Tampilkan postingan dengan label PATOLOGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PATOLOGI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Mei 2013

Asuhan Kebidanan Patologi


ASUHAN KEBIDANAN INC PATOLOGI 

KOMPREHENSIF PADA NY “ R ” G2P10001
USIA KEHAMILAN 26 MINGGU
T/H/INYTRA UTERINE,LETKEP
DENGAN PARTUS PREMATURUS


LANDASAN TEORI
2.1 Definisi
Persalinan prematur adalah persalinan yang dimulai setelah kehamilan 20 minggu dan sebelum kehamilan 37 minggu ( Barbara R straight,2002)
Persalinan preterm adalah persalinan yang terjadi dibawah umur kehamilan 37 minggu dengan perkiraan berat janin kurang dari 2.500 gr. Resiko persalinan preterm adalah tingginya angka kematian (Manuaba,ida bagus gede,2002).

2.2 Etiologi Dan Faktor Resiko
Etiologi persalinan sering kali tidak diketahui. Ada beberapa kondisi medik yang mendorong untuk dilakukannya tindakan sehingga terjadi persalinan prematur. Kondisi yang menimbulkan partus prematur :
1. Hipertensi
Tekanan darah tinggi menyebabkan penolong cendrung untuk mengakhiri kehamilan, hal ini menimbulkan prevalensi persalinan prematur meningkat.
2. Perkembangan janin terhambat
Merupakan kondisi dimana salah satu sebabnya ialah pemasokan oksigen dan makanan mungkin kurang adekuat dan hal ini mendorong unutk terminasi kehamilan lebih dini.
3. Solusio plasenta
Terlepasnya plaseta akan meransang untuk terjadinya persalinan prematur meskipun ebgaian besar terjadi matur. Pada pasien dengan riwayat solusio plasenta maka kemungkinan terulang menjadi lebih besar.
4. Plasenta previa
Sering kali berhubungan dengan persalinan prematur akibat harus dilakukan tindakan pada perdarahan yang banyak. Biola terjadi perdarhan bnayak maka kemungkinan kondisi janin kurang baik karena hipoksia.
5. Kelainan rhesus
Sebelum ditemukan ANH D imunoglobulin maka kejadian induksi menjadi berkurang, meskipun demikian hal ini masih sein terjadi.
6. Diabetes
Pada kehamilan dengan diabetes yang tidak terkendali maka dapat dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. Tapi saat ini denga pemberian insulin dan diet yang terprogram, umumnya gula darah dapat dikendalikan.
Kondisi yang menimbulkan kontraksi :
Ada beberapa kondisi yang merangasang terjadinya kontraksi spontan, kemungkinan telah terjadi produksi prostaglandin yakni :
a. Kelainan bawaan uterus
Meskipun jarang terjadi tetapi dapat dipertimbangkan hubungan terjadinya partus preterm dengan kelainan uterus yang ada.
b. Ketuban pecah dini
Mungkin mengawali terjadinya kontraksi atau sebaliknya ada beberapa kondisi yang mungkin menyertai seperti serviks inkompeten, hidramnion, kehamilan ganda, infeksi vagina, dan serviks dan lain-lain. infeksi asenden merupkan teori yang cukup kuat dalam mendukung terjadinya amnionitis dan kemungkinan ketuban pecah.
c. Serviks inkompeten
Hal ini mungkin menjadi penyebab abortus selain partus preterm. Riwayat tindakan serviks dapat dihubingkan dengan terjaduinya inkompeten.
d. Kehamilan ganda
Sebnayk 10% pasien dengan partus pretrm ialah kehamilan ganda dan secara umum kehamilan ganda mempunyai mata gestasi yang lebih pendek.

2.3 Manifestasi Klinis
1. Kontraksi uterus yang teratur sedikitnya 3-5 menit sekali selama 45 detik dalam waktu minimal 2 jam.
2. Pada fas aktif, intensitas dan frekuesi kontraksi meningat saat pasien melakukan aktivitas
3. Usia kehamilan antara 20-37 minggu
4. Taksiran berat janin sesuai usia kehamilan anatar 20-37 minggu
5. Presentasi janin abnormal lebih sering ditemukan pada persalinan pretrm.
Bila persalina kemudian menjadi nyata, maka pengobatan dapat dimulai bila tidak funsi uterus dievalusi lebih lanjut dengan mengguankan toporafi eksternal untuk merekam terjadinya kontraksi, pembukaan serviks yang progresif, merupakan tanda persalinan
2.4 Penyulit Bayi Pretrm
Ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran telah maju dengan pesat sehingga dapat menurunkan angka kematian bayi pretrm. Penyulit perawatan bayi pretrm disebabkan :
a. Perkembangan alat vital belum sempurna sehingga mudah terjadi gangguan hati, mudah terjadi kterus dan gangguan fungsi lainnya.
b. Mudah terjadi infeksi karena daya tahan tubuh rendah
c. Perkembangan mental dan intelektual berjalan lambat sehingga sulit mengikuti ilmu pengethuna dan teknologi dan dapat menjadi beban keluarga dan masyarakat.

