (peningkatan). preventif (pencegahan), kuratif (penyembuhan) dan rehabilitatif (pemulihan). Secara garis besar yang dimaksudkan dengan:
• Promotif adalah upaya yang berkaitan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam bidang kesehatan sehingga dapat merubah tingkah lakunya yang kurang sesuai dengan kesehatan menjadi sesuai, bahkan mendukung serta dilibatkan dalam kegiatan kesehatan yang diselenggarakan di lingkungannya.
• Preventif adalah upaya yang berkaitan untuk memberikan perlindungan kepada penduduk, agar tidak diserang atau menderita suatu penyakit tertentu Upaya ini dapat dilakukan antara lain dengan memberikan immunisasi.
• Kuratif adalah upaya menyembuhkan seseorang dari suatu penyakit yang dideritanya Upaya tersebut dapat dilakukan antara lain dengan memberikan pengobatan, operasi (pembedahan)
• Rehabilitatif adalah upaya untuk memulihkan keadaan sisakit, sehingga mampu menolong dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain. Upaya ini dapat dilakukan dengan memberikan latihan seperti latihan duduk, berdiri, berjalan, menggerakkan anggauta tubuhnya sehingga dapat berfungsi kembali seperti sediakala.
b. Kesehatan
Kesehatan adalah suatu keadaan yang utuh serta dinamis dalam siklus kehidupan, sehingga manusia dapat berfungsi dan menyesuaikan diri secara terus menerus terhadap perubahan yang timbul, untuk memenuhi kebutuhan essensial dalam hidupnya sehari-hari. Apabila terjaadi gangguan terhadap salah satu taktor dapat pula menyebabkan terjaadinya gangguan keseimbangan faktor lainnya yang menyebabkan terjadinya keadaan tidak sehat walaupun tidak terdapat penyakit ataupun kelainan patologis. Persepsi seseorang terhadap keadaan sehat tidak sama. Tergantung pada latar belakang pendidikan dan budayanya.
Dari uraian di atas, dapat dikatakan bahwa sakit merupakan keadaan yang tidak seimbang dari seseorang sebagai akibat adanya pengaruh luar atau dari dalam diri manusia itu sendiri.
c. Masyarakat
Masyarakat adalah sekelompok manusia yang bekerja sama dalam kurun waktu yang cukup lama, sehingga merupakan organisasi yang mempunyai batas-batas tertentu.
Satuan terkecil dari masyarakat disebut keluarga. Setiap masyarakat mempunyai ciri-ciri tertentu yang dicerminkan oleh keluarga yang merupakan bagian dari masyarakat tersebut.
Dari uraian di atas, pada dasarnya pengertian Perawatan Kesehatan Masyarakat adalah kegiatan pelayanan yang memadukan ilmu dan seni perawatan dengan kesehatan masyarakat, untuk memenuhi kebutuhan kliennya akan pelayanan kesehatan baik sebagai individu, keluarga dan masyarakat dalam lingkungan tertentu. Pelayanan keperawatan yang diberikan berbentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang diselenggarakan melalui Puskesmas dan Rumah Sakit seperti yang dikembangkan dalam Sistem Kesehatan Nasional.
Selanjutnya dari pengertian diatas, dapat dikemukakan bahwa, pelayanan
keperawatan yang diselenggarakan mencakup unsur kesehatan masyarakat, yaitu peningkatan, pcncegahan, penyembuhan dan pemulihan.
Dengan demikian dalam memberikan pelayanan keperawatan harus pula memperhatikan dan memperhitungkan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan klien. Faktor-faktor tersebut adalah :
a. Faktor lingkungan, yaitu lingkungan sosial budaya. fisik dan biologik dimana keluarga tumbuh dan berkembarg.
b. Faktor perilaku dari keluarga, baik sebagai satu kesatuan terkecil dalam masyarakat maupun perilaku dari tiap individu yang menjadi anggauta keluarga tersebut.
c. Faktor pelayanan kesehatan termasuk pelayanan keperawatan. Terutama pelayanan kesehatan keluarga baik sebagai upaya pelayanan swadaya masyarakat dan keluarga itu sendiri.
d. Faktor keturunan, yaitu sifat genetika yang ada dan diturunkan kepada keluarganya.

2. Tujuan.
Tujuan pelayanan perawatan kesehatan masyarakat adalah :
a. Menunjang peningkatan fungsi puskesmas sebagai pusat pengembangan kesehatan masyarakat, pusat pembinaan peran serta masyankat dan sebagai pusat pelayanan kesehatan dalam mewujudkan kwalitas hidup yang lebih baik. Kwalitas hidup yang lebih baik ini ditandai, antara.lain dengan:
• Semakin menurunnya angka kematian bayi, anak balita dan ibu bersalin
• Semakin diterimanya norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera (NKKBS) oleh masyarakat.
• Terwujudnya masa tua yang bahagia dan berdaya guna dalam keluarga dan lingkungannya.
b. Membantu masyarakat mengenal sedini mungkin masalah kesehatan dan dapat menemukan serta menetapkan upaya penanggulangannya yang pada akhirnya masyarakat mampu mandiri dalam mengatasi masalah kesehatannya.
c. Membantu dan mendorong masyarakat berperan serta dalam upaya meningkatkan derajat kesehatannya.

3. Sasaran.
Sasaran dari pelayanan perawatan kesehatan masyarakaat adalah individu, keluarga dan masyarakat sebagai suatu kesatuan sistem, Namun
demikian sejalan dengan pencapaian sasaran pembangunan di bidang keesehatan prioritasnya diarahkan kepada bayi, anak balita dan ibu hamil.Telah disebutkan di atas bahwa individu, keluarga dan masyarakat sebagai suatu kesatuan sistem. Ini berarti pelayanan perawatan yang diberikan tidak hanya terbatas pada individu saja, tetapi mencakup pula anggauta keluarga lainnya yang berada dalam keluarga termasuk keluarga-keluarga disekelilingnya. Seperti dikelahui bahwa kesehatan individu keluarga, sallng mempengaruhi terhadap kesehatan anggauta keluarga lainnya.
Tepat kiranya motto "Health began at home". Sehubungan dengan sasaran di atas, maka dalam menyelenggarakan pelayanan perawatan kesehatan masyarakat, perlu diperhatikan hal-hal berikut :
a. Klien yang dilayani adalah "manusia" yang merupakan makhluk biopsiko-sosio-kultural dan spiritual yang utuh dan unik. Ia mempunyai kebutuhan yang bermacam-macam sesuai dengan tingkat perkembangannya. Untuk itu tenaga perawatan dalam menberikan pelayanan. harus memperlakukan kliennya sebagai manusia seutuhnya dengan pendekatan komprehensif. Tenaga perawatan harus mampu mengidentifikasi, mengkaji kebutuhan klien, mengembangkan kemampuannya dan menolong untuk mengatasi keterbatasannya dalam menggunakan sumber daya guna memenuhi kebutuhannya.
b. Klien beserta factor-faktor yang mempengaruhi kesehatannya yang dihadapi oleh pelaksana pelayanan keperawatan tidak sama dan jarang berbentuk kejiadian yang berulang. Dengan demikian bagi tenaga keperawatan hal tersebut akan merupakan pengalaman belajar secara terus nenerus. Kehidupan masyarakat merupakan pelaiaran dan pengalaman yang tiada akhirnya dan selalu mempunyai ciri yang berbeda-beda. Untuk itu tenaga keperawatan harus peka, tanggap,mampu dan tepat dalam menetapkan jalan keluar untuk menanggulangi masalah yang dihadapi yang sulit diperkirakan sebelumnya.


C. Konsep Sosiologi Dalam Keperawatan Komunitas.

Kehidupan manusia pada hakikatnya adalah sebuah sistem. Masing-masing aspek sebenarnya saling kait mengkait dan menunjukkan adanya proses sebab-akibat, Sebagai contoh di suatu masyarakat sedang terjadi wabah peyakit diare. Pertanyaanya adalah mengapa terjadi wabah penyakit tersebut ? Jawabnya : karena di daerah tersebut terjadi bencana banjir, sehingga penduduk kesulitan air bersih dan fasilitas-fasilitas kebutuhan sehari-hari yang tidak sehat. Timbul pertanyaan lagi, mengapa banjir ? Karena hutan-hutan ditebangi, dan begitu seterusnya, pertanyaan-pertanyaan yang terkait ruang dan waktu. Peristiwa sosial ini juga dilatarbelakangi dan menimbulkan dampak dalam bidang sosial, ekonomi, etika dan moralias.
Dengan ilustrasi contoh di atas bahwa setiap fenomena kehidupan manusia itu sebenarnya menyangkut berbagai asfek yang saling terkait, ada yang langsung adan ada yang tidak langsung. Pertanyannya adalah bagaimana penerapan konsep sosiologi dalam keperawatan komunitas ? Penerapan konsep sosiologi dalam keperawatan komunitas menuntut seorang perawat komunitas berkemampuan berpikir matang untuk menghadapi dan memecahkan masalah sosial yang berhubungan dengan kesehatan di masyarakat, menyadari bahwa sakit adalah merupakan suatu fenomena sosial, yaitu :
1. Sakit bukan hanya permasalahan masuknya bakteri, virus kedalam tubuh kita, atau tidak berfungsinya organ-organ tubuh akaibat masuknya benda luar ke dalam tubuh. Sakit juga memiliki implikasi sosial (person, 1951).
2. Penyakit merupakan pelepasan dari tekanan yang tak tertahankan, penyakit membantu untuk menanggung kegagalan pribadi, sakit dapat digunakan untuk memperoleh perhatian, masuk rumah sakit dapat dianggap sebagai liburan., penyakit dapat digunakan sebagai alat kontrol sosial., penyakit dapat dijadikan alat untk menghapus perasaan berdosa (Foster, 1986).
Masyarakat di dalam konsep sosiologi merupakan subyek dan sekaligus obyek yang harus dipelajari. Sedangkan di dalam keperawatan komunitas maka masyarakat merupakan sasaran pelayanan keperawatan. Cukup jelas bahwa ketika menerapkan pelayan keperawatan kesehatan masyarakat (Komunitas) maka seorang perawat komunitas haruslah memahami tentang konsep sosiologi sehingga dalam memerikan asuhan dapat terlaksana secara optimal. Tujuan dengan dipelajarinya konsep sosiologi (Awan Mutakim dalam Pendidikan Ilmu Sosial, Depdikbud, 1997/1998), adalah :
1. Memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau lingkungannya, melalui pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan kebudayaan masyarakat.
2. Mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan metode yang diadaptasi dari ilmu-ilmu sosial yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial.
3. Mampu menggunakan model-model dan proses berpikir serta membuat keputusan-keputusan untuk menyelesaikan isu dan masalah yang brkembang di masyarakat.
4. Menaruh perhatian terhadap isu-isu dan masalah-masalah sosial, serta mampu membuat analisis yang kritis, kemudian mampu mengambil tindakan yang tepat.
5. Mampu mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu membangun diri sendiri agar survive yang kemudian bertanggung jawab membangun masyarakat.
Karena sakit adalah merupakan salah satu fenomena sosial dan sakit juga merupakan permasalahan dalam kesehatan maka tujuan dari dipelajarinya konsep sosiologi di dalam Ilmu Pengetahuan Sosial tersebut secara langsung dan tidak langsung berlaku juga penerapannya di dalam kesehatan khususnya untuk pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat (keperawatan komunitas).
Hubungan lain dari konsep sosiologi di dalam kepeerawatan keperawatan komunitas, sosiologi bermanfaat untuk dapat memberikan data sosial pada tahap-tahap perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi proses keperawatan. Begitu juga dalam bidang penelitian, sosiologi bermanfaat bagi perencanaan sistem komunikasi massa, penerapannya, maupun penilaian proses tersebut.
Kegunaan lain dari sosiologi adalah membantu memecahkan berbagai permasalahan sosial dengan menggunakan metode preventif dan represiv. Hal ini sangat erat kaitannya dengan pendekatan keperawatan komunitas saat ini yaitu pada pendekatan promotif dan preventif tampa mengabaikan pendekatan kuratif dan rehabilitatif.
Untuk dapat mempelajari keadaan masyarakat sudah barang tentu harus mempelajari ilmu tentang kehidupan manusia, seperti sosiologi, antropologi dan ekologi. Oleh sebab itu perawatan kesehatan masyarakat erat hubungannya dengan ilmu-ilmu tersebut, disamping ilmu perawatan dan kesehatannya sendiri.



