Kamis, 25 Juni 2009

STANDAR DAN MUTU PELAYANAN KEPERAWATAN 2

5) Mutu Pelayanan Prima
a) Konsep Mendahulukan Kepentingan Pelanggan.
Pelayanan Prima adalah pelayanan yang memuaskan pelanggan/klien. Salah satu indikator adanya kepuasan pelanggan/klien adalah tidak adanya keluhan dari pelanggan/klien. Akan tetapi, didalam praktek k.eluhan-keluhan pelanggan/klien ini akan selalu ada. Perawat pemberi pelayanan wajib menanggapi dan menghadapi keluhan pelanggan/klien tersebut untuk kepentingan dan kepuasan pelanggan/klien. Untuk itu, pemberi pelayanan (perawat) perlu mengetahui sumber-sumber keluhan pelanggan/klien dan mengetahui cara-cara mengatasi keluhan pelanggan/klien.
Menurut Endar Sugiarto (1999), sumber-sumber keluhan pelanggan antara lain adalah : pelanggan internal dan pelanggan eksternal. Pelanggan internal adalah pegawai instansi/orgnaisasi yang bersangkutan dan para pemimpin instansl/organiasasi yang bersangkutan. Seorang pegawai suatu instansi/organisasi yang tidak betah bekerja karena lingkungan kerja dan situasi pegawai yang ada di dalamnya. Suasana nyaman dan harmonis akan mempengaruhi kesiapannya dalam menghadapi pelanggan eksternal. Para pemimpin instansi/organisasi dapat menjadi sumber keluhan, karena pemimpin sering mendapat masukan dari pada pelanggan eksternal tentang pelayanan di instansinya. Perhatian utama suatu instansi/organisasi adalah pelanggan eksternal, yaitu masyarakat. Kunci utama keberhasilan pelayanan terletak pada cara instansi/organisasi tersebut memperlakukan pelanggan eksternal ini. Untuk pelayanan keperawatan maka semua karyawan adalah mitra dalam memberikan pelayanan sehingga muncul rasa nyaman dan harmonis. Hal tersebut sangat mendukung untuk pelayanan yang prima terhadap pelanggan/klien ekstenal yaitu orang lain (masyarakat) di luar institusi/organisasi