2.5 Pencegahan
Yang dimaksud disisni dengan pencegahan ialah mencegah kelahiran prematur bukan karena kondisi medik (perdarahan, hipertensi), jadi bila ad psien dengan indikasi (riwayat preterm) atau gemelii dapat dimasukka kedalam program ini. Beberapa peneliti telah mencoba membuat program bagi pasien dengan indikasi partus pretrm dan mencoba menghentikan proses dngan terapi tokolisis, hasilnya cukup menarik dengan menurunkan kejadian pretm sampai separuhnya.
Pasien diberitahu mengenai gejala kontraksi, baik secara palpasi maupun alat perekam selama 2 jam dalam sehari. Dari penelitian yang dilakukan ternyata kontraksi menjadi lebih sering yaitu 2x/10 mnit dalam 48 jam menjelang partus. Pasien dapat diinstruksikan bahwa bila meraskan kontraksi 4 kai atau lebih petjam diminta untuk menghubungi klinik. Pasien dianjurkan untuk datang ke klinim dan dinilai keadaan serviks yang bila ternyat  matang maka dapat dilaukan pengobtan tokolisis. Sebelum memberikan terapi tokolisis, sebaiknya dilakukan pengawasan adamya HIS, dalam keadaan pasien berbaring miring dan memberikannya minum. Bila kontraksi hilang maka tidak perlu melanjutkan terapi tokolisis.
Perlu diperiksa adanya kontra indiksi pemberian obat-obat beta metalis, jangan diberikan pada pasien denga penyakit jantung, edema paru, pengobatan tokolisis dimulai dengan infus dan kemudian dapat dilanjutkan dengan obat oral secara berobat orla bila ternyata partus dapat ditunda. Obat anti prostaglandin (misalnya Indomethaan) harus diapkai denan sangata selektif mengingat komplikasi yang ditimbulkan terhadapa janin seperti Sindrom gawat nafas dan kelainan ginjal. Kelahiran pretrm merupakan masalah masional yang multikompleks dan perlu pemecahan yang konseptual. Secara mikro ada program yang kompreghensif disetiap klinik untuk mecegah kelahiran pretrm. Ibu sebaiknya dirujuk kepada klinik yang mampu menangani resisitasi, stabilisasi dan perawtan bayi preterm. Kebijakan penanganan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi setempat yang memberikan evalus=asi terus-menerus guna mengurangi mortalitas dan morbiditas bayi pretrm.
2.6 Pemeriksaan Penunjang
a pemeriksaan darah lengkap dan hitung janin
b urinalisis
c ultrasonografi untuk menilai berat janin, posisi jani dan letak plesenta
d amniosintesis untuk melihat kematngan beberapa organ janin, seperti rasio lasitin, spingo myelin, surfaktan dan ;lain-lain.
2.7 Penatalaksanaan
Setiap persalinan  pretm harus dirujuk ke RS, carai apakah faktor penyulit ada dan nilai apakah termasuk resiko tinggi atau rendah.
1. Sbelum dirujuk, berikan air minum 1.000 ml dalam waktu 30 menit dan nilai apakah kontraksi berhenti atau tidak
2. Bila kontraksi masih berlanjut, berikan obat tokolisis seperti Fenoterol 5 Mg peroral dosis tungga sebgai pilihan utama atau Ritodrin 5 Mg per oral dosis tungga sebagai pilihan kedua, atau ibu profen 400 Mg per oral dosis tunggal sebagai pilihan ketiga.
3. Bila pasien menolak dirujik, pasien harus istirahat baring dan bnyak minum, tidak diperbolehkan bersenggama. Pasien diberikan tokolitik sperti Fenoterol 5 Mg peroral setiap 6 jam atau Ritodrin 10 Mg peroral setiap 4 jam atau Ibu profen 400 mg peroral tiap 8 jam sampai 2 hari bebas kontraksi.
4. Persalinan tdak boleh dihinadri bila ada kontraindikasi mutlak (gawat janin, korioamnionitis, perdarahan antepartum, yang bnayak) dan kontra indikasi selative (gestosis, DM, pertumbuhan janin terhambat dan pembukaan serviks 4 cm).
Dirumah sakit dilakukan :
1. Obsevasi pasien selama 30-60 menit. Penatalaksanaannya tergantung kontraksi uetrsu serta dilatasi  dan pembukaan serviks.
a. Hidrasi dan sedasi, yaitu hidrasi dnegan NaCl 0,9%, dektrose 5% atau RL, dektrose 5% sebnyak 1:1 dan sedasi dengan morfin sulfat 6-12 Mg IM s4lama 1 jam sambil mengobservasi ibu dan janin
b. Pasien kemudian dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu :
Kelompok I : pembukaan serviks terus berlangsung maka diberikan tokolisis
Kelompok II : tidaka ada perubahan pembukaan dan kontraksi uterus masih terjadi maka diberikan tokolisis
Kelompok III : tidak ada perubahan pembukaan, kontraksi uterus berkurang maka pasien hanya diobsevasi
2. Berikan tokolisis bila janin salam kedaaan baik. Kehamilan 20-37 minggu, pembukaan serviks kurang dari 4 cm dan selaput ketuban masih adaa.  Jenis tokolisis adalah Beta mimetik adrenergik, magnesium sulfat 4 gr (200 ml MgSO4 10% dalam 800 ml dekstrose 5% dengan tetsan 100 ml/jam) ati alkohol dan glukokortikoid (contoh : Dexamethason 12 Mg/hari selama 3 hari). Lakukan persalinan pervaginam bila janin presentasi kepala atau  lakukan episiotomi lebar dan ada perlindungan forceps terutama pada kehamilan 35 minggu. Lakukan persalinan SC bila janin letak sunsang, gawata janin dengan syarat partus pervaginam tidak terpenuhi, infeksi Intrapartum dengan syarat partus pervaginam tidak terpenuhi, janin letak lintang, plasenta previa dan TBJ 1500 gr.

Download Lengkap
Disini




Selasa, 30 April 2013

ASUHAN KEBIDANAN INC PATOLOGI KOMPREHENSIF PADA NY “ R ” USIA KEHAMILAN 26 MINGGU T/H/INYTRA UTERINE,LETKEP DENGAN PARTUS PREMATURUS


Sampai saat ini mortalitas dan morbiditas neonatus pada bayi prematur masih sangat tinggi. Hal ini berkaitan dengan maturitas organ pada bayi lahir seperti paru, otak dan gastro intestinal. Penyebab persalinan preterm sering dapat dikenali dengan jelas, namun pada banyak kasus penyebab pasti tidak dapat diketahui. Beberapa faktor mempunyai andil dalam terjadinya persalinan preterm seperti faktor pada ibu, janin dan plasenta maupun faktor lain seperti sosioekonomi.

