Jumat, 11 September 2009

PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT

Sehat adalah karunia Tuhan yang harus disyukuri, sebab degan kesehatan segalanya akan tampak indah tanpa kesehatan segalanya akan sia-sia.
Kondisi sehat dapat dicapai bila mengubah perilaku dari yang tidak sehat menjadi perilaku sehat dan menciptakan lingkungan sehat di rumah tangga.
Rumah tangga sehat dapat terwujud bila ada keinginan, kemauan setiap anggota rumah tangga untuk menjaga, meningkatkan, dan melindungi kesehatannya dari gangguan ancaman penyakit melalui “PHBS”.
(WHO) Sehat : Kenyamanan Keseluruhan Jasmani, Mental, Sosial

Pengertian phbs :

Sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang / keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya.
Untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau, mampu mempraktikkan PHBS serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.




PHBS BIDANG KESEHATAN LINGKUNGAN
• Cuci tangan dgn sabun dan air setelah Buang Air Besar (BAB)
• Menghuni rumah sehat
• Menggunakan air bersih
• Menggunakan jamban
• Memberantas jentik nyamuk
• Membuang sampah ditptnya
• Cuci tangan

Phbs bidang gaya hidup sehat :
• Tidak merokok dalam rumah
• Melakukan aktifitas fisik / olahraga setiap hari
• Makan sayur dan buah-buahan setiap hari


Manfaat PHBS :
1. Setiap anggota keluarga meningkatkan kesehatannya dan tidak mudah sakit.
2. Anak Tumbuh Sehat dan Cerdas




HASIL SURVEI PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT ( PHBS )
DI DESA KERAMAT KECAMATAN AMUNTAI SELATAN
TANGGAL 05 s/d 07 AGUSTUS 2009


Survei PHBS dilakukan pada 105 KK dengan hasil sebagai berikut :

DATA UMUM

51 % responden adalah laki-laki dan 49 % perempuan, dikelompokkan menjadi 2 (dua) kelompok umur yaitu < 40 tahun sebanyak 68 % dan > 40 sebanyak 32 % (dasar pengelompokkan adalah umur 40 tahun dianggap sebagai usia matang secara mental spiritual).

Tingkat pendidikan responden terbagi menjadi :
Tidak pernah sekolah 5 %
Belum sekolah 8 %
Tamat SD sederajat 58 %
Tamat SLTP sederajat 14 %
Tamat SLTA sederajat 7 %
Tamat PT 6 %

Penghasilan masyarakatnya rata-rata per bulan yaitu :
< 1 Juta 73 %
> 1 Juta 27 %

DATA PHBS

Dari 18 responden yang mempunyai anak Balita yang mengaku persalinannya ditolong tenaga kesehatan sebanyak 83% dan 17% ditolong dukun kampong, 95% juga mengatakan selalu menimbang bayi/balitanya tiap bulan yang dibuktikan dengan adanya KMS. Sedangkan dari 8 responden yang memiliki anak di bawah 6 bulan, 5 responden mengaku sampai saat survei masih menyusui anaknya dengan ASI saja tanpa diberi tambahan makanan yang lain.

100% responden mengaku menggunakan air bersih, baik air PDAM maupun air yang diolah sendiri dengan pemberian tawas ataupun kaporit. Tetapi hanya 24% responden yang mengaku melakukan kebiasaan cuci tangan dengan air bersih dan sabun setiap sebelum makan dan sesudah BAB. Dalam hal kebiasaan buang air besar, sebagian besar responden sudah BAB di jamban keluarga sehat di rumah, karena 74% responden sudah memiliki jamban keluarga sehat.

Dalam hal pemberantasan jentik dan sarang nyamuk, 92% responden mengatakan selalu menguras tempat air setiap minggu sehingga tidak sampai berkembang biak jentik nyamuk dan 8% mengaku kurang peduli dengan masalah tersebut.

Ketika ditanya masalah konsumsi buah dan sayur setiap hari hanya 51% responden yang mengatakan makan buah dan sayur setiap hari, sedang sisanya mengaku tidak setiap hari.
100% responden mengaku melakukan aktifitas fisik setiap hari, karena kebanyakan dari mereka bekerja, baik membuat lemari maupun kerja di sawah.