1) Kategori Keluhan Pelanggan:
Menurut Endar Sugiarto (1999), keluhan pelanggan dapat dikategorikan/dikelompokkan menjadi empat, yaitu:
• Mechanical Complaint (Keluhan Mekanikal)
Mechanical clomplaint adalah suatu keluhan yang disampaikan oleh pelanggan sehubungan dengan tidak berfungsinya peralatan yang dibeli/disampaikan kepada pelanggan tersebut. Dalam hal pelayanan keperawatan maka peralatan yang dimaksud adalah semua peralatan yang berhubungan dengan pelayanan perawatan saat perawat memberikan pelayanan.
• Attitudinal Comptant (Keluhan akibat sikap petugas pelayanan)
Attitudinal complaint adalah keluhan pelanggan yang timbul karena sikap negative petugas pelayanan (perawat) pada saat melayani pelanggan/klien. Hal ini dapat dirasakan oleh pelanggan/klien melalui sikap tidak peduli dari petugas pelayanan (perawat) terhadap pelanggan/klien.
• Service Related Complaint (Keluhan yang berhubungan dengan pelayanan)
Service related complaint adalah suatu keluhan pelanggan/klien karena hal-hal yang berhubungan dengan pelayanan itu sendiri. Misalnya seseorang mendaftar untuk berobat/rawat jalan, ternyata formulir pendaftaran (family folder) belum siap dan oleh petugas diminta untuk menunggu.
• Unusual Complaint (Keluhan yang aneh)
Unusual complaint adalah keluhan pelanggan/klien yang bagi petugas merupakan keanehan (tjdak wajar/tidak umum). pelanggan yang mengeluh seperti ini sebenarnya secara psikologis adalah orang-orang yang hidupnya tidak bahagia atau kesepian.
2) Cara mengatasi keluhan pelanggan
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menghadapi keluhan pelanggan/klien,antara lain adalah:
o Pelanggan biasanya marah pada saat menyampaikan ke luhan. Oleh karena itu perawat tidak boleh terpancing untuk ikut marah.
o Perawat tidak boleh memberikan janji-janji yang sebenarnya sulit dipenuhi serta tidak menjanjikan sesuatu yang berada di luar wewenangnya
o Jika permasalahan tidak dapat diselesaikan sedangkan perawat sudah berbuat maksimal, perawat harus berani menyatakan menyerah dengan jujur.
o Ada pelanggan/klien yang selalu mengeluh. Untuk menghadapi pelanggan seperti itu, perawat harus sabar dan melakukan pendekatan secara khusus.
b) Pelayanan dengan sepenuh hati.
Menurut Endar Sugiarto (1999), pada hakekatnya pelanggan itu tidak membeli produk, tetapi mereka membeli pelayanan. Ini merupakan falsafah bisnis dalam upaya memberikan pelayanan yang prima. Pelayanan di sini adalah pelayanan dalam segala bentuk kreasi dan manifestasinya. Untuk itu, kita lebih banyak belajar tentang para pelanggan/klien kita, agar kita dapat memberikan pelayanan dengan sepenuh hati dan dengan cara yang lebih baik di masa yang akan datang.
c) Budaya Pelayanan Prima
Menganggap bahwa pelayanan prima sebagai suatu budaya berarti rnelakukan kegiatan pelayanan sebagai suatu hal yang membanggakan dengan nilai luhur yang dijunjung tinggi. Budaya pelayanan prima adalah sebuah budaya yang kuat yang mewarnai sifat hubungan antara perawat pemberi pelayanan. Budaya pelayanan prima dibentuk oleh sikap perawat dan manajemen instansi/organisasi pemberi pelayanan.
d) Sikap Pelayanan Prima.
Sikap pelayanan prima berarti pengabdian yang tulus terhadap bidang kerja dan yang paling utama adalah kebanggaan atas pekerjaan. Sikap anda dapat menggambarkan instansi/organisasi anda. Anda adalah perwakilan instansi/organisasi baik secara langsung maupun tidak langsung. Pelanggan akan menilai instansi/organisasi dari kesan pertama mereka dalam berinteraksi dengan orang-orang yang terlibat dalam instansi/organrsasi tersebut. Apabila pagi itu kebetulan andalah orang pertama yang berhubungan dengan pelanggan, anda akan mewakili gambaran dari instansi/organisasi anda.
e) Sentuhan Pribadi Pelayanan Prima
Pelayanan prima sangat memperhatikan individu sebagai pribadi yang unik dan menarik setiap pelanggan/klien memiliki sifat dan dapat membuat para perawat bahagia atau kecewa. Sentuhan pribadi mengarahkan para perawat selaku pemberi pelayanan untuk berpikir bahwa memperlakukan orang lain sebagaimana kita memperlakukan diri kita sendiri perlu selalu dipraktekan. Yang diutamakan dalam pelayanan prima bukanlah slogan-slogan untuk memberikan pelayanan terbaik bagi pelanggan, melainkan bentuk nyata pelayanan yang sebelumnya sudah diberikan dalam pelatihan-pelatihan dan dapat diterapkan pada saat praktek di lapangan, ketika berhubungan langsung dengan pelanggan/klien. Karena pelayanan prima merupakan budaya, identitas, sarana kompetisi, pelanggan/klien merasa penting, rekan sekerja merasa nyaman bersama kita dan kita dapat melayani pelanggan/klien dengan cepat, tepat, ramah, mengutamakan kepuasan pelanggan/klien, menepati janji, bahasa yang baik dalam bertelepon, menunjukkan etika dan sopan santun, merasa puas dan bangga akan pekerjaan kita, bekerja dengan antusias, kepercayaan diri yang tinggi, menawarkan bantuan, senyum yang tulus, humor yang menyenangkan, mendengarkan dengan baik dan dengan konsep win-win.
f) Pelayanan prima sesuai dengan pribadi Prima.
Konsep pribadi prima meliputi unsur-unsur kepribadian, penampilan, perilaku dan komunikasi yang prima. Seseorang perawat dapat dikatakan memiliki pribadi prima apabila :
• Tampil ramah
• Tampil sopan dan penuh hormat
• Tampil yakin
• Tampil rapi.
• Tampil ceria
• Senang memaafkan
• Senang bergaul
• Senang belajar dari orang lain
• Senang pada kewajaran
• Senang menyenangkan orang lain
Adapun konsep kualitas pelayanan menurut pandangan Cristopher Lovelock dalam Product plus (1994: 178-188) yang mengemukakan tentang bagaimana suatu produk bila ditambah dengan pelayanan akan menghasilkan suatu kekuatan yang memberikan manfaat lebih. Selanjutnya Lovelock mengemukakan melalui diagram bunganya dimana terdapat 8 (delapan) suplemen pelayanan (the eight petals on the flower of service) yang terdiri dari ;
1, Information
Proses suatu pelayanan yang berkualitas dimulai dari suplemen informasi dari pelayanan yang diperlukan oleh klien. Seorang pelanggan/klien akan menanyakan kepada perawat tentang apa, bagaimana, berapa, kepada siapa, dimana diperoleh, dan berapa lama memperoleh pelayanan yang diinginkan. Penyedia informasi memberikan kemudahan kepada pelanggan/klen.
2. Consutation
Setelah memperoleh informasi yang diinginkan, biasanya klien akan membuat suatu keputusan, yaitu menerima atau tidak menerima pelayanan yang diberikan. Di dalam proses memutuskan ini serjngkali diperlukan pihak-pihak yang dapat diajak untuk berkonsultasi.
3. Ondertaking
Keyakinan yang diperoleh klien melalui konsultasi akan menggiring pada tindakan untuk meminta pelayanan yang diinginkan. Penilaian klien pada titik ini adalah ditekankan pada kualitas pelayanan yang mengacu pada kemudahan aplikasi maupun administrasi pemesanan jasa pelayanan yang tidak berbelit-belit, fleksibel, biaya murah, syarat ringan, dan sebagainya.
4. Horspitality
Pelanggan/klien yang berurusan secara langsung ke tempat-tempat transaksi akan memberikan penilaian tehadap sikap ramah dan sopan dari perawat, ruang tunggu yang nyaman, kafe untuk makan dan minum, hingga tersedianya wc/toilet yang bersih.
5. Cretaking
Latar belakang pelanggan/klien yang beragam akan menuntut pelayanan yang berbeda-beda pula. Misalnya yang berduil menginginkan tempat/ruangan yang leluasa (misalnya VIV), yang tidak mau keluar rumah menginginkan fasilitas pelayanan di rumah (home care). Kesemuanya harus dipedulikan oleh perawat.
6. Exception
Beberapa pelanggan/klien kadang-kadang menginginkan pengecualian kualitas pelayanan, misalnya saja bagaimana dan dengan cara apa perawat melayani permintaan pelanggan/klien yang datang secara tiba-tiba, jaminan terhadap berfungsinya alat-alat kesehatan yang dipasang/terpasang, restitusi akibat peralatan yang digunakan tidak bisa dipakai dan sebagainya.
7. Billing
Titik rawan ke tujuh pada administrasi pembayaran. Niat baik pelanggan untuk bertransaksi sering gagal pada titik ini. Petugas harus memperhatikan hal-hal yang terkait dengan administrasi pembayaran, baik mekanisme pembayaran atau pengisian formulir transaksi.
8. Payment
Pada ujung pelayanan, harus disediakan fasilitas pembayaran berdasarkan pada keinginan pelanggan. Dapat saja berupa self service payment seperti koin telepon, transfer bank, credit card dan sebagainya.


