Tampilkan postingan dengan label masa nifas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label masa nifas. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Agustus 2012

PERAWATAN LUKA PERINIUM


Pengertian Perawatan Luka Perinium
Perawatan adalah proses pemenuhan kebutuhan dasar manusia (biologis, psikologis, sosial dan spiritual) dalam rentang sakit sampai dengan sehat (Aziz, 2004). Perineum adalah daerah antara kedua belah paha yang dibatasi oleh vulva dan anus (Danis, 2000). Post Partum adalah selang waktu antara kelahiran placenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil (Mochtar, 2002). Perawatan perineum adalah pemenuhan kebutuhan untuk menyehatkan daerah antara paha yang dibatasi vulva dan anus pada ibu yang dalam masa antara kelahiran placenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil.
Tujuan Perawatan Perineum
Tujuan perawatan perineum menurut Hamilton (2002), adalah mencegah terjadinya infeksi sehubungan dengan penyembuhan jaringan.
Sedangkan menurut Moorhouse et. al. (2001), adalah pencegahan terjadinya infeksi pada saluran reproduksi yang terjadi dalam 28 hari setelah kelahiran anak atau aborsi.
Bentuk Luka Perineum
Bentuk luka perineum setelah melahirkan ada 2 macam yaitu :
1. Rupture
Rupture adalah luka pada perineum yang diakibatkan oleh rusaknya jaringan ;secara alamiah karena proses desakan kepala janin atau bahu pada saat proses p;ersalinan. Bentuk rupture biasanya tidak teratur sehingga jaringan yang robek sulit di;lakukan penjahitan. (Hamilton, 2002).
2. Episotomi
;Episiotomi adalah sebuah irisan bedah pada perineum untuk memperbesar muara v;agina yang dilakukan tepat sebelum keluarnya kepala bayi (Eisenberg, A., 1996).
E;pisiotomi, suatu tindakan yang disengaja pada perineum dan vagina yang sedang dalam keadaan meregang. Tindakan ini dilakukan jika perineum diperkirakan akan robek teregang oleh kepala janin, harus dilakukan infiltrasi perineum; dengan anestasi lokal, kecuali bila pasien sudah diberi anestasi epiderual. Insisi epi;siotomi dapat dilakukan di garis tengah atau mediolateral. Insisi garis tengah me;mpunyai keuntungan karena tidak banyak pembuluh darah besar dijumpai dis;ini dan daerah ini lebih mudah diperbaiki (Jones Derek, 2002).
Pada gam;bar berikut ini dijelaskan tipe episotomi dan rupture yang sering dijumpai dalam pro;ses persalinan yaitu :
1. Episiotomi media;l
2. Episiotomi mediol;;ateral
Sedangkan ru;pture meliputi
1. Tuberositas ischii;
2. Arteri pudenda int;erna
3. Arteri rektalis infe;rior