Kebiasaan merokok di dalam rumah 23% responden dan sisanya 77% responden mengaku tidak merokok di dalam rumah.


HASIL SURVEI PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT ( PHBS )
DI DESA JARANG KUANTAN KECAMATAN AMUNTAI SELATAN
TANGGAL 05 s/d 07 AGUSTUS 2009


Survei PHBS dilakukan pada 105 KK dengan hasil sebagai berikut :

DATA UMUM

49 % responden adalah laki-laki dan 51 % perempuan, dikelompokkan menjadi 2 (dua) kelompok umur yaitu < 40 tahun sebanyak 71 % dan > 40 sebanyak 29 % (dasar pengelompokkan adalah umur 40 tahun dianggap sebagai usia matang secara mental spiritual).

Tingkat pendidikan responden terbagi menjadi :
Tidak pernah sekolah 2 %
Belum sekolah 9 %
Tamat SD sederajat 38 %
Tamat SLTP sederajat 20 %
Tamat SLTA sederajat 23%
Tamat PT 8%

Penghasilan masyarakatnya rata-rata per bulan yaitu :
< 1 Juta 73 %
> 1 Juta 27 %

DATA PHBS

Dari 18 responden yang mempunyai anak Balita yang mengaku persalinannya ditolong tenaga kesehatan sebanyak 100% , dan 100% juga mengatakan selalu menimbang bayi/balitanya tiap bulan yang dibuktikan dengan adanya KMS. Sedangkan dari 3 responden yang memiliki anak di bawah 6 bulan, kesemuanya mengaku sampai saat survei masih menyusui anaknya dengan ASI saja tanpa diberi tambahan makanan yang lain.

100% responden mengaku menggunakan air bersih, baik air PDAM maupun air yang diolah sendiri dengan pemberian tawas ataupun kaporit. Tetapi hanya 39% responden yang mengaku melakukan kebiasaan cuci tangan dengan air bersih dan sabun setiap sebelum makan dan sesudah BAB. Dalam hal kebiasaan buang air besar, sebagian besar responden sudah BAB di jamban keluarga sehat di rumah, karena 69% responden sudah memiliki jamban keluarga sehat.

Dalam hal pemberantasan jentik dan sarang nyamuk, 96% responden mengatakan selalu menguras tempat air setiap minggu sehingga tidak sampai berkembang biak jentik nyamuk dan 4% mengaku kurang peduli dengan masalah tersebut.

Ketika ditanya masalah konsumsi buah dan sayur setiap hari hanya 44% responden yang mengatakan makan buah dan sayur setiap hari, sedang sisanya mengaku tidak setiap hari.
100% responden mengaku melakukan aktifitas fisik setiap hari, karena kebanyakan dari mereka bekerja, baik membuat lemari maupun kerja di sawah.

Kebiasaan merokok di dalam rumah 56% responden dan sisanya 44% responden mengaku tidak merokok di dalam rumah.




PENGANTAR EPIDEMIOLOGI

EPIDEMIOLOGI

Batasan ( menurut Frost(1927), Paul(1938); Mac Mahon & Pugh(1970) dan Omran (1974)
Epi = pada atau tentang.
demos = rakyat/penduduk
logos = ilmu
“ ilmu yang mempelajari tentang hal-halyang terjadi pada rakyat”
Definisi
“ Ilmu yang mempelajari tentang frekuensi dan penyebaran masalah kesehatan pada sekelompok manusia/masyarakat serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Epidemiology be defined as the study of the distribution and determinants of diseases and injuries in human population.

Pengertian Pokok Epidemiologi
1. Frekuensi masalah Kesehatan-> banyaknya masalah kesehatan( kesakitan, kecelakaan dll) pada sekelompok manusia.
2. Penyebaran masalah kesehatan.pengelompokkan masalah kesehatn menurut keadaan tertentu,
3. Person(manusia) ; Place(tempat) dan Time(waktu).
4. Faktor-Faktor Yang mempengaruhi : Faktor penyebab suatu maslah kesehatan, baik yang menerangkan frekuensi, penyebarannya maupun penyebab timbulnya masalah kesehatan.