Sumber :

Sutopo, Drs,MPA, Suryanto, Adi, Drs,M.Si, 2003, Pelayanan Prima Bahan Ajar Diklat Prajabatan Golongan III (Edisi Revisi I), Jakrata : Lembaga Administrasi Negara RI

Rabu, 10 Juni 2009

STANDAR DAN MUTU PELAYANAN KEPERAWATAN

A. Perubahan Paradigma Pelayanan

Paradigma merupakan sekumpulan asumsi atau anggapan yang memungkinkan seseorang menciptakan realitasnya sendiri (Tjiptono 1997) Pelayanan pada masyarakat di masa datang itu hendaknya : makin lama makin baik (better), makin lama makin cepat (faster), makin lama makin diperbaharui (newer), makin lama makin murah (cheaper) dan makin lama makin sederhana (more simplel).
W.Edwards Deming telah mengembangkan apa yang disebut "Total Quality Management” (Manajemen Mutu Terpapu) (Gaspersz, 19970.Total Q uality Managemen (TQM) telah berhasil mengatasi berbagai permasalahan diperusahaan sehingga dapat meningkatkan mutu dan sekaligus menekan biaya serta mengatiasi permasalahan lainnya.
Pada awalnya TQM diterapkan didunia usaha. Oleh karena keberhasilannya, maka instansi pemerintah kemudian mencoba menerapkannya, misalnya TQM diterapkan di Angkatan udara Amerika Serikat (Creech, 1996). Total Quatity Management merupakan paradigma baru dalam manajemen yang berusaha memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan secara berkesinambungan atas mutu barang, jasa, manusia dan lingkungan organisasi. TQM hanya dapat dicapai dengan memperhatikan hal -hal berikut ini( Tjjptono19 97) :




1) Berfokus pada pelanggan yang menentukan mutu barang dan jasa adalah pelanggan eksternal. Pelanggan internal berperan d alam menentukan mutu manusia, proses dan lingkungan yang berhubungan dengan barang atau jasa.
2) Obsesi terhadap mutu. Penentu akhir mutu adalah pelanggan internal dan eksternal. Dengan mutu yang ditentukan tersebut organisasi harus berusaha memenuhi atau melebihi yang telah ditentukan.
3) Pendekatan ilmiah.Terutama untuk merancang pekerjaan dan proses pembuatan keputusan dan pemecahan masalah yang berkaitan dengan pekerjaan yang dirancang tersebut.
4) Komitmen jangka panjang. Agar penerapan TQM dapat berhasil, dibutuhkan budaya.
5) KerjasamaTim. Untuk menerapkan TQM, kerjasama tim ,kemitraan dan hubungan perlu terus menerus dijalin dan dibina, baik antar aparatur dalam organisasi maupun dengan pihak luar (masyarakat).
6) Perbaikan sistem secara berkesinambungan. Setiap barang dan jasa dihasilkan melalui proses-proses di dalam suatu sistem/lingkungan. Oleh karena itu, sistem yang ada perlu diperbaiki secara terus menerus agar mutu yang dihasilkan meningkat.
7) Pendidikan dan pelatihan dalam organisasi yang menerapkan TQM, pendidikan dan pelatlhan merupakan faktor fundamental. Disini berlaku prinsip belajar merupakan proses yang tidak ada akhirnya dan tidak mengenal batas usia.