Sumber :
1. Materi Pelatihan Terintegrasi Ilmu Pengetahuan Sosial, buku 1, Dep.Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Menengah, Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, Jakarta, 2004
2. Buku Paket Perawatan Kesehatan Masyarakat Bagi Pekarya Kesehatan Puskesmas, Pusat Pendidikan dan Latihan Pegawai Dep.Kes RI, Jakarta, 1986
3. Catatan Kuliah ISOSPOL, STIKes Muhammadiyah Banjarmasin, 2009, Doses : Qomarudin Sukri

MOTIVASI ANAK DAN PRESTASI BELAJAR

A. Anak

Anak adalah manusia yang mulai lahir sampai dengan usia 18 tahun yang mempunyai ketergantungan pada manusia dewasa disekitarnya dan belum pernah kawin.. Anak bukanlah dewasa kecil, tetapi merupakan sosok individu yang unik dengan berbagai kebutuhan khusus sesuai tingkat tumbuh kembang. Tahap Tumbuh kembang anak meliupti :
1. Periode : Embrionik ( 2 – 8 minggu ), Janim ( 8 minggu – 40 minggu/lahir)
2. Periode Bayi : Neonatus (lahir – 28 hari), bayi (1 – 12 bulan)
3. Peride kanak-kanak awal : Toddleer/batita (1-3 tahun), Prasekolah (3-6 tahun).
4. Periode paruh kanak : Anak sekolah (6-12 tahun )
5. Periode kanak-kanak akhir : Prepubertas (10 – 13 tahun ), Remaja (13 – 18 tahun).
Anak merupakan keturunan yang dilahirkan, manusia yang belum dewasa atau masih kecil (Habeyb, S.F, 1983 : 33). Anak merupakan amanat Allah SWT yang oleh orang tuanya wajib dididik hingga menjadi anak yang shaleh. Pendidikan diartikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang, dalam usaha mendewaskan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.(Kamus Besar Bahasa Indonesia)
Oleh karena sikap yang baik harus dipelajari, maka pendidikan dan bimbingan sikap ini perlu dan harus. Sejak dari dalam keluarganya sudah harus diperhatikan pendidikan disekolah dan dalam pergaulan. Memang tidak mudah hal ini dilaksanakan bila pihak sipendidik, yaitu orang tua, guru, pemimpin-pemimpin masyarakatnya tidak atau belum menguasai sikap yang baik itu. Latihan penguasaan sikap baik hanya dapat diberikan melalui pengalaman, melalui tauladan, dan hanya sedikit sekali melalui teori. Kebiasaan merupakan hal yang mendasari penguasaan sikap itu sehingga sebelum sesuatu merupakan kebiasaan, perlu dipilihkan kebiasaan-kebiasaan yang baik-baik saja.






B. Kecerdasan Anak
Sudut pandang setiap orang dalam mendefinisikan kecerdasan berbeda-beda. Definisi kecerdasan muncul dari berbagai teori para ahli. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kecerdasan identik dengan intelegensi dan didefinisikan sebagai kesempurnaan perkembangan akal budi, seperti kepandaian dan ketejaman pikiran. Seorang pakar kecerdasan, Renzeeli menghubungkan kecerdasan anak dengan kemampuan umum, kreativitas dan motivasi diri. Seorang pakar kecerdasan lainnya, Czeizel menambahkan bakat dalam satu bidang dari definisi Renzeeli.
Sementara Robert T. Kiyosaki, penulis buku best seller : Rich Kid Smart Kid, mendefinisikan kecerdasan adalah kemampuan seseorang membuat distingsi (perbedaan) yang lebih baik. Semakin baik seseorang dapat membuat distingsi, kecerdasannya semakin baik. Kemampuan setiap orang untuk melihat distingsi tidak sama. Oleh sebab itu, setiap orang tua harus dapat melihat kemampuan anaknya dalam membuat distingsi, kemudian mendukung dan mengarahkannya untuk dikembangkan dalam kehidupannya. Kiyosaki memang bukan psikolog atau pendidik, tetapi dari pengalaman hidupnya, ia dapat mengambil kesimpulan ini berdasarkan kesuksesan yang dialaminya.
Selanjutnya, muncul teori terakhir yang banyak di bicarakan orang akhir-akhir ini yang disebut multi-intelegence. Teori yang dikembangkan oleh Howard Gardner, psikolog perkembangan lulusan Harvard University Amerika Serikat memformulasikan 7 jenis kecerdasan. Dalam bukunya berjudul Frames of Mind (1983) disebutkan bahwa kecerdasan dibagi dalam kecerdasan linguistik, kecerdasan logika-matematika, kecerdasan kinestetik, kecerdasan spasial, kecerdasan bermusik, kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal. Bahkan, belakangan ia menambahkan 2 kecerdasan lagi yaitu kecerdasan naturalis dan eksistensialis.
Teori Gardner ini menjelaskan bahwa setiap anak mempunyai semua kecerdasan tersebut. Namun, hanya satu atau dua kecerdasan tersebut yang berkembang dalam diri anak. Selain itu menurut Gardner, tidak ada dua orang yang memiliki profil kecerdasan yang sama. Semua ini akibat pengaruh genetik dan lingkungan yang berbeda pada setiap anak.


C. Presatasi Belajar

Prestasi belajar merupakan suatu rangkaian penilaian atas hasil aktivitas belajar dalam kegiatan pengajaran pada waktu tertentu, baik berupa pengukuran kuantitatif maupun kualutatif.
Prestasi belajar terdiri dari kata presatasi dan belajar. Prestasi adalah apa yang telah dapat diperoleh dengan jalan keuletan bekerja atau hasil karya yang dicapai (Habeyb, S.F, 1983 : 296). Sedangkan belajar menurut Drs.Slameto adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
James O. Whittaker, merumuskan belajar sebagai proses di mana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.
Cronbach berpendapat bahawa learning is shown by change in behavior as a result of experience. Belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.
Dari beberapa pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa prestasi belajar adalah suatu hasil yang diperoleh dalam aktivitas belajar baik berupa penilaian angka-angka (kuantitatif) maupun penilaian kata-kata (kualitatif) pada waktu tertentu.
Prestasi sebagai hasil belajar merupakan salah satu unsur interaksi belajar mengajar yang harus dimiliki sekaligus untuk membangkitkan gairah belajar dengan mengoptimalkan seluruh potensi yang dimilikinya. Jadi hubungan antara prestasi dengan belajar adalah secara sederhana dapat dikatakan dengan berusaha atau belajar akan didapatkan hasil yang akan dicapai sesuai dari usaha belajarnya atau dengan kata lain prestasi merupakan hasil dari upaya belajar sedangkan belajar merupakan salah satu bentuk kegiatan untuk mendapatkan prestasi yang lebih baik.