Pendekatan obstetri yang baik terhadap persalinan pretrm akan memberikan harapan terhadap ketahanan hidup dan kualitas hidup bayio pretm. Dibeberapa negara maju angka kematian neonatal pada persalinan prematur menunjukkan penurunan yang umumnya isebabkan oleh meningkatnya peranan neonatal intensive care dan akses yang lebih baik dan pelayanan ini.

Rabu, 24 April 2013

ASUHAN KEBIDANAN PATOLOGI ANC KOMPREHENSIF PADA NY “ N ” G3P200002 USIA KEHAMILAN 10 MINGGU DENGAN ABORTUS INKOMPLIT


Keguguran/abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan, manra melaporkan bahwa fetus dengan berat 397 gram dapat hidup terus. bayi dengan BB 700 – 800 gram dapat hidup, tapi hal ini dianggap sebagai suatu keajaiban. maki tinggi BB anak waktu lahir makin besar kemungkinannya untuk dapt hidup terus. faktor – faktor yang menyebabkan kematian fetus sangatlah banyak diantaranya kelainan ovum sekitar 50-80 /, kelainan genetalla Ibu, gangguan sirkulasi plasenta – penyekit ibu dan terlalu cepatnya carpus luteum menjadi atraki, diperkirakan keguguran spontan antara 10-15’/. namun demikian, frekuensi seluruh keguguran yang pasti sukar ditentukan karena abortus buatan banyak yang tidak di laporkan. Pencegahan dan penanganan aborsi harus dilakukan sendini mungkin yakni dengan menyarankan ibu hamil untuk segera periksa ketenaga kesehatan jika mengalami pendarahan dan melakukan istirahat total untuk memulihkan keadaan..

Senin, 15 April 2013

LANDASAN TEORI IUFD

PATOFISIOLOGI
Janin bisa juga mati di dalam kandungan (IUD) karena beberapa factor antara lain gangguan gizi dan anemia dalam kehamilan,hal tersebut menjadi berbahaya karena suplai makanan yang di konsumsi ibu tidak mencukupi kebutuhan janin. Sehingga pertumbuhan janin terhambat dan dapat mengakibatkan kematian. Begitu pula dengan anemia, karena anemia adalah kejadian kekurangan FE maka jika ibu kekurangan Fe dampak pada janin adalah irefersibel. Kerja organ – organ maupu aliran darah janin tidak seimbang dengan pertumbuh janin ( IUGR)

FAKTOR PREDISPOISISI
   1. factor ibu (High Risk Mothers)
    a. status social ekonomi yang rendah
    b. tingkat pendidikan ibu yang rendah
    c. umur ibu yang melebihi 30 tahun atau kurang dari 20 tahun
    d. paritas pertama atau paritas kelima atau lebih
    e. tinggi dan BB ibu tidak proporsional
    f. kehamilan di luar perkawinan
    g. kehamilan tanpa pengawasan antenatal
    h. ganggguan gizi dan anemia dalam kehamilan
    i. ibu dengan riwayat kehamilan / persalinan sebelumnya tidak baik seperti bayi lahir mati
    j. riwayat inkompatibilitas darah janin dan ibu
    2. factor Bayi (High Risk Infants)
    a. bayi dengan infeksi antepartum dan kelainan congenital
    b. bayi dengan diagnosa IUGR (Intra Uterine Growth Retardation)
    c. bayi dalam keluarga yang mempunyai problema social
    3. factor yang berhubungan dengan kehamilan
    a. abrupsio plasenta
    b. plasenta previa
    c. pre eklamsi / eklamsi
    d. polihidramnion
    e. inkompatibilitas golongan darah
    f. kehamilan lama
    g. kehamilan ganda
    H. infeksi
    i. diabetes
    j. genitourinaria

TANDA DAN GEJALA
   1. Ibu tidak merasakan gerakan janin
      Diagnosis :
     Nilai DJJ.
     Bila ibu mendaptkan sedatif, tunggu hilangnya pengaruh obat, kemudian nilai ulang.
     Bila DJJ abnormal,lihat penatalaksanaan DJJ abnormal
     Bila DJJ tidak terdengar, pastikan adanya kematian janin dengan stetoskop ( Doppler).
     Bila DJJ baik,berarti bayi tidur.
     Rangsang janin dengan rangsangan suara (bel) attau dengan menggoyangkan perut ibu sehingga ibu merasakan gerakan janin. Bila DJJ meningkat frekuensinya sesuai dengan gerakan janin, maka janin dapat dikatakan normal.
     Bila DJJ cenderung turun saat janin bergerak, maka dapat disimpulkan adanya gawat janin.

   2. Gerakan janin tidak dirasakan lagi
    Diagnosis :
    Gejala dan tannda selau ada Gejala dan tanda kadang – kadang ada Diagnosis kemungkinan
    Gerakan janinberkurang atau hilang.
    Nyeri perut hilang timbul atau menetap
    Perdarahan pervaginam sesudah hamil 22 minggu. Syok
    Uterus tegang / kaku.
    Gawat janin atau DJJ tidak terdengar. Solusio plasenta
    Gerakan janin dan DJJ tidak ada
    Perdarahan
    Nyeri perut hebat Syok
    Perut kembung / cairan bebas intra abdominal
    Kontur uterus abnormal
    Abdomen nyeri
    Bagian – bagian janin teraba
    Denyut nadi bu cepat Rupture uteri
    Gerakan janin berkurang atau hilang
    DJJ abnormal(<100/menit atau >140/ menit) Cairan ketuban bercampur mekonium Gawat janin
    Gerakan janin / DJJ hilang Tanda – tanda kehamilan berhenti
    Tinggi fundus uteri berkurang
    Pembesaran uterus berkurang Kematian janin

. PENILAIAN KLINIK
    1. Pertumbuhan janin (-),bahkan jiniin mengecil sehingga TFU menurun.
    2. Bunyi DJJ tidak terdengar dengan stetoskop dan pastikan dengan Doppler.
    3. Keluhan ibu: Berat badan ibu menurun.
    4.  Tulang kepala kolaps.
    5. USG : untuk memastikan kematian janin dimana gambarannya menunjukan janin tanpa tanda kehidupan.
     6. Pemeriksaan HCG urin menjadi negatif.
 Komplikasi :
 Trauma emosional yang berat menjadi bila watuu antara kematian janin dan persalinan cukup lama.
 Dapat terjadi infeksi bila ketuban pecah.
 Dapat terjadi koagulopati bila kematian janin berlangsung lebih dari 2 minggu.