Lingkup Perawatan;
Lingkup pera;watan perineum ditujukan untuk pencegahan infeksi organ-organ reproduksi yang diseb;abkan oleh masuknya mikroorganisme yang masuk melalui vulva yang terbuka atau akibat dari perkembangbiakan bakteri pada peralatan penampunglochea (pembalut) (Feerer, 2001).
Sedangkan menuru;t Hamilton (2002), lingkup perawatan perineum adalah
1. Mencegah kontaminasi dari rektum
2. Menangani dengan lembut pada jaringan yang terkena trauma
3. Bersihkan semua keluaran ;y;ang menjadi sumber bakteri dan bau.
Waktu Perawatan;
Menurut Feerer (2001), waktu perawatan perineum adalah
1. Saat mandi
Pada saat mandi, ibu post partum pasti melepas pembalut, setelah terbuka maka ada kemungkinan terjadi kontaminasi bakteri pada cairan yang tertampung pada pembalut, untuk itu maka perlu dilakukan penggantian pembalut, demikian pula pada perineum ibu, untuk itu diperlukan pembersihan perineum.
2. Setelah buang air kecil
Pada saat buang air kecil, pada saat buang air kecil kemungkinan besar terjadi kontaminasi air seni padarektum akibatnya dapat memicu pertumbuhan bakteri pada perineum untuk itu diperlukan pembersihan perineum.
3. Setelah buang air besar.
Pada saat buang air besar, diperlukan pembersihan sisa-sisa kotoran disekitar anus, untuk mencegah terjadinya kontaminasi bakteri dari anus ke perineum yang letaknya bersebelahan maka diperlukan proses pembersihan anus dan perineum secara keseluruhan.
Penatalaksanaan
1. Persiapan
a. Ibu Pos Partum
Perawatan perineum sebaiknya dilakukan di kamar mandi dengan posisi ibu jongkok jika ibu telah mampu atau berdiri dengan posisi kaki terbuka.
b. Alat dan bahan
Alat yang digunakan adalah botol, baskom dan gayung atau shower air hangat dan handuk bersih. Sedangkan bahan yang digunakan adalah air hangat, pembalut nifas baru dan antiseptik (Fereer, 2001).
2. Penatalaksanaan
Perawatan khusus perineal bagi wanita setelah melahirkan anak mengurangi rasa ketidaknyamanan, kebersihan, mencegah infeksi, dan meningkatkan penyembuhan dengan prosedur pelaksanaan menurut Hamilton (2002) adalah sebagai berikut:
a. Mencuci tangannya
b. Mengisi botol plastik yang dimiliki dengan air hangat
c. Buang pembalut yang telah penuh dengan gerakan ke bawah mengarah ke rectum dan letakkan pembalut tersebut ke dalam kantung plastik.
d. Berkemih dan BAB ke toilet
e. Semprotkan ke seluruh perineum dengan air
f. Keringk;an perineum dengan menggunakan tissue dari depan ke belakang.
g. Pasang ;pembalut dari depan ke belakang.
h. Cuci ke;mbali tangan
3. Evaluasi;
Parameter yang digunakan dalam evaluasi hasil perawatan adalah:
a. Perineum tidak lembab
b. Posisi pembalut tepat
c. Ibu merasa nyaman
Faktor yang Mempengaruhi Perawatan Perineum
1. Gizi
Faktor gizi terutama protein akan sangat mempengaruhi terhadap proses penyembuhan luka pada perineum karena penggantian jaringan sangat membutuhkan protein.
2. Obat-obatan
a. Steroid : Dapat menyamarkan adanya infeksi dengan menggangu respon inflamasi normal.
b. Antikoagulan : Dapat menyebabkan hemoragi.
c. Antibiotik spektrum luas / spesifik : Efektif bila diberikan segera sebelum pembedahan untuk patolagi spesifik atau kontaminasi bakteri. Jika diberikan setelah luka ditutup, tidak efektif karena koagulasi intrvaskular.
3. Keturunan
Sifat genetik seseorang akan mempengaruhi kemampuan dirinya dalam penyembuhan luka. Salah satu sifat genetik yang mempengaruhi adalah kemampuan dalam sekresi insulin dapat dihambat, sehingga menyebabkan glukosa darah meningkat. Dapat terjadi penipisan protein-kalori.
4. Sarana prasarana
Kemampuan ibu dalam menyediakan sarana dan prasarana dalam perawatan perineum akan sangat mempengaruhi penyembuhan perineum, misalnya kemampuan ibu dalam menyediakan antiseptik.
5. Budaya dan Keyakinan
Budaya dan keyakinan akan mempengaruhi penyembuhan perineum, misalnya kebiasaan tarak telur, ikan dan daging ayam, akan mempengaruhi asupan gizi ibu yang akan sangat mempengaruhi penyembuhan luka.
Dampak Dari Perawatan Luka Perinium
Perawatan perineum yang dilakukan dengan baik dapat menghindarkan hal berikut ini :
1. Infeksi
Kondisi perineum yang terkena lokia dan lembab akan sangat menunjang perkembangbiakan bakteri yang dapat menyebabkan timbulnya infeksi pada perineum.
2. Komplikasi
Munculnya infeksi pada perineum dapat merambat pada saluran kandung kemih ataupun pada jalan lahir yang dapat berakibat pada munculnya komplikasi infeksi kandung kemih maupun infeksi pada jalan lahir.
3. Kematian ibu post partum
Penanganan komplikasi yang lambat dapat menyebabkan terjadinya kematian pada ibu post partum mengingat kondisi fisik ibu post partum masih lemah (Suwiyoga, 2004).