B. Pelayanan Mengacu pada Kepuasan Pelanggan/Klien

Kepuasan didefinisikan sebagai tingkat perasaan seseorang setelah membandignkan kinerja (hasil) yang dirasakan dengan harapannya. Oleh karena itu, maka tingkat kepuasan adalah perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan. Dengan demikian apabila dikaitkan dengan pelanggan/klien, maka pelanggan dapat merasakan hal-hal sebagai beriku :
1) Kalau kinerjanya dibawah harapan, pelanggan akan merasa kecewa.
2) Kalau kinerjanya sesuai harapan, pelanggan akan merasa puas.
3) Kalau kinerjanya melebihi harapan, pelanggan akan sangat puas.
Bagi perawat, pelayanan yang perlu mendapat perhatian adalah orang yang sangat puas akan mempunyai ikatan emosional dengan suatu pelayanan atau jasa dan ini menyebabkan loyalitas klien menjadi tinggi. Oleh karena itu, perawat selaku pemberi pelayanan dihadapkan pada tantangan membangun budaya organisasi, yaitu agar semua orang yang berada dilingkungan institusi perawatan bertujuan memuaskan kepuasan klien.
Kepuasan klien merupakan tujuan utama pelayanan prima. Oleh karena itu setiap perawat pemberi pelayanan berkewajiban untuk berupaya memuaskan kliennnya. Kepuasan klien dapat dicapai apabila perawat mengetahui siapa kliennya, baik klien internal maupun klien eksternal. Dengan mengetahui siapa kliennya, maka perawat akan dapat mengidentifikasi apa keinginan kliennya.
Kepuasan pelanggan/klien dapat dicapai apabila keinginan atau harapan pelanggan dapat terpenuhi. Mengenai mutu, Tjiptono (1997) menyalakan bahwa sedikitnya ada tiga level (tingkat) harapan pelanggan/klien, yaitu :
1) Harapan pelanggan/klien yang paling sederhana dan berbentuk asumsi "must have" atau "take it for granted". Misalnya (a) saya berharap perawatan saya sampai selesai dan sembuh, atau (b) saya berharap perawat dapat melayani saya dengan aman dan menangani penyakit saya dengan benar.
2) Pada level kedua, kepuasan pelanggan/klien dicerminkan dalam pemenuhan persyaratan dan atau spesifikasi terertentu. Misalnya (a) saya berharap dilayani dengan ramah oleh perawat, atau (b) saya pergi ke rumaha sakit dan perawatnya ternyata sangat ramah, informalif dan suka menolong saya.
3) Pada level ketiga ini pelanggan menuntut suatu kesenangan (delightfulness) atau jasa yang demikian bagusnya, sehingga membuat pelanggan tertarik. Misalnya (a) perawat memberi semua pasien pelayanan yang sama tanpa membedakan kaya dan miskin, pejabat atau jelata dan sebagainya. Contoh lain adalah (b) semua perawat melayani saya dengan penuh respek dan menjelaskan sesuatunya secara cermat. Akan tetapi yang paling mengesankan saya adalah ketika mereka menelepon saya di rumah hari berikutnya dan menanyakan apakah saya baik-baik saja.


bersambung........

Sumber :

Sutopo, Drs,MPA, Suryanto, Adi, Drs,M.Si, 2003, Pelayanan Prima Bahan Ajar Diklat Prajabatan Golongan III (Edisi Revisi I), Jakrata : Lembaga Administrasi Negara RI

KARANG TARUNA DAN PERANNYA DALAM KESEHATAN

Oleh : Mahyuliansyah
Karang Taruna adalah organissasi kepemudaan Indonesia yang merupakan wadah pengembangan generasi muda nonpartisan, yang tumbuh atas daasr kesadaran dan rasa tanggung jawab sosial dari dan oleh masyarakat khususnya generasi muda di wilayah desa/kelurahan.
Sebagai organisasi yang bergerak di bidang Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan berfungsi sebagai subyek maka karang taruna sedapat mungkin mampu menunjukkan fungsinya dan perannya secara optimal. Memiliki program kegiatan yang jelas sesuai dengan kebutuhan dan permaslahan yang ada di sekitarnya. Program yang dijalankan melembaga dan harus terarah yang melibatkan semua generasi muda yang ada.
Beberapa program Upaya Kesejahteraan Sosial Karang Taruna yang dapat dikontribusikan pada lembaga/organissi lain dan bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya, antara lain : Pencegahan/preventif terhadap tumbuhnya kenakalan remaja dan penyalahgunaan narkotika dan lain-lain.