D. Motivasi
Motivasi adalah dorongan (baik sadar atau tidak) untuk melakukan sesuatu dengan tujuan tertentu, sedangkan motivator adalah pendorong untuk menimbulkan motivasi seseorang (Habeyb, S.F, 1983 : 415). Anak haruslah mempuyai motivasi di dalam kehidupannya. Motivasi yang muncul guna mencapai prestasi belajar juga tidak terlepas dari masa tumbuh kembang anak dan kecerdasan yang dimiliki anak. Adapun motivator yang mungkin meningkatkan motivasi/memotivasi anak dalam mencapai prestasi belajarnya, yaitu :
1. Pertemuan di kelas
Proses belajar merupakan kegiatan yang terencana.Bila pada awal temu kelas anak/siswa telah menyiapkan diri sebelumnya maka mahasiswa telah mempunyai pengetahuan awal yang cukup memadai. Dengan demikian fungsi kelas akan menjadi sarana untuk lebih memahami apa yang sebelumnya meragukan. Dengan penjelasan seperlunya dari instruktur, anak/siswa akan dengan segera dan mudah menangkap apa yang dijelaskan atau yang didiskusi di kelas. Tingkat pemahaman akan meningkat dengan cukup pesat karena penjelasan guru fungsinya hanyalah untuk memperkuat apa yang sudah dipahami anak/siswa.
Bila siswa tidak menyiapkan diri dan masuk kelas dalam keadaan kosong pikirannya maka pemahaman akan menjadi terhambat atau bahkan tidak ada proses pemahaman sama sekali karena guru/instruktur tidak lagi menjelaskan segala masalah secara rinci dan runtut. Setelah temu kelas selesai, tentu saja pemahaman akan menjadi berkurang karena berlalunya waktu. Akan tetapi, penurunan pemahaman pada siswa yang sebelumnya telah belajar tidak akan securam penurunan pemahaman siswa yang tidak belajar sama sekali. Hal ini disebabkan siswa belajar lagi untuk pemahaman topik berikutnya sementara itu topik yang sebelumnya dipelajari ikut menjadi lebih diperkuat lagi oleh materi berikut yang mengacu pada materi sebelumnya. Siswa yang masuk kelas dengan pikiran kosong akan memperoleh pemahaman yang rendah dan samar-samar dan begitu keluar dari kelas pemahaman yang sedikit dan samar-samar tersebut akan segera hilang. Topik berikutnya, yang memerlukan pemahaman topik sebelumnya, akan menjadi lebih sulit untuk dipahaminya dan akhirnya siswa cenderung untuk menghafal saja topik tanpa penalaran dan pemahaman.
Kesepakatan (commitment) antara guru dan siswa dalam bentuk rencana/program belajar dan silabus merupakan keharusan dalam penyelenggaraan pendidikan. Dengan adanya kesepakatan tersebut sebenarnya tersirat bahwa guru dan siswa harus memegang buku materi dan acuan yang sama (paling tidak ada buku dan acuan lain yang selalu harus dibawa dan digunakan bersama di kelas). Dengan demikian, temu kelas akan diartikan sebagai ajang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman (to share the knowledge and experiences) antara guru dan siswa. Paling tidak temu kelas harus merupakan ajang konfirmasi pemahaman siswa terhadap materi pengajaran yang sudah jelas sumbernya dengan pemahaman dan pengalaman guru terhadap materi yang sama.

2. Pengalaman Belajar atau Nilai
Nilai yang diperoleh peserta didik mempunyai fungsi ganda, sebagai ukuran keberhasilan peserta didik dalam mempelajari mata pelajaran dan sekaligus sebagai alat evaluasi keberhasilan mata pelajaran itu sendiri. Dalam kenyataannya, fungsi yang kedua sering diabaikan sama sekali walaupun makna fungsi yang pertama sebenarnya sangat tergantung kemampuan nilai untuk merefleksi apakah peserta telah menjalani proses belajar yang semestinya. Dalam hal tertentu, nilai yang diperoleh siswa memang merupakan indikator kesuksesan siswa dalam menempuh pelajaran tetapi mungkin bukan merupakan ukuran keberhasilan pencapaian tujuan atau sasaran pengajaran mata pelajaran dalam mengubah pengetahuan, perilaku atau kepribadian siswa termasuk penalarannya. Dalam hal inilah nilai ujian sebagai ukuran keberhasilan harus dipertimbangkan validitasnya. Bagi siswa yang mempunyai tujuan individual yang jelas, tentunya nilai bukan merupakan tujuan tetapi lebih merupakan suatu konsekuensi logis dari apa yang dilakukannya selama mengikuti proses belajar. Oleh karena itu, pertanyaan yang sangat fundamental bagi siswa sejati adalah apakah mereka belajar untuk nilai atau belajar untuk tahu.
Masalah pengendalian belajar yang perlu dipikirkan adalah manakah yang dianggap lebih penting dalam proses belajar: proses belajarnya atau nilainya. Keputusan mengenai hal ini akan mempengaruhi sikap dan perilaku guru dan siswa dalam proses belajar-mengajar. Bila penyelenggaraan pelajaran memungkinkan seorang siswa dapat memperoleh nilai tinggi tanpa siswa tersebut mengalami atau menjalani proses belajar yang semestinya maka mata pelajarana dan proses belajarnya sebenarnya belum mengajarkan apa-apa kepada siswa.
Bila proses belajar dianggap hal yang penting daripada sekadar nilai ujian (dan inilah sebenarnya jasa yang ditawarkan oleh lembaga pendidikan kepada masyarakat) maka pengendalian proses belajar harus menjadi perhatian utama. Kesepakatan mengenai bagaimana proses belajar-mengajar akan dilaksanakan perlu disampaikan kepada siswa. Persepsi siswa yang keliru mengenai hal ini akan menyebabkan siswa merasa frustrasi menjalankan proses belajar.

3. Konsepsi Tentang Guru
Telah disebutkan bahwa dalam proses belajar mengajar yang semestinya, guru bukan merupakan sumber pengetahuan utama bahkan hanya satu-satunya sumber. Dalam proses belajar mengajar yang efektif, guru semestinya harus dipandang sebagai seorang manajer kelas. Sumber pengetahuan utama adalah buku, perpustakaan, artikel dalam majalah, hasil penelitian, dan media cetak atau audio-visual lainnya (termasuk pengalaman guru tentunya). Sekali lagi, guru mendapat tugas untuk memegang suatu kelas karena yang bersangkutan telah mengalami proses belajar tertentu dan telah memperoleh pengalaman pengalaman berharga (termasuk pengalaman praktik dan penelitian) yang mungkin perlu disampaikan kepada mereka yang akan menjalani proses belajar yang sama. Dengan demikian siswa yang akan menjalani dan mengalami proses yang sama akan memperoleh pengetahuan yang sama (atau bahkan diharapkan lebih) dengan cara yang lebih efektif dan tidak perlu membuat kesalahan yang sama.
Jadi, guru harus dipandang sebagai manajer kelas dan merupakan nara sumber (resource person) proses belajar. Dalam teknologi pendidikan, dikatakan bahwa guru bertindak sebagai director, facilitator, motivator, dan evaluator proses belajar. Guru menetapkan sumber pengetahuan apa saja yang harus dipelajari secara mandiri oleh siswa dalam bentuk silabus atau program belajar, siswa menjalani program belajar tersebut dan guru mengendalikan proses belajar siswa.

4. Kemandirian dalam Belajar
Telah disebutkan di atas bahwa belajar sebenarnya merupakan kegiatan individual dan berlanjutan. Di mata siswa, proses belajar mengajar yang sekarang berjalan pada umumnya belum dipandang sebagai proses belajar mandiri. Hal ini ditunjukkan dengan adanya ketidakmampuan siswa dalam mengungkapkan gagasan dan menemukan suatu gagasan atau masalah untuk bahan penulisan makalah atau tulisan lainnya. Hal ini mungkin disebabkan proses belajar di kelas sampai tingkat akhir terlalu banyak ditekankan pada aspek doing tetapi kurang penekanan pada aspek thinking/reasoning. Apa yang diajarkan di kelas lebih banyak berkaitan dengan masalah diketahui-hitung-hitungan atau berkaitan dengan bagaimana mengerjakan sesuatu tetapi bukan mengapa demikian dan apa implikasinya.
Dalam banyak hal, guru bahkan cenderung mengisolasi (tidak memberitahu) gagasan-gagasan alternatif yang berbeda (apalagi yang kontroversial) dengan apa yang diajarkan atau dipraktikkan (berlaku) dengan dalih agar siswa tidak bingung dalam praktik tetapi sementara itu guru menuntut siswa agar berpikir kreatif dan inovatif (dan suka bertanya). Dalam kondisi yang kontradiktif yang mengarah ke isolasi ini (analogi dengan pemasangan kaca mata kuda), siswa akan cenderung untuk mengoptimalkan dirinya dengan menerima saja apa yang diajarkan. Akibatnya fiksasi fungsional tertanam dalam diri siswa yang pada gilirannya akan menumbuhkan sikap resistensi yang tinggi terhadap perubahan.
Kemandirian belajar sering juga menjadi terhambat karena aspek berpikir dan bernalar banyak diambil alih oleh guru, baik pada tahun pertama maupun tahun-tahun berikutnya sampai tingkat akhir. Banyak kegiatan yang sebenarnya merupakan kegiatan mandiri (baik thinking maupun doing) diambil alih oleh guru. Ibarat memakan buah apel, guru mengunyahkan buah tersebut sampai siap ditelan dan siswa tinggal menelannya. Proses semacam ini sebenarnya merupakan proses pembebalan dan bukan proses penajaman pikiran.
Kemandirian belajar adalah hasil suatu proses dan pengalaman belajar itu sendiri. Kalau proses belajar tidak memberi pengalaman bahwa belajar merupakan suatu kegiatan individual maka perilaku mandiri dalam belajar akan tetap merupakan impian. Masalahnya adalah kapan pengalaman kemandirian harus ditanamkan kepada peserta didik.
Kemandirian belajar harus dimulai sejak pertama kali siswa memasuki sekolah. Hal ini dimungkinkan kalau terdapat buku pegangan yang memadai yang dapat dijadikan pegangan bersama antara guru dan siswa. Sekali lagi, perilaku mandiri akan terbentuk kalau kelas tidak diisi dengan hal-hal yang sebenarnya siswa mampu untuk melakukan sendiri dengan petunjuk seperlunya dari guru. Di samping itu, siswa harus punya keyakinan bahwa guru bukan sumber pengetahuan utama. Sumber pengetahuan utama tersedia di perpustakaan dan di media cetak atau audiovisual lainnya. Kemandirian merupakan sikap yang terbentuk akibat rancangan proses belajar yang cermat. Sikap/perilaku mandiri merupakan sikap yang sengaja dibentuk dan bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya.
Agar kemandirian dapat terbentuk, tugas guru adalah mengarahkan, memotivasi, memperlancar dan mengevaluasi proses belajar mandiri siswa sehingga temu kelas akan diisi dengan hal-hal yang bersifat konseptual dan temu kelas akan merupakan ajang konfirmasi pemahaman siswa terhadap materi dan tugas yang harus dikerjakan di luar jam temu kelas. Di lain pihak, siswa dituntut untuk mengerjakan sendiri hal-hal yang sebenarnya mereka mampu untuk mengerjakan dengan petunjuk seperlunya dari guru. Dengan demikian, guru akan banyak dapat menyampaikan kearifan (wisdom) daripada sekedar masalah teknis sehingga temu kelas akan mempunyai nilai tambah yang tinggi.