JENIS – JENIS PERSALINAN UNTUK JANIN MATI
   Kematian janin dapat di bagi menjadi 4 golongan:
     Golongan l : Kematian sebelum masa hamil mencapai 20 minggu penuh.
     Golongan ll : Kematian sesudah ibu hamil 20 minggu hingga 28 minggu.
     Golongan lll :Kematian sesudah kehamilan lebih dari 28 minggu (Late Fetal Death).
     Golongan lV : Kematian yang tidak dapat di golongkan pada kertiga golongan diatas.

 Jenis – jenis pertolongan persalinan untuk janin mati:
 1. Pertolongan persalinan dengan perforasi kronioklasi
    Perforasi kronioklasi merupakan tindakan beruntun yang dilakukan pada bayi yang meninggal di dalam kandunagan untuk memperkecil kepala janin dengan perforation dan selanjutnya menarik kepala janin ( dengan kranioklasi) tindakan ini dapat dilakukan pada letak kepala oleh letak sungsang dengan kesulitan persalinan kepala.Dngan kemajuan pengawasan antenatal yang baik dan system rujukan ke tempat yang lebih baik , maka tindakan proferasi dan kraioklasi sudah jarang dilakukan.
    Bahaya tindakan proferasi dan kraniioklasi adalah perdarahan infeki, trauma jalan lahir dan yang paling berat ruptira uteri( pecah robeknya jalan lahir).
 2. Pertolongan persalinan dengn dekapitasi
    Letak lintang mempunyai dan merupakan kedudukan yang sulit untuk dapat lahir normal pervaginam. Gegagalan pertolongan pada letak lintang menyebabkan kematian janin, oleh karena itu kematian janin tidak layak dilkukan dengan seksio sesaria kecuali pada keadaan khusus seperti plasenta previa totalis, kesempitan panggul absolute. Perslinan di lakukan dengan jalan dekapitasi yaitu dengan memotong leher janin sehingga badan dan kepala janin dapat di lahirkan,
 3. Pertolongan persalinan dengan eviserasi
    Eviserasi adalah tindakan operasi dengan mengeluarkan lebih dahulu isi perut dan paru (dada) sehingga volume janin kecil untuk selanjutnya di lahirkan.
    Eviserasi adalah operasi berat yang berbahaya karena bekerja di ruang sempit untuk memperkecil volume janin bahaya yang selalu mengancam adalah perdarahan,infeksi dan trauma jalan lahir dengan pengawasan antalnatal yang baik, situasi kehamilan dengan letek lintang selalu dapat di atasi dengan versi luar atau seksio sesaria.
 4. Pertolongan persalinan dengan kleidotomi
     Kleidotomi adalah memotong tulang klavikula (tulang selangka) sehingga volume bahu mengecil untuk dapat melahirkan bahu. Kleidotomi masih dapat dilakukan pada anak hidup, bila diperlukan pada keadaan gangguan persalinan bahu pada anak yan besar.

DIAGNOSIS
 1. Anamnesis
    Ibu tidak merasakan gerakan janin dalam beberapa hari, atau gerakan janin sangat berkurang. Ibu merasakan perutnya tidak bertambah besar, bahkan bertambah kecil atau kehamilan tidak seperti biasanya. Atau wanita belakangan ini merasakan perutnya sering menjadi keras dan merasakan sakit seperti mau melahirkan.
 2. Inspeksi
    Tidak terlihat gerakan-gerakan janin, yang biasanya dapat terlihat terutama pada ibu yang kurus.
 3. Palpasi
    Tinggi fundus > rendah dari seharusnya tua kehamilan, tidak teraba gerakanan janin. Dengan palpasi yang teliti, dapat dirasakan adanya krepitasi pada tulang kepala janin.
 4. Auskultasi
    Baik memamakai setetoskop monoral maupun dengan Deptone akan terdengar DJJ.
 5. Reaksi kehamilan
    Reaksi kehamilan baru negatif setelah beberapa minggu janin mati dalam kandungan.
 6. Rontgen Foto Abdomen
    Adanya akumulasi gas dalam jantung dan pembuluh darah besar janin
    Tanda Nojosk : adanya angulasi yang tajam tulang belakang janin.
    Tanda Gerhard : adanya hiperekstensi kepala tulang leher janin
    Tanda Spalding : overlaping tulang-tulang kepala (sutura) janin
    Disintegrasi tulang janin bila ibu berdiri tegak
    Kepala janin kelihatan seperti kantong berisi benda padat.
 7. Ultrasonografi
 8. Tidak terlihat DJJ dan gerakan-gerakan janin.