Jumat, 06 Juli 2012

INFEKSI PAYUDARA PADA MASA NIFAS (MASTITIS)


A.   Definisi Infeksi Masa Nifas

Infeksi masa nifas adalah semua peradangan yang disebabkan oleh masuknya kuman-kuman kedalam alat-alat genital pada waktu persalinan dan nifas. Demam nifas atau morbiditas puerperalis meliputi demam dalam masa nifas oleh sebab apapun.
Morbiditas puerperalis ialah kenaikan suhu tubuh sampai 38˚C atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama postpartum, dengan mengecualikan hari pertama

B. Infeksi Payudara
1.      Mastitis
a.       Definisi
Dalam masa nifas dapat terjadi infeksi dan peradangan pada mammae terutama pada primipara. Tanda-tanda adanya infeksi adalah 
 rasa panas dingin disertai dengan kenaikan suhu, penderita merasa lesu dan tidak ada nafsu makan. Penyebab infeksi adalah staphilococcus aureus. Mamae membesar dan nyeri dan pada suatu tempat, kulit merah, membengkak sedikit, dan nyeri pada perabaan. Jika tidak ada pengobatan bisa terjadi abses.
b.      Penyebab
Infeksi payudara biasanya disebabkan oleh bakteri yang banyak ditemukan pada kulit yang normal (Staphylococcus aureus).Bakteri seringkali berasal dari mulut bayi dan masuk ke dalam saluran air susu melalui sobekan atau retakan di kulit (biasanya pada puting susu).Mastitis biasanya terjadi pada wanita yang menyusui dan paling sering terjadidalam waktu 1-3 bulan setelah melahirkan.Sekitar 1-3% wanita menyusui mengalami mastitis pada beberapa minggu pertama setelah melahirkan. Pada wanita pasca menopause, infeksi payudara berhubungan dengan peradangan menahun dari saluran air susu yang terletak di bawah puting susu.Perubahan hormonal di dalam tubuh wanita menyebabkan penyumbatansaluran air susu oleh sel-sel kulit yang mati. Saluran yang tersumbat inimenyebabkan payudara lebih mudah mengalami infeksi.
  1. Payudara bengkak yang tidak disusukan secara adekuat.
  2. Bra yang terlalu ketat.
  3. Puting susu lecet yang menyebabkan infeksi.
  4. Asupan gizi kurang, istirahat tidak cukup dan terjadi anemia.
c.       Gejala
  1. Bengkak dan nyeri.
  2. Payudara tampak merah pada keseluruhan atau di tempat tertentu.
  3. Payudara terasa keras dan berbenjol-benjol.
  4. Ada demam dan rasa sakit umum.
d.      Berdasarkan tempatnya infeksi dibedakan menjadi :
a)      Mastitis yang menyebabkan abses dibawah areola mamae.
b)      Mastitis ditengah-tengah mammae yang menyebabkan abses ditempat itu.
c)      Mastitis pada jaringan dibawah dorsal dari kelenjar-kelenjar yang menyebabkan abses antara mammae dan otot-otot dibawahnya.
e.        Pencegahan
Perawatan putting susu pada laktasi merupakan usaha penting untuk mencegah mastitis. Perawatan terdiri atas membersihkan putting susu dengan minyak baby oil sebelum dan sesudah menyusui untuk menghilangkan kerak dan susu yang sudah mengering. Selain itu juga memberi pertolongan kepada ibu menyusui bayinya harus bebas infeksi dengan stafilococus. Bila ada luka atau retak pada putting sebaiknya bayi jangan menyusu pada mammae yang bersangkutan, dan air susu dapat dikeluarkan dengan pijitan.