Ruang lingkup epidemiologi
1. Subjek dan objek epidemiologi : masalah kesehatan ( p.menular,p.tdk menular, kecelakaan, bencana alam dsb).
2. Masalah kesehatan yang ditemukan pada sekelompok manusia.( bedakan dengan ilmu kedokteran klinik?).
3. Dalam merumuskan penyebab timbulnya suatu masalah kesehatan dimanfaatkan data tentang frekuensi dan penyebaran masalah kesehatan tesebut ->Metode Lit epid-> penyebab msl dan timbulnya masalah kesehatan.



Peranan dan Manfaat epidemiologi
1. Membantu pekerjaan Administrasi Kesehatan ->POAC masalah Kesehatan
2. Dapat menerangkan penyebab suatu masalah kesehatan -> langkah penanggulangan( preventif dan kuratif).
3. Dapat menerangkan perkembangan alamaiah suatu penyakit -> guna menghentikan perjalanan penyakit supaya dapat dicegah efek berkelanjutan.
4. Dapat menerangkan keadaan suatu masalah kesehatan menurut PPT.
• Epidemi -> msl kesehatan(penyakit) pada daerah ttt, waktu singkat frekuensi meningkat.
• Pandemi -> epidemi + penyebarannya meluas.
• Endemi -> keadaan dimana masalah kesehatan frekuensinya pada suatu wilayah ttt menetap dlm waktu lama.
• sporadik : Maslah kesehatan pada wil ttt -> frekuensi berubah-ubah menurut perubahan waktu.
• Wabah : kejadian berjangkitnya suatu penyakit dalam masyarakat dengan jumlah penderita meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu, serta dapat menimbulkan malapetaka.

KONSEP PENYAKIT
1. Penyakit adalah suatu manifestasi dari timbulnya gangguan dan atau kelainan pada diri seseorang yang sehat.
2. Timbulnya gangguan/kelainan dikemukakan oleh Gordon dan Le Richt(1950) yang menitikberatkan dari sudut ekologi.timbulnya penyakit dipengaruhi 3 faktor:
• Pejamu(host): diri manusia yang mempengaruhi
• Agent(bibit penyakit) : substansi atau elemen kehadirannya atau ketidakhadirannya dapat menyebabkan atau menggerakkan timbulnya penyakit.
• Environment(lingkungan) adalah agregat dari seluruh kondisi dan pengaruh-pengaruh luar yang mempengaruhi kehidupan dan perekambanagn suatu organisme.

Hubungan Host Agent Environment
( The Epidemiologi Triangle)
1. Sehat : Kedudukan Host, Agent dan Environment seimbang
2. Sakit, bila
Agent meningkat
Daya tahan tubuh menurun
Lingkungan berubah

Konsep penyakit
(jaring-jaring sebab-akibat)
• TIMBULNYA PENYAKIT DICEGAH DNG MEMTONG MATA RANTAI SEBAB AKIBAT
• PENYAKIT TDK BERGANTUNG PADA SATU SEBAB BERDIRI SENDIRI MELAINKAN SEBAGAI AKIBAT DARI SERANGKAIAN SEBAB-AKIBAT

RODA( WHEEL)
 HUB MNS-LINGK TETAPI TDK MENEKANKAN AGENT

RIWAYAT ALAMIAH PENYAKIT
The Naural History of Disease
Ada 5 tahapan Perkembangan Suatu Penyakit
1. Tahap Prepatogenesis (tahap sebelum sakit) Interaksi Host, agent dan environment.
2. Tahap inkubasi. :Bibit penyakit masuk kedalam tubuh kemudian timbul gejala penyakit(masa inkubasi penyakit tidak sama) Bila daya tahan tubuh kuat perkembangan penyakit lambat sampai timbulnya penyakit.
3. Tahap Penyakit Dini. : Dihitung mulai munculnya gejala penyakit sampai orang telah jatuh sakit_> ringan berobat jalan.
4. Tahap Penyakit Lanjut : Penderita tidak dapat melakukan pekerjaan apapun-> perlu perawatn lebih baik di rumah sakit, tergantung macam penyakit.
5. Tahap akhir Penyakit
• Sembuh sempurna.>> fungsi dan bentuk tubuh kembali pada seb.sakit.
• Sembuh cacat.
• carier
• Khronis
• Meninggal