 PENANGANAN PERTOLONGAN PERTOLONGAN PERSALINAN IUFD
   Penangan umum :
     Berikan dukungan emosional pada ibu
     Nilai DJJ
     Nilai ibu mendapa sedative, tungg hilangnya pengaruh obat, kemudian nilai ulang.
     Bila DJJ tidak terdengar minta beberapa orang mendengarkan menggunakan stetetoskop dopler.
   Penanganan pada masa persalinan :
    Kematian janin
    Kematian dapat terjadi akibat gangguan pertumbuhan janin, gawat janin, atau kelainan bawaan atau akibat infeksi yang tidak terdiagnosis sebelumnya sehingga tidak terobati.
    Jika pemeriksaan radiologic tersedia, konfirmasi kematian janin setelah lima hari. Tanda-tandanya berupa overlapping tulang engkorak, hiperfleksi kolumna, vertebralis, gelembung udara didlam jantung dan edema scalp.
     USG adalah sarana penunjang diagnostic yang baik untuk memastikan kematian janin dimana gambarannya menunjukan janin tanpa tanda hidup: tidak ada denyut jantung janin, ukuran kepala janin dan cairan ketuban berkurang.
     Dukungan mental emosional perlu diberikan kepada pasien selalu didampingi oleh orang terdekatnya. Yakinkan bahwa besar kemungkinan dapat jhir per vaginal.
    Pilihlah cra persalinan dapat secara aktif dengan induksi maupun ekspektatif, perlu dibicarakan dengan pasien dan keluarganya sebelum keputsan diambil.
   Bila pilihan penangasalinan nan adlah akspetif:
    o Tunggu persalinan spontan hingg dua minggu
    o Yakinkan bahwa 90% persalinan spontan akan terjadi tanpa komplikasi.
    o Jika trombosit dalam 2 minggu menurun tanpa persalinan spontan,lakukan penaganan aktif
    o Jika penanganan aktif akan dilakukan, nilai serviks:
    o Jika serviks matang, lakukann induksi persalinan dengan oksitosin atau prostaglandin.
    o Jika serviks belum mtang, lakukan pematangan serviks dengan prostaglandin atau kateter foley.
   Catatan: janagan lakukan amniotomi Karena beresiko infeksi.
    Persalinan dengan seksio sesarea merupakan alternative terakhir
    Jika persalinan spontan tidak terjadi dalam 2 minggu, trombosit menurun dan serviks belum matang, matangkan serviks dengan misoprostol:
     Tempatkan misoprostol 25mcg di puncak vagina, dapat di ulani sesudah 6 jam
     Jika tidak ada respon sesudah 2x25mcg misoprotol, naikan dosis menjadi 50mcgmenjadi setiap 6 jam.
  Catatan: jangan biarkan lebih dari 50mcg setiap kali dan jangan melebihi 4 dosis
     Jika ada tanda infeksi, berikan antibiotic untuk metritis
     Jika tes pembekuan sederhana lebih dari 7 menit atau bekuan mudah pecah, waspadai koagulopati
    Berikan kesempatan kepada ibu dan keluarganya untuk melihat dan melakukan berbagai kegiatan ritual bagi janin yang meninggal tersebut.
    Pemerikasaan patologi plasenta adalah untuk mengungkapkan adanya patologi plasenta dan infeksi.

Kamis, 11 April 2013

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. ”M” GII P10001 32 MINGGU DENGAN LETAK SUNGSANG DI BPS HJ. ISTIQOMAH


Mortalitas dan morbidilitas pada wanita hamil dan bersalin  adalah masalah besar di negara berkembang, di negara miskin, sekitar 25%-50%, kematian wanita subur usia disebabkan hal berkaitan dengan kehamilan. Kematian saat melahirkan biasanya menjadi faktor utama mortalitas wanita muda pada masa puncak produktivitasnya. Tahun 1996, WHO memperkirakan lebih dari 585.000 ibu pertamanya meniggal saat hamil atau bersalin.
            Menanggapi masalah kematian ibu yang demikian besar yaitu menurunkan angka kematian ibu menjadi separuh. MPS (Making Pregnancy Safel) meminta perhatian pemerintah dan masyarakat disetiap negara untuk :
1.      Menemptkan safe mother hood sebagai periorotas utama dalam rencana pembangunan nasional dan internasional

2.      Menyusun acuan nasional dan internasional

3.      Menyusun acuan nasional dan standar pelayanan maternal dan neonatal

4.      Mengembangkan sistem yang menjamin pelaksanaan standar yang telah disusun

5.      Meningkatkan upaya kesehatan promotif dalam kesehatan maternal dan neonatal serta pengendalian fertilitas pada tingkat keluarga dan lingkungannya.


Senin, 13 Agustus 2012

Sarkoma Uteri


A.     Definisi
Sarkoma uteri atau sarkoma uterus adalah penyakit yang ganas (kanker) sel terbentuk dalam otot rahim atau jaringan lain yang mendukung rahim. Rahim adalah bagian dari sistem reproduksi wanita. Rahim adalah organ, berongga berbentuk pir di panggul, di mana janin tumbuh. Leher rahim adalah di akhir, lebih rendah sempit rahim, dan mengarah ke vagina.
Sarkoma rahim adalah jenis penyakit yang sangat jarang, kanker yang terbentuk di dalam otot rahim atau pada jaringan yang mendukung rahim. Sarkoma rahim berbeda dengan kanker endometrium, penyakit di mana sel-sel kanker mulai tumbuh di dalam lapisan rahim.

B.  Penyebab
1.      Faktor genetik (keturunan)
2.      Pola hidup yang tidak baik (makan, aktifitas)
3.      Wanita yang obesitas memiliki kecenderungan lebih