5. Konsep Memiliki Buku
Buku merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari belajar. Buku merupakan sumber pengetahuan. Hal yang sering kurang disadari mahasiswa adalah bahwa memiliki buku lain sekali artinya dengan memiliki kertas bergambar huruf. Lebih menarik lagi adalah bahwa memiliki buku belum merupakan suatu sikap atau budaya kita. Kurangnya minat untuk memiliki buku mungkin timbul karena anggapan bahwa guru dan mata pelajaran merupakan sumber pengetahuan utama. Tentu saja pemilihan buku yang dianggap memadai merupakan keputusan strategik (dan dalam hal tertentu juga politis) penyelenggara atau pengelola pendidikan.
Buku adalah sumber pengetahuan yang harus dibaca, ditulisi, dicorat-coret, ditempeli artikel dan "diajak berdialog" sehingga buku tersebut akan menjadi bagian dari pribadi seseorang. Kalau buku yang dibeli tetap bersih dan tidak pernah diajak dialog maka seseorang sebenarnya hanya memiliki kertas bergambar garis dan huruf dan seandainya buku tersebut hilang maka tidak ada rasa kehilangan apapun karena buku yang sama dapat segera dibeli di toko buku. Lain halnya kalau buku tersebut telah dibaca dan dipahami serta diberi tanda-tanda khusus pada bagian-bagian yang dianggap penting dan menarik, maka apabila buku tersebut hilang maka seseorang akan merasa seperti kehilangan seorang kekasih. Sementara itu, ada juga yang membeli buku kemudian memberinya sampul dan membuka dan membacanya secara hati-hati agar buku tersebut tidak rusak dengan harapan setelah selesai digunakan untuk menempuh suatu kuliah buku tersebut sengaja akan dijual kembali (seperti di AS).

6. Kemampuan Berbahasa
Kemampuan berbahasa dan menggunakan bahasa sebagai alat ekspresi buah pikiran bukan merupakan sesuatu yang gifted tetapi merupakan keterampilan yang harus dipelajari dengan penuh kesadaran. Sayangnya banyak siswa yang merasa dapat berbahasa (bahasa Indonesia khususnya) bukan karena mempelajarinya secara sadar akan tetapi memperolehnya secara alamiah. Bila seseorang ingin mencapai dan menikmati pikiran-pikiran dan gagasan-gagasan ilmiah, maka bahasa yang dikuasai secara alamiah harus ditingkatkan (improved and refined) menjadi bahasa ilmiah.
Untuk percakapan dan penulisan sehari-hari dalam pergaulan umum, bahasa yang diperoleh secara alamiah memang cukup akan tetapi tingkat kecanggihan bahasa tersebut sebenarnya ada pada tingkat yang paling bawah. Ciri umum bahasa tersebut adalah struktur bahasa yang sederhana (sering tidak lengkap dan mengandung salah kaprah) dan kosa kata yang sangat terbatas. Keefektifan komunikasi lebih banyak diwarnai oleh ungkapan-ungkapan yang situasional (colloquial) dan emosional disertai dengan isyarat (gestures). Bahasa tersebut cukup untuk mengungkapkan hal-hal yang bersifat konkret atau peristiwa nyata dalam kehidupan umum sehari-hari.
Akan tetapi, bahasa awam atau alamiah tidak mampu atau kurang memadai untuk mengungkapkan hal-hal yang bersifat ilmiah dan abstrak atau konseptual yang acapkali sulit dicari alat peraga atau analoginya dengan keadaan nyata atau fisik. Untuk mengungkapkan hal ini diperlukan struktur bahasa dan kosa kata yang lebih canggih. Ciri-ciri bahasa keilmuan adalah kemampuannya untuk membedakan gagasan atau pengertian yang memang berbeda dan strukturnya yang baku dan cermat. Dengan karakteristik ini, suatu gagasan dapat terekspresi dengan cermat tanpa kesalahan makna bagi penerimanya.
Seseorang (khususnya guru dan siswa) harus belajar bahasa sendiri (Indonesia) lebih dari apa yang diperolehnya secara alamiah. Karena sudah merasa mampu berbahasa Indonesia, kebanyakan orang tidak merasa perlu untuk belajar bahasa Indonesia dan mempunyai atau membuka kamus bahasa Indonesia (misalnya Kamus Besar Bahasa Indonesia). Akibatnya orang sering merasa lebih asing mendengar kata bahasa sendiri daripada mendengar kata bahasa asing.
Anehnya, kalau seseorang menjumpai kata asing (Inggris) yang masih asing bagi dirinya, dia dengan sadar dan penuh motivasi berusaha untuk mengetahui artinya dan mencarinya di dalam kamus dan tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa kata itu aneh. Akan tetapi, kalau dia mendengar kata bahasa Indonesia yang masih asing bagi dirinya, dia merasa itu bukan bahasanya dan akan bereaksi dengan mengatakan "Apa artinya ini, kok aneh-aneh?" dan berusaha untuk tidak pernah tahu apalagi membuka kamus dan menggunakannya secara tepat. Sikap seperti ini sebenarnya menunjukkan bahwa seseorang sudah merasa cukup dan puas dengan bahasa awam atau alamiahnya.
Siswa sering mengeluh bahwa mereka sukar memahami suatu buku yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Ada berbagai alasan yang dapat menerangkan hal tersebut. Pertama, buku yang dibacanya membahas masalah konkret dan sederhana tetapi ditulis dengan bahasa yang kurang memadai sehingga sulit dipahami apalagi kalau pembaca hanya menggunakan struktur bahasa alamiahnya sehingga pembaca tidak tahu bahwa struktur bahasa dalam buku tersebut keliru dan menjadi tidak mudah dipahami maksudnya. Kedua, buku tersebut memang ingin mengungkapkan sesuatu yang kompleks dan konseptual yang memerlukan struktur bahasa yang canggih dan ditulis dalam bahasa yang sangat memadai dan baku tetapi siswa menggunakan struktur bahasa alamiahnya untuk memahami. Sayangnya banyak orang yang menuduh bahwa suatu buku sulit dipahami padahal sebenarnya orang tidak mempunyai kemampuan bahasa yang memadai untuk memahami. Ketiga, siswa membaca buku yang memerlukan pemikiran mendalam tetapi membacanya seperti membaca berita di koran sehingga pemahaman tidak diperoleh.
Oleh karena itu, kalau siswa ingin menikmati dunia pengetahuan yang luas dan tinggi, siswa harus memperbaiki kemampuan bahasanya. siswa harus mempunyai kemampuan berbahasa pada tingkat yang memadai untuk mampu menyerap gagasan dan pengetahuan yang kompleks dan konseptual. Kalau hanya keterampilan teknis yang menjadi tujuan, bahasa alamiah memang sudah cukup. Apakah siswa perlu mampu berbahasa asing (Inggris)? Kalau siswa ingin lebih melebarkan cakrawala pengetahuannya bahasa asing jelas merupakan hal yang tidak dapat ditinggalkan. Masih langkanya buku-buku keilmuan berbahasa Indonesia dewasa ini mengharuskan mahasiswa menguasai bahasa asing (khususnya bahasa Inggris). Mata pelajaran dan pengetahuan lain di sekolah (yang bukan mata pelajaran bahasa Inggris tetapi menggunakan buku teks asing), walaupun membantu, bukan merupakan sarana untuk belajar bahasa Inggris. Bahasa Inggris harus dipelajari secara khusus dan serius melalui pelajaran dan pelatihan secara khusus.
Hal yang perlu dicatat adalah bahwa seseorang dapat menguasai bahasa asing (termasuk membaca buku teks) dengan baik kalau dia juga menguasai bahasa sendiri (Indonesia) dengan baik pula. Bagaimana mungkin seseorang dapat belajar bahasa Inggris yang mempunyai struktur yang baku dan canggih kalau dia sendiri tidak menguasai bahasa Indonesia yang baku (dan sebenarnya juga canggih) sebagai pembandingnya? Banyak orang mengeluh dan merasa sulit belajar bahasa Inggris tetapi mereka lupa bahwa kesulitan tersebut sebenarnya disebabkan struktur bahasa Indonesianya sendiri masih belum memadai.

7. Konsep Tentang Orang Tua
Sejak dalam kandungan, lahir, tumbuh, dan berkembang menjadi seorang anak merupakan suatu proses. Perjalanan dan hasil akhir dari proses ini sangat tergantung dari orang tua. Perlakuan orang tua menentukan kualitas anak di masa depan.
Beberapa ahli mengemukakan bahwa orang tua dapat membuat anaknya menjadi lebih cerdas jika dalam keluarga dibangun suasana yang hangat penuh kasih sayang dan rangsang positif. Anak yang lahir dengan kecerdasan sedang atau biasa saja, tetapi tumbuh dalam keluarga yang penuh dengan kasih sayang dan lingkungan yang kondusif, sanggup meningkatkan taraf kecerdasan anak menjadi lebih baik. Sebaliknya, anak yang lahir dengan kecerdasan tinggi, tetapi hidup dalam keluarga yang kurang kasih sayang dan lingkungan yang tidak mendukunganya, anak tidak akan berkembang menjadi anak yang cerdas.
Akhirnya, orangtualah yang menentukan apakah yang ingin diberikan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan otak anaknya. Segala sesuatu yang berhubungan dengan perkembangan dan peningkatan kualitas anak menjadi tanggung jawab orang tua dan hal ini bukanlah pekerjaan yang mudah.
Namun, tidak berarti orang tua yang menentukan segalanya tanpa mempertimbangkan “hak” seorang anak. Dalam hal ini, sebaiknya orang tua bertindak sebagai fasilitator dan mengembangkan potensi yang terlihat pada diri anak. Ingatlah, anak adalah titipan Sang Khalik. Biarlah anak-anak kita dapat lepas seperti anak panah dari busurnya ke arah yang dikehendaki Sang Khalik.
Dengan pengertian orang tua terhadap potensi dari anak maka akan memotivasi anak untuk mengoptimalkan kemampuan sehingga tercapai prestasi yang optimal juga.