Salah satu tujaan dari Karang Taruna hubungan dengan kesehatan adalah :
Terwujudnya pertumbuhan dan perkembangan kesdaran tanggung jawab social setiap generasi muda warga Karang Taruna dalam mencegah, menangkal, menanggulangi dan mengantisifasi berbagai masalah social. Masalah kesehatan di masyarakat merupakan salah satu permasalahan social yang ada. Tindakan karang taruna dalam ikut mencegah, menaggulangi dan mengantisifasi menyebarnya suatu penyakti (misalnya TB Paru dan HIV/AIDS) merupakan suatu bentuk nyata dari tujuan adanya karang taruna.
Berasarkan tugas pokok dari Karang taruna kaitannya degan masalah kesehatan, yaitu :
Secara bersama-sama dengan pemerintah dan komponen masyarakat lainnya untuk menangulangi berbagai masalah social terutama yang dihadapi generasi muda, baik yang bersifat preventif, rehabillitatif maupun pengebangan potensi generasi muda dilingkungannya. Sebagi peran serta dalam kegiatan pengendalian menyebarnya suatu penyakit (misalnya TB Paru) maka anggota karang taruna berperan sebagai pendidik dan penyuluh lapangan. Kegiatan ini didukung oleh pihak pemerintah dengan mengadakan suatu kegiatan sosialisasi penaykit-penyakit yang berbahaya dan dapat menular yang diselenggarakan instansi kesehatan khususnya Pusat Kesehatan Masyarakat.
Sedangkan menurut fungsinya yang mempunyai hubungan dengan masalah kesehatan diantaranya penyelenggara usaha kesejahteraan social, penyelenggara pendidikan dan pelatihan bagi masyarakat, penyelenggara pemberdayaan masyarakat terutama geneasi muda secara komprehensip, terpadu dan terarah serta berkesinambungan. Penanaman pengeertian, memupuk dan meningkatkan kesadaran tanggung jawab social generasi muda, Penyelenggara usaha-usaga pencegahan permasalahan social yang aktual. Dari kesemua fungsi yang berhubungan dengan permasalahan social yang ada di atas dalam penerapan untuk masalah kesehatan sangatlah bersesuaian seperti penyelenggara usaha kesehatan , penyelenggara pendidikan dan pelatihan kesehatn bagi masyarakat, penyelenggara pemebrdayaan masyarakat di bidang kesehatan. Penananman, memupuk dan meningkatkan kesadaran tanggug jawab kesehatan bagi generasi muda. Penyelenggara usaha-usaha pencegahan permasalahan kesehatan yang aktual. Fungsi-fungsi tersebut akan dapat berjalan dan terlaksana jika anggota karang taruna telah dibekali tentang pengetahuan permasalah kesehatan pada umumnya dan penyakit-penyakit berbahaya dan menular.

SOSIALISASI PENYAKIT TBC BAGI GENERASI MUDA DI WILYAH PUSKESMAS AMUNTAI SELATAN KECAMATAN AMUNTAI SELATAN TAHUN 2009

Penyakit Tuberkulosis (TBC) sampai saat ini masih menjadi mamassal yang membunuh sekitar 140.000 jiwa pertahun atau atau 400 orang perhari, dimana setiapI menit muncul I penderita baru TB Paru. Untuk menanggulangi masalahT BC di Indonesia digunakan s trategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) yang direkomendasikan WHO dipandang sebagai pendekatan yang paling tepat saat ini.sehingga harus dapat dilaksanakan secara sungguh-sungguh dan perlu peran aktif semua pihak. Karena TBC merupakan persoalan multidimensional yang membutuhkan pendekatanmenyeluruh dan menjadi tanggung jawab bersama maka diperlukan pengetahuan yangmemadai bagi semua pihak yang terkait mulai tingkat Pusat sampai ke lapisan masyarakat terbawah
Organisasi kepemudaan seperti Karang Taruna dan LSM Pemuda merupakan salah satu elemin masyarakat yang diharap menjadi penyampai informasi tentang penyakit TBC kepada masyarakat luas. Berkenaan dengan hal tersebut maka diperlukan pertemuan/sosialisasi program TBC untuk memberikan pengetahuan kepada organisasi kepemudaan tentang penanggulangan TBC.
Tujuan :
Menyebarkan informasi dan meningkatkan pengetahuan organisasi kepemudaan tentang TBC.

Peserta :

Peserta pertemuan/sosialisasi Program TBC berjumlah 50 orang yang meliputi semua desa di wilayah kecamatan Amuntai Selatan


Nara Sumber dan Materi
Nara sumber dalam kegiatan tersebut berasal dari Puskesmas Amunatai Srlatan yaitu pemegang Program TB Paru dan Wasur TB Paru dari Dinas Kesehatan Kabupaten Hulu Sungai Utara


Materi :
Pengenalan Penyakit TBC, Permasalahan TBC, Pengobatan Strategi DOTS, Pengawasan Pengobatan.

Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Tanggal pelaksanaan 9 Juni 2009
Tempapt elaksanaan Puskesmas Amuntai Selatan

Metode : Ceramah, diskusi, Tanya jawab.