C.     Tahap- tahap Dalam Sarkoma Uteri
1.       Tahap I
Pada tahap I, kanker ditemukan di rahim saja. Stadium I dibagi menjadi: tahap IA, tahap IB, dan tahap IC, berdasarkan seberapa jauh kanker telah menyebar.
a)      Stadium IA: Kanker di endometrium saja.
b) Stadium IB: kanker telah menyebar ke separuh bagian dalam miometrium (lapisan otot rahim).
c) Stadium IC: Kanker telah menyebar ke bagian luar miometrium.
2.      Tahap II
Pada tahap II, kanker telah menyebar dari uterus ke leher rahim. Tahap II dibagi menjadi tahap tahap IIA dan IIB, berdasarkan seberapa jauh kanker telah menyebar.
a) Stadium IIA: Kanker telah menyebar ke kelenjar dimana serviks dan rahim bertemu.
b) Stadium IIB: Kanker telah menyebar ke jaringan ikat leher rahim
3.      Tahap III
Pada tahap III, kanker telah menyebar di luar rahim dan leher rahim, tetapi belum menyebar di luar pelvis. Tahap III dibagi menjadi tahap IIIA dan IIIB tahap, berdasarkan seberapa jauh kanker telah menyebar di dalam panggul.
a) Stadium IIIA: Kanker telah menyebar ke satu atau lebih hal berikut: lapisan terluar dari rahim dan peritoneum.
b) Tahap IIIB: Kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di panggul dan di dekat rahim.
4.      Tahap IV
Pada tahap IV, kanker telah menyebar keluar panggul. Tahap IV dibagi menjadi IVA IVB panggung dan panggung, berdasarkan seberapa jauh kanker telah menyebar.
a) Stadium IVA : kanker telah menyebar ke lapisan kandung kemih dan usus.
b) Stadium IVB: kanker telah menyebar ke bagian lain dari tubuh luar panggul, termasuk kelenjar getah bening di perut dan selangkangan.

D.      Diagnosis Sarkoma Uteri
Tes yang memeriksa rahim digunakan untuk mendeteksi (mengetahui) dan mendiagnosis sarkoma uterus. Pengujian berikut dan prosedur dapat digunakan:
1. Fisik ujian dan sejarah
Sebuah ujian tubuh untuk memeriksa tanda-tanda kesehatan umum, termasuk memeriksa tanda-tanda penyakit, seperti benjolan atau apapun yang tampak tidak biasa. Sejarah kebiasaan kesehatan pasien dan penyakit masa lalu dan perawatan juga akan diambil.
2. Panggul uji
Uji dari vagina, leher rahim, rahim, tabung tuba, ovarium, dan rektum. Pemasangan dokter atau perawat satu atau dua dilumasi, jari bersarung dari satu tangan ke dalam vagina dan tangan lainnya diletakkan di atas perut bagian bawah untuk merasakan ukuran, bentuk, dan posisi uterus dan ovarium. Spekulum juga dimasukkan ke dalam vagina dan tampak dokter di vagina dan serviks untuk tanda-tanda penyakit. Sebuah tes smear atau Pap smear serviks biasanya dilakukan. Dokter juga menyisipkan jari, dilumasi bersarung ke dalam rektum untuk merasakan benjolan atau daerah abnormal.
3. Pap smear
Suatu prosedur untuk mengumpulkan sel-sel dari permukaan serviks dan vagina. Sepotong kapas, kuas, atau tongkat kayu kecil digunakan untuk lembut mengikis sel-sel dari leher rahim dan vagina. Sel-sel dilihat di bawah mikroskop untuk mengetahui apakah mereka normal. Prosedur ini juga disebut Pap smear. Karena sarkoma uterus dimulai di dalam rahim, kanker ini mungkin tidak muncul pada tes Pap smear.
4. Dilatasi dan kuret
Operasi untuk mengangkat contoh jaringan atau lapisan dalam rahim. Leher rahim adalah melebar dan kuret (alat berbentuk sendok) dimasukkan ke dalam rahim untuk menghapus jaringan. Contoh jaringan dapat diambil dan diperiksa di bawah mikroskop untuk tanda-tanda penyakit.
5. Biopsi Endometrial
Penghapusan jaringan dari endometrium (lapisan dalam rahim) dengan menyisipkan fleksibel, tabung tipis melalui leher rahim dan ke dalam rahim. Tabung ini digunakan untuk lembut mengikis sejumlah kecil jaringan dari endometrium kemudian lepaskan sampel jaringan. Seorang ahli patologi pandangan jaringan di bawah mikroskop untuk mencari sel-sel kanker.

E.      Gejala dan Tanda Sarkoma Uteri
1. Perdarahan rahim yang abnormal
2. Siklus menstruasi yang abnormal
3. Perdarahan diantara 2 siklus menstruasi (pada wanita yang masih mengalami menstruasi)
4. Perdarahan vagina atau spotting pada wanita pasca menopause
5. Perdarahan yang sangat lama, berat dan sering (pada wanita yang berusia diatas 40 tahun)
6. Nyeri perut bagian bawah atau kram panggul
7. Keluar cairan putih yang encer atau jernih (pada wanita pasca menopause)
8. Nyeri atau kesulitan dalam berkemih
9. Nyeri ketika melakukan hubungan seksual.

F.     Pengobatan Sarkoma Uteri
Prosedur berikut dapat digunakan untuk mengobati sarkoma uterus atau alternatif untuk menangani sarkoma uteri :
1. Laparotomi
Sebuah prosedur pembedahan di mana insisi (memotong) dibuat di dinding perut untuk memeriksa bagian dalam perut untuk tanda-tanda penyakit. Ukuran insisi tergantung pada alasan laparotomi sedang dilakukan. Terkadang organ dikeluarkan atau sampel jaringan yang diambil dan diperiksa di bawah mikroskop untuk tanda-tanda penyakit.
2. Perut dan pembasuhan panggul
Sebuah prosedur di mana suatu larutan garam ditempatkan ke dalam rongga panggul tubuh dan perut. Setelah waktu yang singkat, cairan akan dihapus dan dilihat di bawah mikroskop untuk memeriksa sel-sel kanker.
3. Total abdominal histerektomi
Sebuah prosedur pembedahan untuk membuang rahim dan leher rahim melalui sayatan besar (dipotong) di perut.
4. Bilateral salpingo-ooforektomi
Operasi untuk menghapus kedua ovarium dan kedua saluran tuba.
5. Limfadenektomi
Sebuah prosedur pembedahan di mana kelenjar getah bening dikeluarkan dan diperiksa di bawah mikroskop untuk tanda-tanda kanker. Untuk limfadenektomi regional, beberapa kelenjar getah bening di daerah tumor dihapus. Untuk limfadenektomi radikal, sebagian besar atau seluruh kelenjar getah bening di daerah tumor dihapus. Prosedur ini juga disebut diseksi kelenjar getah bening.