8. Media Pembelajaran

Media pembelajaran merupakan wahana dari pesan atau informasi yang oleh sumber pesan (guru) yang ingin diteruskan kepada penerima pesan (siswa) dengan maksud agar pesan-pesan tersebut dapat diserap dengan cepat dan tepat sesuai dengan tujuannya. Pesan atau bahan ajar yang disampaikan adalah pesan/materi pembelajaran. Tujuan yang ingin dicapai adalah terjadinya proses belajar pada diri siswa.
Media pembelajaran yang dirancang dengan baik dapat merangsang timbulnya proses/dialog mental pada diri siswa. Dengan perkataan lain, terjadinya komunikasi antara siswa dengan media atau secara tidak langsung tentunya antara siswa dengan penyalur pesan (guru), dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa proses belajar-mengajar telah terjadi. Media pembelajaran tersebut berhasil menyalurkan pesan/bahan ajar apabila kemudian terjadi perubahan tingkah laku (behavioral change) pada diri siswa.
Media dapat juga diartikan sebagai sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang pikiran, perhatian dan kemauan murid, sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada murid-murid yang bersangkutan. Berdasarkan kenyataan di atas, media belajar memiliki peranan yang begitu penting. Dalam batas-batas tertentu media dapat menggantikan posisi guru sebagai sumber belajar.
Secara umum dari beberapa fungsi media pembelajaran dapat mempercepat proses belajar. Fungsi ini mengandung arti bahwa dengan media pembelajaran siswa dapat menangkap tujuan dan bahan ajar lebih mudah dan dan lebih cepat. Fungsi lain yaitu untuk meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar. Pada umumnya hasil belajar atau prestasi belajar siswa dengan menggunkan media pembelajaran dan salah satunya dengan media gambar akan tahan lama mengendap sehingga kualitas pembelajaran memiliki nilai yang tinggi. Media pembelajaran juga dapat meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berfikir secara lebih realistik.
Jadi jelaslah untuk mencapai prestasi belajar anak diperlukan penggunaan metode dan media pembelajaran oleh guru. Semakin seimbang perpaduannya maka akan meningkatkan situasi yang kondusif dalam mempertinggi prestasi belajar anak. Untuk itu dapat disimpulkan bahwa penggunaan media yang efektif dalam proses belajar anak memiliki keterkaitan dalam menarik minat dan perhatian anak belajar sehingga memperoleh prestasi belajar yang optimal

Sumber:
http://suwardjono.com/upload/perilaku-belajar-di-perguruan-tinggi.pdf
www.keperawatankomunitas.blogspot.com : BERMAIN BAGIAN DARI PENDIDIKAN
oleh : Mahyuliansyah

Mata Kuliah Perkembangan Anak , STIKES Muhammadiyah Banjarmasin, Dosen Reno Rasyuidah S.Kep.Ns

www.keperawatankomunitas.blogsopt.com : PRESTASI BELAJAR DAN MEDIA PEMBELAJARAN Oleh : Nor Alimah .S.Pd

Habeyb, S.F.(1983). Kamus Populer. Jakarta : Centra.

www.himataufik.blogspot.com : Anak Cerdas Harapan Orang Tua, Taufik Hidayat, S.Psi,Psikolog


MARASMUS

A. PENDAHULUAN

Tujuan utama pembangunan nasional adalah peningkatan kualitas sumber daya manuasia ( SDM ) yang dilakukan secara berkelanjutan. Upaya peningkatan kualitas SDM dimulai dengan perhatian utama pada proses tumbuh kembang anak sejak pembuahan sampai mencapai dewasa muda. Pada masa tumbuh kembang ini, pemenuhan kebutuhan dasar anak seperti perawatan dan makanan bergizi yang diberikan dengan penuh kasih sayang dapat membentuk SDM yang sehat, cerdas dan produktif.
Zat gizi merupakan zat penting yang diperlukan oleh tubuh kita baik untuk proses pertumbuhan maupun perkembangan. Rendahnya konsumsi pangan atau tidak seimbangnya gizi makanan yang dikonsumsi dapat mengakibatkan terganggunya pertumbuhan organ dan jaringan tubuh, lemahnya daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit, serta menurunnya aktivitas dan produktivitas kerja. Pada bayi dan anak balita, kekurangan gizi dapat mengakibatkan terganggunya pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental dan spiritual. Bahkan pada bayi, gangguan tersebut dapat bersifat permanen dan sangat sulit untuk diperbaiki. Kekurangan gizi pada bayi dan balita, akan mengakibatkan rendahnya kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu pangan dengan jumlah dan mutu yang memadai harus selalu tersedia dan dapat diakses oleh semua orang pada setiap saat.
Masalah gizi adalah gangguan kesehatan seseorang atau masyarakat yang disebabkan oleh tidak seimbangnya pemenuhan kebutuhannya akan zat gizi yang diperoleh dari makanan. Masalah gizi yang dalam bahasa Inggris disebut malnutrition, dibagi dalam dua kelompok yaitu masalah gizi-kurang (under nutrition) dan masalah gizi-lebih (over nutrition), baik berupa masalah gizi-makro ataupun gizi-mikro. Gangguan kesehatan akibat masalah gizi-makro dapat berbentuk status gizi buruk, gizi kurang, atau gizi lebih. Sedang gangguan kesehatan akibat masalah gizi mikro hanya dikenal sebutan dalam bentuk gizi kurang zat gizi mikro tertentu, seperti kurang zat besi, kurang zat yodium, dan kurang vitamin A. Masalah gizi makro, terutama masalah kurang energi dan protein (KEP) paling banyak menyerang pada balita dan yang memprihatinkan biasanya orang tua tidak pernah menyadari bahwa anak balitanya mengalami KEP. Secara langsung keadaan gizi dipengaruhi oleh ketidakcukupan asupan makanan dan penyakit infeksi. Secara tidak langsung dipengaruhi oleh ketersediaan pangan tingkat rumah tangga, ketersediaan pelayanan kesehatan, pola asuh yang tidak memadai. Lebih lanjut masalah gizi disebabkan oleh kemiskinan, pendidikan rendah, kesempatan kerja dan juga keadaan lingkungan.. Status gizi balita secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkan antara berat badan menurut umur maupun menurut panjang badannya dengan rujukan (standar) yang telah ditetapkan . Apabila berat badan menurut umur sesuai dengan standar, anak disebut gizi baik. Kalau sedikit di bawah standar disebut gizi kurang. Apabila jauh di bawah standar dikatakan gizi buruk.
Berita merebaknya temuan gizi buruk, sangat mengejutkan di negara tercinta yang terkenal subur makmur ini. Kasus ini bisa jadi tidak hanya momok bagi para balita namun juga bagi pemerintah. Bahkan di era pemerintahan Orde Baru, pejabat daerah sangat ketakutan jika sampai didapati kasus gizi buruk diwilayahnya, cerminan buruknya performa dalam menyejahterakan raknyatnya; Bukti lemahnya infrastruktur kesehatan dan pangan; Dan aneka polemik mencari biang keladipun muncul ke permukaan. Kesenjangan, ketidakadilan, kemiskinan, kebijakan ekonomi dan politik menjadi semakin sering diperbincangkan. Bisa jadi hanya sedikit yang memikirkan dampak jangka panjang yang ditimbulkannya, jika hal ini tidak ditangani dengan serius. Seperti layaknya fenomena gunung es, bahwa ancaman yang sebenarnya jauh lebih besar dan perlu segera diambil langkah-langkah antisipasinya dari sekarang. Karena kelainan ini menyerang anak-anak , generasi penerus, yang sedang dalam ‘golden period’ pertumbuhan otaknya. Gizi buruk (severe malnutrition) adalah suatu istilah teknis yang umumnya dipakai oleh kalangan gizi, kesehatan dan kedokteran. Gizi buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun. Gizi buruk merupakan kondisi kurang gizi yang disebabkan rendahnya konsumsi energi dan protein (KEP) dalam makanan sehari-hari. Secara klinis gizi buruk terdapat dalam tiga tipe yakni kwashiorkor, marasmus, dan marasmus-kwashiorkor.




B. INSIDEN

Berdasarkan data statistik kesehatan Departemen Kesehatan RI tahun 2005 dari 241.973.879 penduduk Indonesia, enam persen atau sekira 14,5 juta orang menderita gizi buruk. Penderita gizi buruk pada umumnya anak-anak di bawah usia lima tahun (balita).
Depkes juga telah melakukan pemetaan dan hasilnya menunjukkan bahwa penderita gizi kurang ditemukan di 72% kabupaten di Indonesia. Indikasinya 2-4 dari 10 balita menderita gizi kurang.
Marasmus merupakan keadaan di mana seorang anak mengalami defisiensi energi dan protein sekaligus. Umumnya kondisi ini dialami masyarakat yang menderita kelaparan. Marasmus adalah permasalahan serius yang terjadi di negara-negara berkembang. Menurut data WHO sekitar 49% dari 10,4 juta kematian yang terjadi pada anak-anak di bawah usia lima tahun di negara berkembang berkaitan dengan defisiensi energi dan protein sekaligus.
Penderita gizi buruk yang paling banyak dijumpai ialah tipe marasmus. Arif di RS. Dr. Sutomo Surabaya mendapatkan 47% dan Barus di RS Dr. Pirngadi Medan sebanyak 42%. Hal ini dapat dipahami karena marasmus sering berhubungan dengan keadaan kepadatan penduduk dan higiene yang kurang di daerah perkotaan yang sedang membangundan serta terjadinya krisis ekonomi di ludonesia.