Sumber :
www.depsos.go.id , Departemen Sosial RI - Pemberdayaan Karang Taruna dengan Program LPM
www.wikipedia.org , Karang Taruna – Wikipedia Bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
www.ktbantententangkami.blogspot.com , Tentang Kami

POKOK-POKOK KEGIATAN KEPERAWATAN KESEHATAN MASYARAKAT

1. Asuhan Langsung
Asuhan keperawatan yang dilaksanakan pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Kegiatan meliputi penentuan kebutuhan klien, merencanakan intervensi keperawatan, melaksanakan intervensi dan menilai hasilnya. Kegiatan utama yaitu upaya promotive dan preventive tanpa mengabaikan upaya kuratifmdan rehabilitative.
2. Penyuluhan Kesehatan
Dilaksanakan ditiap tingkat pelayanan kesehatan masyarakat. Kegiatan melalui jalur formal dan nonforma. Penyuluhan secara nonformall merupakan cara yang efektif, tetapi terselubung dimana contoh perilaku sehat dari perawat yang kemudian dijadikan panutan.


3. Konselimh dan pemecahan masalah.
Kegiatan konseling membawa klien kea rah proses pemecahan masalah dimana keputusan ditentuka oleh klien.
4. Rujukan.
Jika masalah tidak dapat diselesaikan maka perawat bertanggung jawab melakuka tindakan rujukan jika perlu menangani tindak lanjutnya.
5. Asuha Komunity.
Kegiatan meliputi pengenalan komunity, perencanaan, intervensi dan penilaian. Penerapan proses keperawatan dengan masyarakat sebagai klien.
6. Penemu Kasus.
Kegiatan mengamati dan mendetiksi keadaan serta tanda-tanda dini maalah kesehatan melalui hubungan atau kontak terus-menerus dengan klien sebagai penerapan metode epidemiologi.
7. Penghubung
Keperawatan kesehatn masyarakat merupakan mata rantai antar individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dengan pelayanan kesehatan yang diperlukan.
8. Koordinasi
Karena ada kontak langsung dengan klien, sering harus bertindak sebagai koordinator dari berbagai pelayanan untuk klien. Karena perawatan kesehatan masyarakat melihat klien secara ,menyeluruh dengan tiap permaslahan yang ada.
9. Kerjasama.
Bekerjasama denga n tim kesehatan yang lain dan pengambilan keputusan bersama klien, tujuan dan rencana juga ditentukan bersama.
10. Advokasi
Sebagai penasehat/pembela untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
11. Bimbingan dan Pembinaan
Supervisi dilakukan terhadap tenaga masyarakat yang membantu atau kader, siswa melalui jadwal kerja, pembagian tugas, dsb. Merupakan funsi administrative yang berkaitan dengan kegiatan.
12. Rencana Lepas Asuhan
Kegiatan ini mengarah kepembuatan rencana lepas asuhan dala m hubungan dengan keperawatan tindak lanjut yang dilakuka di rumah keluarga maupun masyarakat dimana diperlukan suatu kerjasama dengan tenaga lain dan anggota keluarga atau masyarakat.
13. Pelimpahan wewenang.
Dilakuka terhadap pasien rawat jalan yaitu pendelegasian dokter ke perawat.
14. Role Model
Perawat kesehatan Masyarakat seyogyanya menjadi panutan bagi tiap individu, keluarga, kelompok dan masyarakat sesuai dengan peran yang diharapkan. Perbiuatan sesuai denga apa yang diucapkan, dituntut berperilaku sehat jasmani dan rohani.
15. Penelitian
Penelitian dalam asuhan keperawatan dapat membantu mengedintifikasi serta mengembangkan teori-teori keperawatan yang merupakan dasar praktek keperawatan. Menunjang pengembangan method dan teknik baru dala asuhan keperawatan dan ikut dala penelitian yang ada kaitannya dengan perawatan kesehatn masyarakat.



Sumber :
Catatan Kuliah Perawatan Kesehatan Komuniti Dalam Konteks Pelayanan Kesehatan. Akper Depkes Yogyakarta Tahun 1994.
Dosen : Maria H. Bakri, SKM dan Induniasih, S.Kp

Zat Adiktif makanan dan pengaruhnya tehadap kesehatan

Manusia perlu makan untuk pertumbuhan tubuh dan keperluan lain seperti energi untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Bahan makanan yang digunakan diproses dalam proses pencernaan menjadi molekul-molekul kecil yang diserap oleh usus berupa sari-sari majanan yang kemudian mengalami metabolesme di dalam sel untuk menghasilkan energi.
Bahan makanan yang digunakan ketika diperlukan untuk makan kadangkala disertai dengan zat-zat adiktif yang mempunyai fungsi sebagai penyedap, pemanis, pewarna dan pengawet. Memang masing-masing zat adiktif itu mempunyai fungsi sesuai penggunaannya, seperti :