PENCEGAHAN PENYAKIT
Tindakan lebih dahulu sebelum kejadian yang didasarkan pada keterangan bersumber hasil analisis epidemiologi.
Tingkat pencegahan:
1. Primary Prevention -> target orang sehat.
a. Health promotion
b. Specific protection
2. Secondary Prevention-> baru terkena penyakit.
c. Early diagnosis & Prompt Treatment.
3. Tertiary Prevention _> penderita penyakit ttt
d. Disability limitation & rehabilitation.
Program Pencegahan
Pada Tingkat I
a. Mengurangi penyebab peranan
• desinfeksi, pasteurisasi, sterilisasi
• karantina,
• mengurangi sumber allergen/ toksin /fisika .
• mengurangi/menghindari setiap perilaku yang memperbesar risk.
b. Mengatasi/memodifikasi lingkungan
• perbaikan fisik: air minum, sanitasi lingkungan
• perbaikan biologis: PSN, pembrantasan vector penyk
• perbaikan sosial : kpdtn rumah, hub sosial.
c. Meningkatkan daya tahan host
• perbaikan gizi, imunisasi; ketahanan fisik OR, psikologis.

Pada Tingkat II -> penderita/terancam akan menderita agar penyakit tdk meluas/menghentikan
proses penyakit lebih lanjut :
a. Pemberian chemoprophylaxis : Prepathogenesis.
b. Pencarian penderita secara dini dan aktif.
• pemeriksaan berkala.
• Screening (pencarian pndrt scr umum untuk penyakit ttt)
• pengobatan/perawatan pasien ttt.

Pada Tingkat III -> mencegah cacat, kematian penyebab ttt dan rehabilitasi
• pengobatan perawatan penderita kencing manis, tek.darah tinggi, saraf dlll.
• rehabilitasi fisik/medis
• rehabilitasi mental/psycho
• rehabilitasi sosial


PENELITIAN EPIDEMIOLOGI JANGKAUAN DAN KEGIATAN EPIDEMIOLOGI
DISAIN PENELITIAN :

STUDI OBSERVASIONAL
1. TDK DILAKUKAN INTERVENSI PADA FAKTOR-FAKTOR YANG DITELITI
2. STUDI DESKRIPTP : BILA BELUM DIKETAHUI RIWAYAT ALAMIAH, KEJADIAN ATAU FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SUATU MASALAH KESEHATAN.
3. TUJUAN : MEMPERKIRAKAN FREKUENSI SUATU MASALAH KESEHATAN ATAU KECENDERUNGAN MENURUT WAKTU, MENENTUKAN KARAKTERISTIK INDIVIDU MENURUT CIRI TERTENTU.
4. HASIL KEGIATAN EPIDEMIOLOGI DESKRIPTIF HANYA MENJAWAB PERTANYAAN WHO, WHERE, WHEN TIMBULNYA MASALAH KESEHATAN TETAPI TDK MENJAWAB PERTANYAAN MENGAPA(WHY) TIMBULNYA MASALAH KESEHATAN
CONTOH :
 Mengetahui data ttg frekuensi penderita TBC di daerah X?
 Mengetahui penyebaran penyakit TBC menurut umur, jns kelamin di daerah X

DESKRIPTIF
VARIABEL EPID DESKRIPTIF
1. ORANG(PERSON) : Umur, jenis kelamin, kelas sosial, jns pek, penghasilan, gol etnik, status perkawinan, besarnya klg, struktur klg, paritas, dll.
2. TEMPAT(PLACE) : Geografis, administratif.
3. WAKTU (TIME)-> perubahan2 penyakit mnrt waktu -> perubahan etiologis.
- perubahan jangka pendek : jam,hr,mgg,bln.
- perubahan scr siklis : perubahan berulang-ulang, hr, bln(musiman), tahunan, bbrp tahun
- perubahan sekuler (sculer trends) : dalam periode yang panjang, bertahun-tahun, berpuluh puluh tahun.