Myoma Uteri


A.    Pengertian
Mioma uteri adalah tumor jinak yang berada pada uterus atau organ rahim. Masyarakat umumnya menyebut mioma sebagai miom atau tumor otot rahim. Umumnya mioma uteri terletak pada dinding rahim dan dapat berkembang ke arah dalam atau ke arah luar. Statistik penderita mioma tidak diketahui secara pasti karena masih jarang karena umumnya mioma uteri ditemukan secara tidak sengaja dan umumnya jarang menimbulkan keluhan atau gejala. Umumnya sekitar 30% terjadi pada wanita yang berumur di atas 35 tahun. Mioma uteri dapat muncul lebih dari satu buah dan memiliki berat yang bervariasi mulai dari beberapa gram saja hingga mencapai 5 kg.


B.     Tujuan
Untuk mendeteksi dini adanya mioma uteri dan melakukan penanganan awal.

C.     Jenis

Berdasarkan letaknya mioma uteri terbagi atas 3 yaitu :
1.      Mioma Submokosum
Angka kejadian 5%. Berada di bawah endometrium dan menonjol kedalam ronggauterus. Paling sering menyebabkan perdarahan yang banyak, sehingga memerlukan histerektomi walaupun ukurannya kecil. Adanya mioma submukosa dapat dirasakansebagai suatu “Curet Bump” (benjolan waktu kuret). Kemungkinan terjadinyadegenerasi sarkoma juga lebih besar pada jenis ini. Sering mempunyai tangkai yang panjang sehingga menonjol melalui vagina, disebut sebagai mioma submukosa bertungkai yang dapat menimbulkan “Myomgeburt” sering mengalami nekrose atauulserasi.
2.      Mioma Intramural
Mioma terdapat didinding uterus diantara serabut miometrium. Kalau besar atau multiple dapat menyebabkan pembesaran uterus dan berbenjol-benjol.

3.      Mioma Subserosum
Letaknya di bawah tunika serosa, kadang-kadang vena yang ada dipermukaan pecahdan menyebabkan perdarahan intra abdominal. Dapat tumbuh diantara kedua lapisan ligamentum latum menjadi Mioma Intra Ligamenter. Dapat tumbuh menempel pada jaringan lain, misalnya ke ligametrium atau omentum dan kemudian membebaskan diri dari uterus, sehingga disebut Wedering/Parasitik Fibroid. Mioma subserosa yang bertangkan dapat menimbulkan torsi

D.    Penyebab
            Penyebab secara pasti mioma uteri masih belum diketahui. Umumnya penyebab dari mioma uteri adalah adanya reseptor estrogen yang lebih banyak dan tinggi pada sebagian jaringan otot rahim. Otot rahim yang memiliki reseptor estrogen berlebih akan pertumbuhan yang tidak normal dan lebih sensitif terhadap hormon estrogen sehingga muncullah tumor yang disebut sebagai tumor uteri. Pada saat terjadi kehamilan dan masa reproduksi, tumor uteri akan lebih lebih cepat tumbuh dibandingan otot rahim yang normal dan akan mengecil pada saat terjadi menopause.

E.     Pemeriksaan dan deteksi dini
Diagnosa mioma uteri memerlukan pemeriksaan USG, CT – Scan atau MRI. Umumnya dengan USG saja sudah cukup untuk mendiagnosa mioma uteri. Jika anda mengalami keluhan atau gejala mioma uteri maka segerakan periksa ke dokter anda.

F.      Gejala
Gejala dan ciri – ciri mioma uteri tergantung besar dan kecilnya tumor serta arah pertumbuhannya. Gejala mioma uteri juga sangat dipengaruhi oleh siklus haid karena mioma uteri sangat dipengaruhi oleh hormon estrogen. Umumnya mioma uteri tidak menimbulkan gejala jika besarnya tumor masih kecil. Gejala akan muncul jika telah terjadi desakan tumor mioma uteri ke organ sekitarnya. Umumnya gejala mioma uteri adalah :
a.    Hipermenore ( darah haid yang berlebihan).
b.    Dismenore (nyeri haid).
c.    Nyeri pada bagian bawah abdomen (perut) akibat penekanan dan terputarnya tangkal mioma uteri.
d.   Perdarahan vagina di luar masa haid dan tidak beraturan.
e.    Anemia.
f.     Gangguan BAB dan BAK jika mioma uteri telah menekan kandung kemih, ureter (saluran kencing), rektum (usus besar) dan organ rongga panggul lainnya.
g.    Kesulitan memiliki anak karena mioma uteri menyumbat saluran tuba dan kesulitan terjadi implantasi karena adanya mioma uteri pada dinding rahim.
h.    Adanya gangguan letak bayi dan plasenta, terhalangnya jalan lahir, kelemahan kontraksi rahim, perdarahan disertai nyeri dan resiko keguguran pada masa kehamilan.
i.      Perdarahan yang banyak dan gangguan pelepasan plasenta pasca melahirkan.

G.    Patofisiologis
Mioma memiliki reseptor estrogen yang lebih banyak dibanding miometrium normal. Teori cell nest atau teori genitoblat membuktikan dengan pemberian estrogen ternyata menimbulkan tumor fibromatosa yang berasal dari sel imatur. Mioma uteri terdiri dari otot polos dan jaringan yang tersusun seperti konde diliputi pseudokapsul. Mioma uteri lebih sering ditemukan pada nulipara, faktor keturunan juga berperan. Perubahan sekunder pada mioma uteri sebagian besar bersifaf degeneratif karena berkurangnya aliran darah kemioma uteri. Menurut letaknya, mioma terdiri dari mioma submukosum, intramular dan subserosum.