1. Penyedap makanan
Penyedap makanan digunakan untuk menambah citrarasa masakan. Bahan yang biasa digunakan adalah Monosodium Glutamt (MSG) yang dikenal dngan istilah bumbu masakan. Penggunaan bahan terebut tidak boleh melebihi dari takaran yang sudah dicantumkan pada petunjuk penggunaan bumbu masak. Kelebihan dalam penggunaan MSG berdampak kurang baik bagi kesehatan pada sistem syaraf dan trasportasi.
2. Pemanis Buatan
Bahan pemanis buatan digunakan untuk memberikan rasa manis pada makanan atau minuman tanpa harus menggunakan gula, maka kandungan gizinya amat rendah. Bahan yang biasa dijual di pasar bermacam-macam nama yang embel-ebelnya pemanis. Bahan kimia yang digunakan sebagi bahan pemanis buatan diantaranya adalah sakarin, siklamat dan aspartan. Penggunaan bahan pemanis buatan secara berlebihan akan merugikan bagi kesehatan, arena berdasarkan percobaan dan penelitian pada mencit, diketahui bahan tersebut dapat menyebabkan kanker (bahan kariogenik) dan merangsang munculnya tumor kandung kemih.
3. Bahan Pewarna makanan
Agar kelihatan menarik dan mengandung selera, makanan dan minuman sering diberi warna tertentu. Pewarna makanan yang aman bagi kesehatan harganya relative mahal, sehingga banyak para pedagang menggunakan bagan pewarna yang lebih murah namun dapat membahayakan bagi kesehatan. Pewarna tekstil sering digunakan untuk member warna pada makanan, padahal zat tersebut mengandung logam berat yang amat berbahaya. Bila tubuh banyak mengandun zat warna beracun tersebut, akan berakibat rusaknya organ hati dan ginjal.
4. Bahan Pengawet Makanan
Bahan pengawet makan bertujuan agar bahan makanan dapat disimpanlebih lama. Bahan pengawet bekerja dengan cara mencegah pertumbuhan mikroba pada makanan tadi. Sebagai contoh bahan pengawet biasanya dipakai asam borat (boraks), asam sorbet, asam benzoate dan lain sebaginya. Pengguanaannya harus sesuai dengan takaran dan jenis makanan yang diawetkan.
Semua bahan zat adiktif makanan tersebut di atas pada dasarnya kuranglah baik bagi kesehatan apabila digunakan secara berlebihan. Akan lebih aman bila kita tidak menggunakannya. Zat adiktif makanan tersebut juga dapat mempengaruhi bagi pemakainya yaitu ketergantungan karena berbagai alasan seperti lebih menarik, enak, murah.

Sumber :
Materi Pelatihan Terintegrasi SAINS Buku 1, Departemen Pendidikan Nasional, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, 2004.

Selasa, 09 Juni 2009

Bekerja di masyarakat 2

7. Hormati adat kebiasaan dan kepercayaan masyarakat. Jangan menyerang dan mengejek adat kebiasaan dan kepercayaan masyarakat. Pelajari baik-baik karena tidak semua adat kebiasaan dan kepercayaan masyarakat itu jelek. Apabila ada yang baik dan mendukung kehidupan yang sehat maka perawau komunitas harus mampu mengembangkannya agar lebih optimal yang pada akhirnya masyarakat akan melupakan adat kebiasaan dan kepercayaan yang jelek tersebut. Dan apabila ditemukan yang menghanbat untuk perkembangan kesehatan janganlah langsung di cela dan dirombak, tetapi usahakan agar secara berangsur-angsur masyarakat sendiri yang merobahnya. Perawat komunitas hanya membantu saja.

8. Bekerjalah secara praktis dan sederhana.
Setiap tindakan seorang perawat komunitas haruslah mudah dipahami dan dapat dilaksanakan oleh masyarakat dan tidak menjadi beban oleh mereka. Mulailah mengerjakan yang gampang-gampang dan praktis dulu dan segera memberikan hasil dalam waktu singkat. Hal ini akan mendorong masyarakat untuk mengikuti saran berikutnya.
9. Peliharalah kepercayaan yang telah diterima.
Perawat komunitas yang telah mendapat kepercayaan sebagai pembimbing masyarakat dalam hal kesehatan hendaknya jangan mengecewakan mereka. Perlihatkan bahwa mereka dapat dibantu dengan kemampuan yang kita miliki dan kita selalu siap. Jangan mudah berjanji, karena apabila kita tidak dapat memenuhi janji maka masyarakat tidak akan percaya lagi.
10. Hidupkan swadaya masyarakatg
Setiap yang dianjurkan haruslah berdasarkan kemampuan masyarakat, supaya nantinya masyarakat dapat melaksanakannya secara swadaya. Dalam program pemberian makanan tambahan ketika posyandu, jangan menganjurkan makanan yang bahannya mahal atau sulit didapat.
11. Bangkitkan dan bina peran serta masyarakat.
Masyarakat akan mau ikut serta dalam usaha-usaha yang kita kerjakan apabila mereka tahu dan mengerti bahwa usaha tersebut berguna bagi mereka. Karena itu, libatkan masyarakat dalam hal menentukan masalah yang mereka hadapi, menentukan bagaimana memecahkannya, melaksanakan apa yang sudah direncanakan, menilai apa yang sudah dikerjakan. Kesemua ini akan dapat menanamkan rasa ikut serta, rasa memiliki, dan bertanggung jawab masyarakat terhadap usaha yang dilaksanakan.
12. Peligaralah minat masyarakat yang sudah tergugah.
Setiap usaha yang dilakukan, haruslah disadari oleh masyarakat bahwa itu adalah untuk mereka, bukan untuk kita. Namun demikian masyarakat harus dilatih agar bisa lebih mandiri, tidak selalu tergantung pada orang lain. Hasil baik yang telah dicapai oleh anggota masyarakat, akan mendorong anggota masyarakat yang lain untuk menirunya. Demikian masyarakat akan selalu tertarik terhadap usaha-usaha yang dilaksanakan, dan mereka sendirilah nantinya yang akan menyebarkan hasil baik yang dicapai.