f.       Pengobatan
Segera setelah mastitis ditemukan pemberian susu pada bayi dihentikan dan diberikan pengobatan sebagai berikut :
Ø  Berikan kloksasilin 500 mg setiap 6 jam selama 10 hari.
Ø  Sangga payudara
Ø  Kompres dingin
Ø  Bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg per oral setiap 4 jam.
Ø  Ikuti perkembangan 3 hari setelah pemberian pengobatan
Bila ada abses, nanah perlu dikeluarkan dengan sayatan sedikit mungkin pada abses, dan nanah dikeluarkan sesudah itu dipasang pipa ketengah abses, agar nanah bisa keluar. Untuk mencegah kerusakan pada duktus laktiferus sayatan dibuat sejajar dengan jalannya duktus-duktus. Atau jika terdapat masa padat, mengeras dibawah kulit yang kemerahan :
Ø  Berikan antibiotik kloksasilin 500 mg per oral 4 kali sehari selama 10 hari atau eritromisin 250 mg per oral 3 kali sehari selama 10 hari
Ø  Drain abses :
o Anestesi umum dianjurkan
o Lakukan insisi radial dari batas puting ke lateral untuk menghindari cidera atau duktus
o Gunakan sarung tangan steril
o Tampon longgar dengan kasa
o Lepaskan tampon 24 jam ganti dengan tampon kecil
Ø  Jika masih banyak pus tetap berikan tampon dalam lubang dan buka tepinya
Ø  Yakinkan ibu tetap menggunakan kutang
Ø  Berikan paracetamol 500 mg bila perlu
Ø  Evaluasi 3 hari

g.      Penangan Dan Peran Bidan
  1. Payudara dikompres dengan air hangat.
  2. Untuk mengurangi rasa sakit dapat diberikan pengobatan analgetika.
  3. Untuk mengatasi infeksi diberikan antibiotika.
  4. Bayi mulai menyusu dari payudara yang mengalami peradangan.
  5. Anjurkan ibu selalu menyusui bayinya. fadlie.web.id
  6. Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi dan istirahat cukup.
7.      Konseling suportif
           
Mastitis merupakan pengalaman yang sangat nyeri dan membuat frustrasi, dan membuat banyak wanita merasa sangat sakit. Selain dengan penanganan yang efektif dan pengendalian nyeri, wanita membutuhkan dukungan emosional. Ibu harus diyakinkan kembali tentang nilai menyusui; yang aman untuk diteruskan; bahwa ASI dari payudara yang terkena tidak akan membahayakan bayinya; dan bahwa payudaranya akan pulih baik bentuk maupun fungsinya.
8.      Pengeluaran Asi Dengan Efektif
Dengan membantu ibu memperbaiki kenyutan bayi pada payudara, mendorong untuk sering menyusui, sesering dan selama bayi menghendaki, tanpa pembatasan, bila perlu peras ASI dengan tangan atau dengan pompa atau botol panas, sampai menyusui dapat dimulai lagi.         
2.      Bendungan ASI
 a. Definisi
Bendungan ASI adalah pembendungan air susu karena penyempitan duktus laktiferi atau oleh kelenjar yang tidak dikosongkan dengan sempurna atau karena kelainan pada putting susu (Mochtar, 1996).
Menurut Huliana (2003) payudara bengkak terjadi karena hambatan aliran darah vena atau saluran kelenjar getah bening akibat ASI terkumpul dalam payudara. Kejadian ini timbul karena produksi yang berlebihan, sementara kebutuhan bayi pada hari pertama lahir masih sedikit.
b. Patologi
Faktor predisposisi terjadinya bendungan ASI antara lain :
Faktor hormon
 Hisapan bayi
 Pengosongan payudara
Cara menyusui
Faktor gizi
 Kelainan pada puting susu

c.  Patofisiologi
a.       Gejala yang biasa terjadi pada bendungan ASI antara lain payudara penuh terasa panas, berat dan keras, terlihat mengkilat meski tidak kemerahan.
b.      ASI biasanya mengalir tidak lancar, namun ada pula payudara yang terbendung membesar, membengkak dan sangat nyeri, puting susu teregang menjadi rata.
c.       ASI tidak mengalir dengan mudah dan bayi sulit mengenyut untuk menghisap ASI. Ibu kadang-kadang menjadi demam, tapi biasanya akan hilang dalam 24 jam (Mochtar, 1998).