C. PENGERTIAN

• Marasmus adalah bentuk malnutrisi kalori protein yang terutama akibat kekurangan kalori yang berat dan kronis terutama terjadi selama tahun pertama kehidupan dan mengurusnya lemak bawah kulit dan otot. (Dorland, 1998:649).
• Marasmus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan kalori protein. (Suriadi, 2001:196).
• Marasmus adalah malnutrisi berat pada bayi sering ada di daerah dengan makanan tidak cukup atau higiene kurang. Sinonim marasmus diterapkan pada pola penyakit klinis yang menekankan satu ayau lebih tanda defisiensi protein dan kalori. (Nelson, 1999:212).
• Zat gizi adalah zat yang diperoleh dari makanan dan digunakan oleh tubuh untuk pertumbuhan, pertahanan dan atau perbaikan. Zat gizi dikelompokkan menjadi karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air. (Arisman, 2004:157).
• Energi yang diperoleh oleh tubuh bukan hanya diperoleh dari proses katabolisme zat gizi yang tersimpan dalam tubuh, tetapi juga berasal dari energi yang terkandung dalam makanan yang kita konsumsi.
• Fungsi utama karbohidrat adalah sebagai sumber energi, disamping membantu pengaturan metabolisme protein. Protein dalam darah mempunyai peranan fisiologis yang penting bagi tubuh untuk :
1. Mengatur tekanan air, dengan adanya tekanan osmose dari plasma protein.
2. Sebagai cadangan protein tubuh.
3. Mengontrol perdarahan (terutama dari fibrinogen).
4. Sebagai transport yang penting untuk zat-zat gizi tertentu.
5. Sebagai antibodi dari berbagai penyakit terutama dari gamma globulin.
Dalam darah ada 3 fraksi protein, yaitu : Albumin, globulin, fibrinogen.

D. ETIOLOGI

• Penyebab utama marasmus adalah kurang kalori protein yang dapat terjadi karena : diet yang tidak cukup, kebiasaan makan yang tidak tepat seperti yang hubungan dengan orangtua-anak terganggu,karena kelainan metabolik, atau malformasi kongenital. (Nelson,1999).
• Marasmus dapat terjadi pada segala umur, akan tetapi yang sering dijumpai pada bayi yang tidak mendapat cukup ASI dan tidak diberi makanan penggantinya atau sering diserang diare. Marasmus juga dapat terjadi akibat berbagai penyakit lain seperti infeksi, kelainan bawaan saluran pencernaan atau jantung, malabsorpsi, gangguan metabolik, penyakit ginjal menahun dan juga gangguan pada saraf pusat. (Dr. Solihin, 1990:116).
• Marasmus ialah suatu bentuk kurang kalori-protein yang berat. Keadaan ini merupakan hasil akhir dari interaksi antara kekurangan makanan dan penyakit infeksi. Selain faktor lingkungan, ada beberapa faktor lain pada diri anak sendiri yang dibawa sejak lahir, diduga berpengaruh terhadap terjadinya marasmus. Secara langsung keadaan gizi dipengaruhi oleh ketidakcukupan asupan makanan dan penyakit infeksi. Secara tidak langsung dipengaruhi oleh ketersediaan pangan tingkat rumah tangga, ketersediaan pelayanan kesehatan, pola asuh yang tidak memadai. Lebih lanjut masalah gizi disebabkan oleh kemiskinan, pendidikan rendah, kesempatan kerja. Oleh karena itu keadaan gizi masyarakat merupakan manifestasi keadaan kesejahteraan rakyat. Asupan gizi yang kurang yang disebabkan oleh banyak faktor antara lain : 1. Pola Pemberian ASI dan MP-ASI. Makanan alamiah terbaik bagi bayi yaitu Air Susu Ibu (ASI), dan sesudah usia 6 bulan anak yang tidak mendapat Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat, baik jumlah dan kualitasnya akan berkonsekuensi terhadap status gizi bayi. MP-ASI yang baik tidak hanya cukup mengandung energi dan protein, tetapi juga mengandung zat besi, vitamin A, asam folat, vitamin B serta vitamin dan mineral lainnya. MP-ASI yang tepat dan baik dapat disiapkan sendiri di rumah. Pada keluarga dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang rendah seringkali anaknya harus puas dengan makanan seadanya yang tidak memenuhi kebutuhan gizi balita karena ketidaktahuan. Terbukti dengan hasil penelitian yang memaparkan bahwa : Bayi yang mendapat ASI Eksklusif masih rendah ( Purworejo = 49% ) Tidak semua ibu memberikan ASI segera setelah bayi lahir. Hanya sepertiga ibu memberikan ASI pada hari pertama setelah melahirkan. Bayi sudah diperkenalkan dengan makanan lain selain ASI pada minggu pertama setelah kelahiran. 2. Ketersediaan Pangan di Tingkat Rumah Tangga Status gizi dipengaruhi oleh ketersediaan pangan di tingkat keluarga dan jika tidak cukup dapat dipastikan konsumsi setiap anggota keluarga tidak terpenuhi. Tidak tersedianya makanan yang adekuat terkait langsung dengan kondisi sosial ekonomi. Kadang kadang bencana alam, perang, maupun kebijaksanaan politik maupun ekonomi yang memberatkan rakyat akan menyebabkan hal ini. Kemiskinan sangat identik dengan tidak tersedianya makan yang adekuat. Data Indonesia dan negara lain menunjukkan bahwa adanya hubungan timbal balik antara kurang gizi dan kemiskinan. Kemiskinan merupakan penyebab pokok atau akar masalah gizi buruk. Proporsi anak malnutrisi berbanding terbalik dengan pendapatan. Makin kecil pendapatan penduduk, makin tinggi persentasi anak yang kekurangan gizi. 3. Pola makan yang salah. Suatu studi “positive deviance” mempelajari mengapa dari sekian banyak bayi dan balita di suatu desa miskin hanya sebagian kecil yang gizi buruk, padahal orang tua mereka semuanya petani miskin. Dari studi ini diketahui pola pengasuhan anak berpengaruh pada timbulnya gizi buruk. Anak yang diasuh ibunya sendiri dengan kasih sayang, apalagi ibunya berpendidikan, mengerti soal pentingnya ASI, manfaat posyandu dan kebersihan, meskipun sama-sama miskin, ternyata anaknya lebih sehat. Unsur pendidikan perempuan berpengaruh pada kualitas pengasuhan anak. Sebaliknya sebagian anak yang gizi buruk ternyata diasuh oleh nenek atau pengasuh yang juga miskin dan tidak berpendidikan. Banyaknya perempuan yang meninggalkan desa untuk mencari kerja di kota bahkan menjadi TKI, kemungkinan juga dapat menyebabkan anak menderita gizi buruk. Kebiasaan, mitos ataupun kepercayaan / adat istiadat masyarakat tertentu yang tidak benar dalam pemberian makan akan sangat merugikan anak . Misalnya kebiasaan memberi minum bayi hanya dengan air putih, memberikan makanan padat terlalu dini, berpantang pada makanan tertentu ( misalnya tidak memberikan anak anak daging, telur, santan dll) , hal ini menghilangkan kesempatan anak untuk mendapat asupan lemak, protein maupun kalori yang cukup. Interaksi antara ibu dengan anak berhubungan positif dengan keadaan gizi anak. Anak yang mendapatkan perhatian lebih baik secara fisik maupun emosional misalnya selalu mendapatkan senyuman, mendapat respon ketika berceloteh dan mendapatkan makanan yang seimbang, maka keadaan gizinya lebih baik dibandingkan dengan teman sebayanya yang kurang mendapat perhatian orang tua
• Sering sakit (frequent infection) Sering sakit menjadi penyebab terpenting kedua kekurangan gizi, apalagi di negara negara terbelakang dan yang sedang berkembang seperti Indonesia, dimana kesadaran akan kebersihan / personal hygine yang masih kurang, serta ancaman endemisitas penyakit tertentu, khususnya infeksi kronik seperti misalnya tuberculosis (TBC) masih sangat tinggi. Kaitan infeksi dan kurang gizi seperti layaknya lingkaran setan yang sukar diputuskan, karena keduanya saling terkait dan saling memperberat. Kondisi infeksi kronik akan meyebabkan kurang gizi dan kondisi malnutrisi sendiri akan memberikan dampak buruk pada sistem pertahanan sehingga memudahkan terjadinya infeksi.
• Kurangnya Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemantauan pertumbuhan yang diikuti dengan tindak lanjut berupa konseling terutama oleh petugas kesehatan berpengaruh pada status pertumbuhan anak seperti ;
1. Pemantauan berat badan balita di Posyandu
2. Pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi bulan Februari dan Agustus.
3. Kunjungan Neonatal
4. Imunisasi pada bayi
• Kelainan struktur bawaan, Prematuritas dan penyakit pada masa neonatus, gangguan metabolic dan lain-lain.

E. PATOFISIOLOGI

Kurang kalori protein akan terjadi manakala kebutuhan tubuh akan kalori, protein, atau keduanya tidak tercukupi oleh diet. (Arisman, 2004:92). Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan, karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan. Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan ginjal. Selam puasa jaringan lemak dipecah menjadi asam lemak, gliserol dan keton bodies. Otot dapat mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energi kalau kekurangan makanan ini berjalan menahun. Tubuh akan mempertahankan diri jangan sampai memecah protein lagi seteah kira-kira kehilangan separuh dari tubuh. (Nuuhchsan Lubis an Arlina Mursada, 2002:11).
Sebenarnya malnutrisi merupakan suatu sindrom yang terjadi akibat banyak faktor. Faktor-faktor ini dapat digolongkan atas tiga faktor penting yaitu : tubuh sendiri (host), agent (kuman penyebab), environment (lingkungan). Memang faktor diet (makanan) memegang peranan penting tetapi faktor lain ikut menentukan. Gopalan menyebutkan marasmus adalah compensated malnutrition.
Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha untuk empertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan; karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan. Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan di ginjal. Selama puasa jaringan lemak dipecah jadi asam lemak, gliserol dan keton bodies. Otot dapat mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energi kalau kekurangan makanan ini berjalan menahun. Tubuh akan mempertahankan diri jangan sampai memecah protein lagi setelah kira-kira kehilangan separuh dari tubuh.