STUDI ANALITIK
• Bila cukup banyak diketahui mengenai suatu masalah kesehatan
• Hipotesis spesifik dapat diuji.
• Tujuan : mengidentifikasi faktor resiko yang mempengaruhi masalah kesehatan/penyakit, memperkirakan akibatnya terhadap masalah tersebut dan memberikan rekomendasi mengenai strategi intervensi yang mungkin dilakukan.
• Hasil : asosiasi/hub.sebab-akibat >tegas & nyata.
• Kekurangan : lebih mahal dan lebih rumit.

PENELITIAN SURVEI
1. Survei hanya mencakup sampel dari populasi.(sensus : seluruh)
2. Sering disebut sampel survei.
3. Unit analisis : individu atau agregatnya (>1)
4. Tujuan : - mengetahui karakteristik populasi, menjelaskan kejadian yg terjadi di pop,melakukan eksplorasi hal yg belum jelas
DESAIN SURVEI
1. Cross-sectional ( suatu waktu tertentu)
2. Longitudinal : data dikumpulkan pada beberapa waktu berbeda, untuk melihat perubahan yang terjadi.
- studi kecenderungan( sampel mewakili populasi yang sama).
- studi kohort(populasi yang sama)
- studi panel ( responden sama)

STUDI CROSS SECTIONAL

STUDI PREVALENSI
• Pengamatan hanya sekali
• Informasi faktor resiko dan “outcome” diperoleh dari wawancara/catatan medik, diukur bersamaan dan biasanya telah terjadi.
• Sampel dipilih mewakili populasi
• Dapat menilai hubungan asosiasi antara faktor resiko dengan “outcome” pada saat bersamaan -> studi analitik,

KELEBIHAN :
• Sampel dipilih secara random dari populasi
• Tidak ada “ drop out”
• Sekaligus dapat meneliti banyak variabel
• Dasar bagi penelitian selanjutnya
• Waktu pelaksanaan singkat, biaya relatif murah.

KEKURANGAN
• Sulit membedakan variabel penyebab dengan variabel akibat, karena tidak diketahui mana yang terjadi lebih dahulu.
• Lebih banyak menjaring subyek yang mempunyai masa sakit panjang.
• Perlu subyek penelitian banyak
• Tidak bisa menggambarkan perjalanan penyakit
• Tidak praktis untuk kasus yang jarang.

STUDI KASUS KONTROL
1. Kasus = kelompok dng “outcome”/penyakit.
2. Kontrol = kelompok yang tidak dengan “outcome”/penyakit tertentu.
3. Studi epidemiologik analitik observasional.
4. Tujuan : menerangkan hubungan antara penyakit dan faktor resiko.
5. Kasus ditentukan dalam suatu periode waktu.
6. Paparan terhadap faktor resiko dimasa lalu diteliti retrospektif.
7. Faktorbresiko dibandingkan untuk mencari perbedaan yang bermakna
8. Kontrol dipilih dengan cara serasi(matching) atau tanpa matching.
9. Kelebihan :
• Untuk meneliti kasus yang jarang atau masa latennya panjang.
• Hasil dapat diperoleh dengan cepat.
• Biaya relatif lebih sedikit.
• Subyek penelitian lebih sedikit.
• Memungkinkan identifikasi berbagai faktor resiko sekaligus.
10. KEKURANGAN
• Data berdasarkan daya ingat atau catatan medik.
• Validasi informasi sulit diperoleh
• Tidak dapat memberikan Incidens rate
• Karena kasus dan kontrol dipilih peneliti, sulit untuk menentukan kedua kelompok tsb sebanding dalam faktor eksternal dan sumber bias yang lain.

STUDI KOHORT
• Tujuan : mengkaji hubungan antara faktor resiko dengan “out come”/penyakit
• Minimal ada dua kelompok yang diteliti : Kel. terpajan dan kelompok tidak terpajan.
• Pengelompokan tidak dilakukan secara acak.
• Kedua kelompok diikuti selama periode tertentu untuk menentukan “out come”
• Resiko terjadinya masalah pada kedua kelompok akan dibandingkan untuk melihat ada/tidaknya perbedaan
JENIS-JENIS STUDY KOHORT
• Studi Kohort prospektif dengan kelompok pembanding internal
• Studi kohort prospektif dengan kelompok pembanding eksternal
• Studi kohort retrospektif

Kelebihan:
• Disain terbaik untuk menentukan insidens dan perjalanan penyakit.
• Menerangkan hubungan faktor risiko & outcome secara temporal dengan baik.
• Pilihan terbaik untuk kasus yang bersifat fatal dan progresif
• Dapat meneliti beberapa efek sekaligus dari faktor resiko tertentu.
• Pengamatan kontinu & longitudinal, kekuatan penelitian andal.