F. Penatalaksanaan
1. Terapi progestin
Diberikan untuk mengurangi kadar estrogen dan untuk mengurangi perdarahan.Gonadotropin-releasing hormon (GnRH) agonists mendatangkan menopause tiruan dengan menghentikan rangsangan gonadotropin terhadap ovarium. Ini menurunkan produksi estrogen dan rangsangan pertumbuhan tumor. Mioma akan mengecil apabila rangsangan estrogen dikurangi. Agonis GnRH selalu dipakai sebelum operasi untuk menegcilkan mioma. Obat ini dapat digunakan pada kasus terpilih untuk mengendalikan mioma yang menyebabkan kemandulan. Bilamanaagonis GnRHdihentikan, mioma mulai tumbuh kembali.

2. Miomektomi

Pengangkatan mioma saja dengan tetap memelihara rahim. Biasanya dilakukan dengan rencana untuk memelihara kesuburan. Resiko rekurensi dari mioma sebesar 40% dan resiko infertilitas sehabis miomektomi adalah sebesar 40%. Miomektomi juga dilakukan pada kasus mioma yang mengganggu proses persalinan. Miomektomi sering dilakukan melalui laparotomi tetapi dapat dilaksanakan juga melalui laparoskopi pada pasien terpilih. Mioma submukosum dapat dianggkat dengan histeroskopi. Miomektomi melalui sembarang jalan dapat menyembuhkan gejala dan memelihara kesuburan, tetapi pasien harus dikonsultasikan bahwa gejala dapat berulang dan infertilitas dapat terjadi
.
3.      Histerektomi

Adalah tindakan yang bisa dilakukan bila kesuburan tidak lagi dipertahankan. Histerektomi diindikasikan bila gejala-gejalanya cukup berat untuk membenarkan resiko operasi. Histerektomi selalu dikerjakan untuk mendeteksi masa adneksa pada kehadiran uterus yang besar dan karena pertumbuhan selanjutnya mungkin mengakibatkan tekanan pada struktur-struktur saluran kencing. Terapi pembedahan dilakukan dengan indikasi :
a.    Perdarahan pervaginam abnormal yang memberat.
b.    Ukuran tumor yang besar.
c.    Ada kecurigaan perubahan ke arah keganasan terutama jika pertambahan ukurantumor setelah menopause.
d.    Retensio urine.Tumor yang menghalangi proses persalinan.

Kanker Endometrium


A.    Pengertian
Kanker endometrium adalah jaringan atau selaput lender rahim yang tumbuh di luar rahim. Padahal, seharusnya jaringan endometrium melapisi dinding rahim.Kanker endometrium tumbuh pada ovarium, tuba falopii, dan saluran menuju vagina. Kanker ini bukan merupakan penyakit akibat hubungan seksual. Wanita muda maupun yang sudah tua dapat terkena penyakit ini. Walaupun pada umumnya yang terserang wanita yang sudah tua.

B.     Tujuan
Untuk mendeteksi dini adanya kanker endometrium dan melakukan deteksi awal awal.

C.     Faktor-faktor resiko kanker endometrium
a.       Obesitas atau kegemukan.
Memiliki resiko terkena kanker endometrium 2 – 20 kali dibanding wanita dengan berat badan normal. Obesitas merupakan faktor resiko yang dihubungkan dengan peningkatkan aromatisasi estrogen di jaringan lemak.
b.       Haid pertama (menarche).
Menarche sebelum usia 12 tahun memiliki resiko 1,6 kali lebih tinggi dibanding menarche setelah 12 tahun.
c.       Tidak pernah melahirkan.
Memiliki resiko terkena kanker endometrium lebih tinggi baik sudah menikah atau belum dibanding wanita yang pernah melahirkan. Penelitian menunjukkan bahwa 25% penderita kanker endometrium tidak pernah melahirkan anak (nulipara). Penelitian lainnya juga menunjukkan bahwa faktor ketidaksuburan(infertilitas) lebih berperan daripada jumlah melahirkan (paritas).
d.      Penggunaan estrogen.
Estrogen sering digunakan sebagai terapi sulih hormon. Peningkatan penggunaan hormon ini diikuti dengan meningkatnya resiko kanker endometrium.
e.       Hiperplasia endometrium.
Hiperplasia endometrium adalah pertumbuhan yang berlebihan dari jaringan selaput lendir rahim disertai peningkatan vaskularisasi akibat rangsangan estrogen yang berlebihan dan terus menerus. Disebut neoplasia endometrium intraepitel jika hiperplasia endometrium disertai sel-sel atipikal dan meningkatkan resiko menjadi kanker endometrium sebesar 23%.
f.        Diabetes mellitus (DM)
g.       Hipertensi
h.       Faktor lingkungan dan diet
i.         Riwayat keluarga
Ada kemungkinan terkena kanker endometrium, jika terdapat anggota keluarga yang  terkena kanker ini, meskipun prosentasenya sangat kecil.
j.         Tumor memproduksi estrogen
Adanya tumor yang memproduksi estrogen, misalnya tumor sel granulosa, akan meningkatkan angka kejadian kanker endometrium.
Faktor lainnya adalah faktor keluarga, faktor ini terkait dengan HNPCC (lynch II syndroma).

D.    Gejala kanker endometrium:
a.       Rasa sakit pada saat menstruasi.
b.      Rasa sakit yang parah dan terus menerus pada perut bagian bawah, rasa sakit ini akan bertambah pada saat berhubungan seks.
c.       Sakit punggung pada bagian bawah.
d.      Sulit buang air besar atau diare.
e.       Keluar darah pada saat buang air kecil dan terasa sakit.
f.       Keputihan bercampur darah dan nanah.
g.      Terjadi pendarahan abnormal pada rahim

E.     Deteksi Dini Kanker Endometrium
Karena gejala awal berupa perdarahan, maka umumnya penderita lebih awal melakukan pemeriksaan sehingga sebagian besar penyakit ini diketahui pada stadium awal.

   1. Stadium 1
2 2. Stadium 2
   3. Stadium 3
   4. Stadium 4
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...