d.      Penatalaksanaan dan Peran Bidan

Upaya pencegahan untuk bendungan ASI adalah :
 Menyusui dini, susui bayi sesegera mungkin (setelah 30 menit) setelah dilahirkan
 Susui bayi tanpa jadwal atau ondemand
 Keluarkan ASI dengan tangan atau pompa, bila produksi melebihi kebutuhan bayi
 Perawatan payudara pasca persalinan

Upaya pengobatan untuk bendungan ASI adalah :
d.      Kompres hangat payudara agar menjadi lebih lembek
e.       Keluarkan sedikit ASI sehingga puting lebih mudah ditangkap dan dihisap oleh bayi.
f.       Sesudah bayi kenyang keluarkan sisa ASI
g.      Untuk mengurangi rasa sakit pada payudara, berikan kompres dingin
h.      Untuk mengurangi statis di vena dan pembuluh getah bening lakukan pengurutan (masase) payudara yang dimulai dari putin kearah korpus. (Sastrawinata, 2004)

3.      Abses Payudara
a.       Definisi
Abses payudara berbeda dengan mastitis. Abses payudara terjadi apabila mastitis tidak tertangani dengan baik, sehingga memperberat infeksi.
b.      Gejala
  1. Sakit pada payudara ibu tampak lebih parah.
  2. Payudara lebih mengkilap dan berwarna merah.
  3. Benjolan terasa lunak karena berisi nanah.
  4. Payudara yang tegang dan padat kemerahan.
  5. Pembengkakan dengan adanya fluktuasi.
  6. Adanya pus/nanah.
c.       Penanganan dan Peran Bidan
  1. Teknik menyusui yang benar.
  2. Kompres payudara dengan air hangat dan air dingin secara bergantian.
  3. Meskipun dalam keadaan mastitis, harus sering menyusui bayinya.
  4. Mulailah menyusui pada payudara yang sehat.
  5. Hentikan menyusui pada payudara yang mengalami abses, tetapi ASI harus tetap dikeluarkan.
  6. Apabila abses bertambah parah dan mengeluarkan nanah, berikan antibiotik.
  7. Rujuk apabila keadaan tidak membaik.
4.      Saluran tersumbat
Saluran tersumbat hampir selalu dapat terselesaikan tanpa pengobatan khusus antara 24 hingga 48 jam setelah terjadi. Selama sumbatan itu masih ada, bayi mungkin saja rewel ketika menyusu di payudara tersebut karena aliran ASI akan lebih lambat dari biasanya. Hal ini mungkin disebabkan karena adanya tekanan dari benjolan yang menekan saluran lain. Saluran tersumbat dapat diatasi lebih cepat jika :
1)      Teruskan menyusui pada payudara yang sakit, dan kosongkan payudara dengan lebih baik. Hal ini dapat dilakukan dengan :
a.       Sedapat mungkin melakukan pelekatan yang baik (lihat lembar informasi “Ketika Melekat/When Lacthing” juga video klip bagaimana melekatkan bayi pada situs nbci.ca)
b.      Menggunakan tekanan pada payudara untuk menjaga ASI tetap mengalir (lihat lampiran informasi “Penekanan Payudara/Breast Compression” dan video klip bagaimana melekatkan bayi pada situs nbci.ca). Letakkan tangan di sekitar saluran yang tersumbat dan jika tidak terlalu sakit, tekan saat bayi sedang menyusui.
c.       Susui bayi dengan posisi sedemikian rupa sehingga dagu bayi ”mengarah” pada saluran yang tersumbat. Jadi, bila saluran tersumbat ada pada bagian luar bawah payudara (arah jam 7), maka menyusui bayi dengan posisi football dapat sangat membantu.
2)      Hangatkan area yang terinfeksi. Anda bisa melakukan ini dengan bantalan penghangat atau botol berisi air panas, tetapi hati-hati untuk tidak membakar kulit dengan menempelkan yang terlalu panas untuk waktu yang terlalu lama.
3)      Coba untuk beristrirahat. Tentu saja, dengan kehadiran seorang bayi baru tidaklah mudah untuk beristirahat. Cobalah untuk tidur. Bawa bayi bersama Anda ke tempat tidur dan susui dia di sana.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...