KELEMAHAN :
• Waktu lama, rumit, biaya mahal.
• Kurang efisien untuk kasus yang jarang terjadi
• Ancaman drop out atau perubahan intensitas pajanan tinggi.
• Dapat menimbulkan masalah etik ( membiarkan subyek terkena panajan)

STUDI EKSPERIMEN

1. Peneliti secara acak menentukan alokasi individu ke dalam kelompok studi berdasarkan paparan yang direncanakan.
2. Responden secara acak ditempatkan pada salah satu kelompok dan kedua kelompok diikuti hingga paparan terlihat

UKURAN FREKUENSI PENYAKIT
BATASAN :
Keterangan tentang banyaknya suatu masalah kesehatan yang ditemukan dalam kelompok manusia yang dinyatakan angka mutlak, rate, ratio dan proporsi.
Dalam melakukan pengukuran perlu diperhatikan :
a. Mengupayakan agar masalah kesehatan yang akan diukur hanyalah masalah yang dimaksudkan saja.
b. Mengupayakan agar msl kesehatan yang akan diukur dapat masuk dalam pengukuran.
c. Pengujian hasil pengukuran dalam bentuk yang memberikan keterangan optimal. penilaian suatu program kesehatan diharapkan dapat memberikan informnasi jelas,akurat dan mudah dimengerti

RATE, RATIO & PROPORSI
1. RATE -> frekuensi kmk munculnya suatu kejadian pada sekelompok masyarakat.
Perbandingan suatu peristiwa/event dibagi jumlah penduduk yang mungkin terkena peristiwa dimaksud(population at risk) dalam waktu sama (dalam %,%o)
2. RATIO : Perbandingan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya yang tidak berhubungan.
Ratio = x/y Contoh :
Sex ratio = jumlah penduduk laki2 / jumlah penduduk wanita
3. Proporsi laki (%) = Jumlah penduduk laki2 / jumlah penduduk laki2 &wanita X 100 %
Proporsi mirip rate = a / a +b x 100 %

UKURAN MASALAH KESEHATAN
PENYAKIT :
A. Insidens rate
B. attack rate
C. Scondary attack rate.
D. Prevalens rate :
* period prevalens rate
* point prevalens rate

KEMATIAN :
1. Crude Death Rate
2. Infant Mortality Rate
3. Maternal Mortality Rate
4. Case Fatality Rate, dll

Insidens Rate
• Insiden ialah gambaran tentang frekuensi penderita baru suatu penyakit yang ditemukan pada suatu waktu ttt di suatu kelompok masyarakat.
• Contoh :
Pada suatu daerah dengan jumlah penduduk tgl 1 Juli 2005 sebanyak 100.000 orang semua rentan terhadap penyakit Diare ditemukan laporan penderita baru sebagai berikut : bulan januari 50 orang, Maret 100 orang, Juni 150 orang, September 10 orang dan Desember 90 orang

IR = ( 50+ 100+150+10 +90) /100.000 X 100 % = 0,4 %

Attack Rate
• Jumlah penderita baru suatu penyakit yang ditemukan pada suatu saat dibandingkan dengan jumlah penduduk yang mungkin terkena penyakit tersebut pada saat yang sama dalam %, permil.
• Contoh
Dari 500 orang murid yang tercatat pada SD X ternyata 100 orang tiba-tiba menderita muntaber setelah makan nasi bungkus di kantin sekolah.

Attack rate = 100 / 500 X 100% = 20 %
• AR hanya dignkan pd kel.masy terbatas, periode terbts, mis KLB.