F. MANIFESTASI KLINIK

Pada mulanya ada kegagalan menaikkan berat badan, disertai dengan kehilangan berat badan sampai berakibat kurus,dengan kehilangan turgor pada kulit sehingga menjadi berkerut dan longgar karena lemak subkutan hilang dari bantalan pipi, muka bayi dapat tetap tampak relatif normal selama beberaba waktu sebelum menjadi menyusut dan berkeriput. Abdomen dapat kembung dan datar. Terjadi atropi otot dengan akibat hipotoni. Suhu biasanya normal, nadi mungkin melambat, mula-mula bayi mungkin rewe, tetapi kemudian lesu dan nafsu makan hilang. Bayi biasanya konstipasi, tetapi dapat muncul apa yang disebut diare tipe kelaparan, dengan buang air besar sering, tinja berisi mukus dan sedikit. (Nelson,1999).
Marasmus sering dijumpai pada usia 0 - 2 tahun. Keadaan yang terlihat mencolok adalah hilangnya lemak subkutan, terutama pada wajah. Akibatnya ialah wajah si anak lonjong,berkeriput dan tampak lebih tua (old man face). Otot-otot lemah dan atropi, bersamaan dengan hilangnya lemak subkutan maka anggota gerak terlihat seperti kulit dengan tulang. Tulang rusuk tampak lebih jelas. Dinding perut hipotonus dan kulitnya longgar. Berat badan turun menjadi kurang dari 60% berat badan menurut usianya. Suhu tubuh bisa rendah karena lapisan penahan panas hilang. Cengeng dan rewel serta lebih sering disertai diare kronik atau konstipasi / susah buang air, serta penyakit kronik dan Tekanan darah, detak jantung dan pernafasan berkurang.

Selain itu manifestasi marasmus adalah sebagai berikut :
1. Badan kurus kering tampak seperti orangtua
2. Lethargi
3. Irritable
4. Kulit keriput (turgor kulit jelek)
5. Ubun-ubun cekung pada bayi
6. Jaingan subkutan hilang
7. Malaise
8. Kelaparan
9. Apatis

G. DIAGNOSIS
Diagnosis marasmus dibuat berdasarkan gambaran klinis, tetapi untuk mengetahui penyebab harus dilakukan anamnesis makanan dan kebiasaan makan serta riwayat penyakit yang lalu.

H. PENCEGAHAN

Tindakan pencegahan terhadap marasmus dapat dilaksana-kan dengan baik bila penyebab diketahui. Usaha-usaha tersebut memerlukan sarana dan prasarana kesehatan yang baik untuk pelayanan kesehatan dan penyuluhan gizi.
1. Pemberian air susu ibu (ASI) sampai umur 2 tahun merupakan sumber energi yang paling baik untuk bayi.
2. Ditambah dengan pemberian makanan tambahan bergizi pada umur 6 tahun ke atas
3. Pencegahan penyakit infeksi, dengan meningkatkan kebersihan lingkungan dan kebersihan perorangan
4. Pemberian imunisasi.
5. Mengikuti program keluarga berencana untuk mencegah kehamilan terlalu kerap.
6. Penyuluhan/pendidikan gizi tentang pemberian makanan yang adekuat merupakan usaha pencegahan jangka panjang.
7. Pemantauan (surveillance) yang teratur pada anak balita di daerah yang endemis kurang gizi, dengan cara penimbangan berat badan tiap bulan.
Pentingnya Deteksi Dan Intervensi Dini
Mengingat penyebabnya sangat kompleks, pengelolaan gizi buruk memerlukan kerjasama yang komprehensif dari semua pihak. Bukan hanya dari dokter maupun tenaga medis, namun juga pihak orang tua, keluarga, pemuka masyarakat maupun agama dan pemerintah. Langkah awal pengelolaan gizi buruk adalah mengatasi kegawatan yang ditimbulkannya, dilanjutkan dengan “frekuen feeding” ( pemberian makan yang sering, pemantauan akseptabilitas diet ( penerimaan tubuh terhadap diet yang diberikan), pengelolaan infeksi dan pemberian stimulasi. Perlunya pemberian diet seimbang, cukup kalori dan protein serta pentingnya edukasi pemberian makan yang benar sesuai umur anak, Pada daerah endemis gizi buruk perlu distribusi makanan yang memadai.
Posyandu dan puskesmas sebagai ujung tombak dalam melakukan skrining / deteksi dini dan pelayanan pertama menjadi vital dalam pencegahan kasus gizi buruk saat ini. Penggunaan kartu menuju sehat dan pemberian makanan tambahan di posyandu perlu digalakkan lagi. Tindakan cepat pada balita yang 2x berturut-turut tidak naik timbangan berat badan untuk segera mendapat akses pelayanan dan edukasi lebih lanjut, dapat menjadi sarana deteksi dan intervensi yang efektif. Termasuk juga peningkatan cakupan imunisasi untuk menghindari penyakit yang dapat dicegah, serta propaganda kebersihan personal maupun lingkungan. Pemuka masyarakat maupun agama akan sangat efektif jika mau membantu dalam pemberian edukasi pada masyarakat, terutama dalam menanggulangi kebiasaan atau mitos-mitos yang salah pada pemberian makan pada anak. Kasus gizi buruk mengajak semua komponen bangsa untuk peduli, berrsama kita selamatkan generasi penerus ini untuk menjadi Indonesia yang lebih baik.
Penanggulangan Balita Gizi buruk
Ruang lingkup Penanggulangan Balita Gizi buruk dari tingkat Kabupaten, Puskesmas sampai tingkat Rumah Tangga.Dalam Best Practice diuraikan tentang Prosedur Penjaringan Kasus Balita Gizi Buruk, Prosedur Pelayanan Balita GiziBuruk Puskesmas, Prosedur Pelacakan Balita Gizi Buruk dengan cara Investigasi, Prosedur Pelayanan Balita Gizi Buruk di Rumah Tangga, Prosedur Koordinasi Lintas Sektoral dalam Upaya Penanggulangan Gizi Buruk.
I. PENGOBATAN
Tujuan pengobatan pada penderita marasmus adalah pemberian diet tinggi kalori dan tinggi protein serta mencegah kekambuhan(,.
Penderita marasmus tanpa komplikasi dapat berobat jalan asal diberi penyuluhan mengenai pemberian makanan yang baik; sedangkan penderita yang mengalami komplikasi serta dehidrasi, syok, asidosis dan lain-lain perlu mendapat perawatan di rumah sakit. Penatalaksanaan penderita yang dirawat di RS dibagi dalam beberapa tahaP.
Tahap awal yaitu 24-48 jam per-tama merupakan masa kritis, yaitu tindakan untuk menyelamat-kan jiwa, antara lain mengkoreksi keadaan dehidrasi atau asidosis dengan pemberian cairan intravena.
Cairan yang diberikan ialah larutan Darrow-Glucosa atau Ringer Lactat Dextrose 5%. Cairan diberikan sebanyak 200 ml/kg BB/hari.
Mula-mula diberikan 60 ml/kg BB pada 4-8 jam pertama. Kemudian 140 ml sisanya diberikan dalam 16-20 jam berikutnya.
Tahap kedua yaitu penyesuaian. Sebagian besar penderita tidak memerlukan koreksi cairan dan elektrolit, sehingga dapat langsung dimulai dengan penyesuaian terhadap pemberian makanan.
Pada hari-hari pertama jumlah kalori yang diberikan sebanyak 30-60 kalori/kg BB/hari atau rata-rata 50 kalori/kg BB/hari, dengan protein 1-1,5 g/kg BB/hari. Jumlah ini dinaikkan secara berangsur-angsur tiap 1-2 hari sehingga mencapai 150-175 kalori/kg BB/hari dengan protein 3-5 g/kg BB/hari. Waktu yang diperlukan untuk mencapai diet tinggi kalori tinggi protein ini lebih kurang 7-10 hari.
Cairan diberikan sebanyak 150 ml/kg BB/hari. Pemberian vitamin dan mineral yaitu vitamin A diberikan sebanyak 200.000. i.u peroral atau 100.000 i.u im pada hari pertama kemudian pada hari ke dua diberikan 200.000 i.u. oral. Vitamin A diberikan tanpa melihat ada/tidaknya gejala defisiensi Vitamin A. Mineral yang perlu ditambahkan ialah K, sebanyak 1-2 Meq/kg BB/hari/IV atau dalam bentuk preparat oral 75-100 mg/kg BB/hari dan Mg, berupa MgS04 50% 0,25 ml/kg BB/hari atau megnesium oral 30 mg/kg BB/hari. Dapat diberikan 1 ml vit Bc dan 1 ml vit. C im, selanjutnya diberikan preparat oral atau dengan diet. Jenis makanan yang memenuhi syarat untuk penderita malnutrisi berat ialah susu. Dala pemilihan jenis makanan perlu diperhatikan berat badan penderita. Dianjurkan untuk memakai pedoman BB kurang dari 7 kg diberikan makanan untuk bayi dengan makanan utama ialah susu formula atau susu yang dimodifikasi, secara bertahap ditambahkan makanan lumat dan makanan lunak. Penderita dengan BB di atas 7 kg diberikan makanan untuk anak di atas 1 tahun, dalam bentuk makanan cair kemudian makanan lunak dan makanan padat.
Antibiotik perlu diberikan, karena penderita marasmus sering disertai infeksi. Pilihan obat yang dipakai ialah procain penicillin atau gabungan penicilin dan streptomycin. Hal-hal yang lain perlu diperhatikan :
a) Kemungkinan hipoglikemi dilakukan pemeriksaan dengan dextrostix. Bila kadar gula darah kurang dari 40% diberikan terapi 1-2 ml glukose 40%/kg BB/IV(13,17,19) b) Hipotermi(17,19) Diatasi dengan penggunaan selimut atau tidur dengan ibunya. Dapat diberikan botol panas atau pemberian makanan sering tiap 2 jam. Pemantauan penderita dapat dilakukan dengan cara penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan serta tebal lemak subkutan. Pada minggu-minggu pertama sering belum dijumpai pertambahan berat badan. Setelah tercapai penyesuaian barulah dijumpai pertambahan berat badan. Penderita boleh dipulangkan bila terjadi kenaikan sampai kira-kira 90% BB normal menurut umurnya, bila nafsu makannya telah kembali dan penyakit infeksi telah teratasi. Penderita yang telah kembali nafsu makannya dibiasakan untuk mendapat makanan biasa seperti yang dimakan sehari-hari. Kebutuhan kalori menjadi normal kembali karena tubuh telah menyesuaikan diri lagi. Sementara itu kepada orang tua diberikan penyuluhan tentang pemberian makanan, terutama mengenai pemilihan bahan makanan, pengolahannya, yang sesuai dengan daya belinya. Mengingat sulitnya merawat penderita dengan malnutrisi, maka usaha pencegahan perlu lebih ditingkatkan. Konsekuensi gizi buruk , loss generation? Beberapa penelitian menjelaskan, dampak jangka pendek gizi buruk terhadap perkembangan anak adalah anak menjadi apatis, mengalami gangguan bicara dan gangguan perkembangan yang lain. Sedangkan dampak jangka panjang adalah penurunan skor tes IQ, penurunan perkembangn kognitif, penurunan integrasi sensori, gangguan pemusatan perhatian, gangguan penurunan rasa percaya diri dan tentu saja merosotnya prestasi akademik di sekolah. Kurang Gizi berpotensi menjadi penyebab kemiskinan melalui rendahnya kualitas sumber daya manusia dan produktivitas. Tidak heran jika gizi buruk yang tidak dikelola dengan baik, pada fase akutnya akan mengancam jiwa dan pada jangka panjang akan menjadi ancaman hilangnya sebuah generasi penerus bangsa