Bahan bacaan :
1. Pedoman kerja puskesmas tentang perkesmas.
2. Buku paket perkesmas bagi pekarya kesehatan puskesmas.
3. Buku paket penyuluhan kesehatan masyarakat bagi pekarya kesehatan puskesmas.

Bekerja di masyarakat

Perawat komunitas dalam orientasi tugasnya adalah bekerja di lingkungan masyarakat dengan mengemban peran dan fungsinya sebagai perawat komunitas. Hubungannya dengan masyarakat maka perawat komunitas mempunyai tugas mengembangkan masyarakat di wilayahnya, agar mampu dan mau hidup sehat dan berperan aktif dalam pembangunan kesehatan.
Untuk bekerja di masyarakat maka ada beberapa langkah-langkah yang harus ditempuh. Lalu apa yang perlu diketahui dalam bekerja di masyarakat?

1. Mengenali masyarakat tempat bekerja. Kalau kita bekerja di desa maka kita harus mengenal orang-orang di desa tersebut. Bukan hanya nama tetapi kita harus mengenal adat istiadat, kebiasaan, ekonomi, pendidikan, agama, kepercayaan, serta pantangan yang ada dikalangan mereka. Artinya seorang perawat komunitas bisa menyesuaikan diri dan dapat memanpaatkan apa yang dapat diketahui di masyarakat untuk memberdayakan masyarakat di bidang kesehatan.
2. Kader bukan pembantu
Di masyarakat ada tenaga sukarela yang disebut kader. Perawat komunitas harus tahu bahwa kader bukanlah pembantu puskesmas, melainkan tenaga masyarakat yang dipilih untuk usaha-usaha masyarakat. Kader berasal dari masyarakat sehingga mengenal betul masyarakat setempat, dipilih oleh masyarakat sehingga bisa diterima oleh masyarakat, disegani dan dipercaya oleh masyarakat sehingga segala saran dan petunjuknya akan didengar dan diikuti oleh masyarakat. Dari semua itu kader dapat dijadikan mitra dalam mengembangkam desa guna meningkatkan derajat kesehatan di desa tersebut.
3. Mengenali daerah tempat bekerja. Bekerja di desa akan lebih mudah kalau kita mengenal betul daerah tersebut. Perawat komunitas harus tahu berapa jumlah penduduk, keluarga, letak rumah masyarakat dan lain sebagainya. Untuk itu perawat komunitas haruslah mempunyai peta wilaya kerjanya dengan data-data yang lainnya.
4. Tokoh masyarakat adalah kunci masyarakat. Ketika kita menyampaikan pesan kepada masyarakat melalui tokoh masyarakat maka diharapkan akan mempermudah membuka hati masyarakat terhadap pentingnya kesehatan.
5. Bekerja sama dengan tokoh agama. Di daerah-daerah yang agamanya kuat maka perawat komunitas dapat melihat peluang untuk memberdayakan masyarakat dengan bekerja sama dengan tokoh agama. Pesan-pesan kesehatan bisa diselipkan dalam pertemuan atau ceramah agama yang diadakan. Untuk itu pula perawat komunitas harus mempunyai perhatian terhadap agama guna membina hubungan yang baik dengan tokoh agama.
6. Bekerja dengan dan untuk masyarakat. Perawat komunitas adalah pembimbing masyarakat dalam memecahkan masalah kesehatan yang mereka hadapi. Bertindak sebagai penasehat kader dan petugas kesehatan lainnya seperti bidan desa agar dapat melaksanakan tugas-tugasnya secara tepat kemasyarakat. Bantulah agar masyarakat bisa menolong dirinya sendiri, tidak selalu tergantung pada petugas (perawat komunitas). Sebagai contoh, ketika kegiatan posyandu berilah petunjuk kepada kader dan ibu -ibu bagaimana cara menimbang dan mengisi KMS. Dengan harapan nantinya mereka akan dapat melakukannya sendiri, walaupun petugas tidak ada.

bersambung......
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...