Secondary Attack Rate
• Jumlah penderita baru suatu penyakit yang terjangkit pada serangan kedua dibandingkan dengan jumlah penduduk dikurangi yang telah terkena pada serangan pertama dalam (%) atau ‰
• Contoh :
Jumlah Penduduk 1000 orang, dilaporkan sbb : Bulan April 2005 terjangkit penyakit X sebanyak 150 penderita.Bulan Agustus 2005 terjadi serangan penyakit yang sama dengan penderita 250 orang

Secondary Attack rate = 250/1000-150 X 100 % = 29,41 %

Prevalen
• Gambaran tentang frekuensi penderita lama dan baru yang ditemukan pada jangka waktu tertentu disekelompok masyarakat tertentu.
• Ada dua Prevalen:
A. Period Prevalence
Contoh :
Pada suatu daerah penduduk pada 1 juli 2005 100.000 orang, dilaporkan keadaan penyakit A sbb: Januari 50 kasus lama dan 100 kasus baru. Maret 75 kasus lama dan 75 kasus baru, Juli 25 kasus lama dan 75 kasus baru; Sept 50 kasus lama dan 50 kasus baru dan Des. 200 kasus lama dan 200 kasus baru.
Period Prevalens rate :
(50+100) +(75+75)+(25+75)+(50+50)+(200+200) /100.000 X 100 % = 0,9 %

B. Point Prevalence Rate:-> Prevalence Rate saja.
Jumlah penderita lama dan baru pada satu saat, dibagi dengan jumlah penduduk saat itu dalam persen/permil.
Contoh Satu sekolah dengan murid 100 orang, kemarin 5 orang menderita penyakit campak, dan hari ini 5 orang lainnya menderita penyakit campak
Point Prevalence rate = 10/100 x 1000 ‰= 100 ‰

Hub.antara Prevalence dan Incidence
1. Hubungan antara Prevalence(P) dan Incidence(I) adalah P ~ I x D yang berarti bahwa prevalence berubah menurut incidence dan lamanya sakit D(duration)
2. Apabila incidence dan lamanya sakit stabil selama waktu yang panjang formula ini dituliskan :
P= I x D.
3. Jadi apabila prevalence dan lamanya sakit diketahui maka dapatlah dihitung incidence.
Syarat :
• Nilai Incidence dalam waktu lama konstans
• Lama berlangsungnya suatu penyakit stabil.
Angka Kematian
1. Crude Death Rate: Jum kematian / Jum Pendd
2. Caused Specific Death Rate:
Contoh : Dikota X jumlah penduduk 200.000 jiwa, terjadi kematian 1500 orang selama th 1985, diantaranya ada 25 org keracunan pestisida ? Hitung CDR dan CSDR pestisida?
CDR = 1500/200.000 = 7.5‰
CSDR= pestisida= 25/200.000 = 12.5 /100.000 pdd
3. Infant Mortality Rate :
Jumlah kematian bayi(0-12 bln) / Jumlah kelahiran hidup x 100 %
4. Case Fatality Rate(CFR):
Jumlah kematian karena penyakit X / Jumlah seluruh penderita penyakit X X 100 %
Contoh :
Didaerah X dlm 1 tahun terdapat kasus penyakit Radang Paru
500 orang yang meninggal 300 orang?à CFR?
CFR = 300/500 x 100 %= 60 %
Angka ini menunjukkan keganasan penyakit.
Contoh kasus Flu burung positif 65 org, yg meninggal 54 org
Hitung CFR flu burung ?
54 / 65 X 100 % = 83 %


Catatan Kulian Pengantar Epidemiologi
STIK MUHAMMADIYAH BANJARMASIN PROGRAM S1 NERS B
Dosen : Hardiono SKM


PUSKESMAS

Latar belakang
• Pelayanan kesehatan (BKIA, BP, BP4) berjalan sendiri sendiri
• Keinginan untuk menyatukan payanan kesehatan tingkat pertama

Rakernas I di Jakarta th 1968
• Puskesmas tingkat desa
• Puskesmas tingkat kecamatan
• Puskesmas tingkat kawedanan
• Puskesmas tingkat kabupaten

Rakernas II di Jakarta th 1969
• Puskesmas A, dipimpin seorang dokter penuh
• Puskesmas B, dipimpin oleh dokter tidak penuh
• Puskesmas C, dipimpin oleh paramedic