J. PENATALAKSANAAN
1. Keadaan ini memerlukan diet yang berisi jumlah cukup protein yang kualitas biologiknya baik. Diit tinggi kalori, protein, mineral dan vitamin.
2. Pemberian terapi cairan dan elektrolit.
3. Penatalaksanaan segera setiap masalah akut seperti masalah diare berat.
4. Pengkajian riwayat status sosial ekonomi, kaji riwayat pola makan, pengkajian antropometri, kaji manifestasi klinis, monitor hasil laboratorium, timbang berat badan, kaji tanda-tanda vital.

Penanganan KKP berat
Secara garis besar, penanganan KKP berat dikelompokkan menjadi pengobatan awal dan rehabilitasi. Pengobatan awal ditujukan untuk mengatasi keadaan yang mengancam jiwa, sementara fase rehabilitasi diarahkan untuk memulihkan keadaan gizi.
Upaya pengobatan, meliputi :
- Pengobatan/pencegahan terhadap hipoglikemi, hipotermi, dehidrasi.
- Pencegahan jika ada ancamanperkembangan renjatan septik
- Pengobatan infeksi
- Pemberian makanan
- Pengidentifikasian dan pengobatan masalah lain, seperti kekurangan vitamin, anemia berat dan payah jantung.

Menurut Arisman, 2004:105
- Komposisi ppemberian CRO (Cairan Rehidrasi Oral) sebanyak 70-100 cc/kg BB biasanya cukup untuk mengoreksi dehidrasi.
- Cara pemberian dimulai sebanyak 5 cc/kg BB setiap 30 menit selama 2 jam pertama peroral atau NGT kemudian tingkatkan menjadi 5-10 cc/kg BB/ jam.
- Cairan sebanyak itu harus habis dalam 12 jam.
- Pemberian ASI sebaiknya tidak dihentikan ketika pemberian CRO/intravena diberikan dalam kegiatan rehidrasi.
- Berika makanan cair yang mengandung 75-100 kkal/cc, masing-masing disebut sebagai F-75 dan F-100.



Menurut Nuchsan Lubis
Penatalaksanaan penderita marasmus yang dirawat di RS dibagi dalam beberapa tahap, yaitu :
1. Tahap awal :24-48 jam pertama merupakan masa kritis, yaitu tindakan untuk menyelamatkan jiwa, antara lain mengoreksi keadaan dehidrasi atau asidosis dengan pemberian cairan IV.
- cairan yang diberikan adalah larutan Darrow-Glukosa atau Ringer Laktat Dextrose 5%.
- Mula-mula diberikan 60 ml/kg BB pada 4-8 jam pertama.
- Kemudian 140ml sisanya diberikan dalam 16-20 jam berikutnya.
- Cairan diberikan 200ml/kg BB/ hari.
2. Tahap penyesuaian terhadap pemberian makanan
- Pada hari-hari pertama jumlah kalori yang diberikan sebanyak 30-60 kalori/ kg BB/ hari atau rata-rata 50 kalori/ kg BB/ hari, dengan protein 1-1,5 gr/ kg BB/ hari.
- Kemudian dinaikkan bertahap 1-2 hari hingga mencapai 150-175 kalori/ kg BB/ hari, dengan protein 3-5 gr/ kg BB/ hari.
- Waktu yang diperlukan untuk mencapai diet TKTP ini lebih kurang 7-10 hari.

K. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

1. Pemeriksaan Fisik
a. Mengukur TB dan BB
b. Menghitung indeks massa tubuh, yaitu BB (dalam kilogram) dibagi dengan TB (dalam meter)
c. Mengukur ketebalan lipatan kulit dilengan atas sebelah belakang (lipatan trisep) ditarik menjauhi lengan, sehingga lapisan lemak dibawah kulitnya dapat diukur, biasanya dangan menggunakan jangka lengkung (kaliper). Lemak dibawah kulit banyaknya adalah 50% dari lemak tubuh. Lipatan lemak normal sekitar 1,25 cm pada laki-laki dan sekitar 2,5 cm pada wanita.
d. Status gizi juga dapat diperoleh dengan mengukur LLA untuk memperkirakan jumlah otot rangka dalam tubuh (lean body massa, massa tubuh yang tidak berlemak).
2. Pemeriksaan laboratorium : albumin, kreatinin, nitrogen, elektrolit, Hb, Ht, transferin.

L. FOKUS INTERVENSI KEPERAWATAN

1. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan tidak adekuat (nafsu makan berkurang). (Wong, 2004)
Tujuan :
Pasien mendapat nutrisi yang adekuat
Kriteria hasil :
meningkatkan masukan oral.
Intervensi :
a. Dapatkan riwayat diet
b. Dorong orangtua atau anggota keluarga lain untuk menyuapi anak atau ada disaat makan
c. Minta anak makan dimeja dalam kelompok dan buat waktu makan menjadi menyenangkan
d. Gunakan alat makan yang dikenalnya
e. Perawat harus ada saat makan untuk memberikan bantuan, mencegah gangguan dan memuji anak untuk makan mereka
f. Sajikan makansedikit tapi sering
g. Sajikan porsi kecil makanan dan berikan setiap porsi secara terpisah

2. Defisit volume cairan berhubungan dengan diare. (Carpenito, 2001:140)
Tujuan :
Tidak terjadi dehidrasi
Kriteria hasil :
Mukosa bibir lembab, tidak terjadi peningkatan suhu, turgor kulit baik.
Intervensi :
a. Monitor tanda-tanda vital dan tanda-tanda dehidrasi
b. Monitor jumlah dan tipe masukan cairan
c. Ukur haluaran urine dengan akurat

3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan gangguan nutrisi/status metabolik. (Doengoes, 2000).
Tujuan :
Tidak terjadi gangguan integritas kulit
Kriteria hasil :
kulit tidak kering, tidak bersisik, elastisitas normal
Intervesi :
a. Monitor kemerahan, pucat,ekskoriasi
b. Dorong mandi 2xsehari dan gunakan lotion setelah mandi
c. Massage kulit Kriteria hasilususnya diatas penonjolan tulang
d. Alih baring

4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerusakan pertahanan tubuh
Tujuan :
Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi
Kriteria hasil:
suhu tubuh normal 36,6 C-37,7 C,lekosit dalam batas normal

Intervensi :
a. Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan
b. Pastikan semua alat yang kontak dengan pasien bersih/steril
c. Instruksikan pekerja perawatan kesehatan dan keluarga dalam prosedur kontrol infeksi
d. Beri antibiotik sesuai program

5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang nya informasi (Doengoes, 2004)
Tujuan :
pengetahuan pasien dan keluarga bertambah
Kriteria hasil:
Menyatakan kesadaran dan perubahan pola hidup,mengidentifikasi hubungan tanda dan gejala.
Intervensi :
a. Tentukan tingkat pengetahuan orangtua pasien
b. Mengkaji kebutuhan diet dan jawab pertanyaan sesuai indikasi
c. Dorong konsumsi makanan tinggi serat dan masukan cairan adekuat
d. Berikan informasi tertulis untuk orangtua pasien

6. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan melemahnyakemampuan fisik dan ketergantungan sekunder akibat masukan kalori atau nutrisi yang tidak adekuat. (Carpenito, 2001:157).
Tujuan :
Anak mampu tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya.
Kriteria hasil :
Terjadi peningkatan dalam perilaku personal, sosial, bahasa, kognitif atau aktifitas motorik sesuai dengan usianya.
Intervensi :
a. Ajarkan pada orangtua tentang tugas perkembangan yang sesuai dengan kelompok usia.
b. Kaji tingkat perkembangan anak dengan Denver II
c. Berikan kesempatan bagi anak yang sakit memenuhi tugas perkembangan
d. Berikan mainan sesuai usia anak.

7. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen sekunder akibat malnutrisi. (Carpenito, 2001:3)
Tujuan :
Anak mampu beraktifitas sesuai dengan kemampuannya.
Kriteria hasil :
Menunjukkan kembali kemampuan melakukan aktifitas.
Intervensi :
a. Berikan permainan dan aktifitas sesuai dengan usia
b. Bantu semua kebutuhan anak dengan melibatkan keluarga pasien

8. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan rendahnya masukan protein (malnutrisi). (Carpenio, 2001:143).
Tujuan :
Kelebihan volume cairan tidak terjadi.
Kriteria hasil :
Menyebutkan faktor-faktor penyebab dan metode-metode pencegahan edema, memperlihatkan penurunan edema perifer dan sacral.
Intervensi :
a. Pantau kulit terhadap tanda luka tekan
b. Ubah posisi sedikitnya 2 jam
c. Kaji masukan diet dan kebiasaan yang dapat menunjang retensi cairan.


Sumber :

www.dokterfoto.com/2008/04/06/marasmus

www.sobat-muda.com : Cukupkah Asupan Gizi Anak Anda ? (PDF)

www.geocition.com/kliniklinika/gizi-masyarakat/penyakit-gizi

www.wikipedia.org/wiki/marasmus

www.askep.blogspot.com/../marasmus









Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...