Rakernas th 1970
• Pembagian puskesmas A, B dan C dianggap kurang sesuai.
• Ditetapkan satu macam puskesmas yang wilayah kerjanya meliputi satu kecamatan atau pada suatu daerah dengan jumlah penduduk antara 30.000 sampai 50.000 jiwa. Yang dikenal dengan konsep wilayah

• Berdasarkan Inpres No. 5 tahun 1974 dan No. 4 tahun 1976 konsep wilayah diperkecil menjadi suatu wilayah dengan jumlah penduduk 30.000 jiwa.
• Tahun 1979 dirintis puskesmas di tingkat desa atau kelurahahan yang memiliki jumlah penduduk 30.000 jiwa.
• Untuk koordinasi kegiatan di tingkat kecamatan, salah satu ditunjuk menjadi sebagai penanggung jawab dan disebut Puskesmas Kecamatan atau Puskesmas pembina
• Dan puskesmas yang ada di desa/kelurahan disebut sebagai puskesmas pembantu

Definisi
Depkes 1991
Suatu kesatuan organisasi fungsional yang merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta masyarakat disamping memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok.




Fungsi Puskesmas

Fungsi Pokok
• Sebagai pusat pembangunan kesehatan masyarakat.
• Membina peran serta masyarakat
• Memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu

Cara-cara yang ditempuh
1. Merangsang masyarakat termasuk swasta untuk melaksanakan kegiatan dalam rangka menolong dirinya sendiri.
2. Memberikan petunjuk kepada masyarakat tentang bagaimana menggunakan sumber daya secara efisien dan efektif.
3. Memberikan bantuan teknis
4. Memberikan pelayanan kesehatan langsung kepada masyarakat
5. Kerjasama lintas sector

Program Pokok Puskesmas
1. KIA
2. KB
3. Usaha Kesehatan Gizi
4. Kesehatan Lingkungan
5. Pemberantasan dan pencegahan penyakit menular
6. Pengobatan termasuk penaganan darurat karena kecelakaan
7. Penyuluhan kesehatan masyarakat
8. Kesehatan sekolah
9. Kesehatan olah raga
10. Perawatan Kesehatan
11. Masyarakat
12. Kesehatan kerja
13. Kesehatan Gigi dan Mulut
14. Kesehatan jiwa
15. Kesehatan mata
16. Laboratorium sederhana
17. Pencatatan dan pelaporan dalam rangka SIK
18. Pembinaan pemgobatan tradisional
19. Kesehatan remaja
20. Dana sehat


Satuan Penunjang
1. Puskesmas Pembantu
2. Puskesmas Keliling
3. Bidan desa


Puskesmas Pembantu
Unit pelayanan kesehatan yang sederhana dan berfungsi menunjang dan membantu melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan puskesmas dalam rung lingkup wilayah yang lebih kecil

Puskesmas Keliling
Unit pelayanan kesehatan keliling yang dilengkapi dengan kendaraan bermotor dan peralatan kesehatan, peralatan komunikasiserta sejumlah tenaga yang berasal dari puskesmas.
• Memberi pelayanan kesehatan daerah terpencil
• Melakukan penyelidikan KLB
• Transport rujukan pasien
• Penyuluhan kesehatan dengan audiovisual

Bidan desa
Bagi desa yang belum ada fasilitas pelayanan kesehatan ditempatkan seorang bidan yang bertempat tinggal di desa tersebut dan bertanggung jawab kepada kepala puskesmas.
• Wilayah kerjanyadengan jumlah penduduk 3.000 orang \
• Tugas utama bidan desa
• Membina PSM
• Memberikan pelayanan
• Menerima rujukan dari masyarakat

Micro Planning

Pengertian
Perencanaan micro tingkat puskesmas adalah penyusunan rencana tingkat puskesmas untuk 5 tahun, termasuk rincian tiap tahunnya

Tujuan
Umum
Meningkatkan cakupan pelayanan program prioritas sesuai dengan masalah yang dihadapi puskesmas sehingga meningkatkan fungsi puskesmas.
Khusus
• Tersusunnya rencana kerja puskesmas untuk jangaka waktu 5 tahun secara tertulis.
• Tersusunnya rencana kerja tahunan puskesmas, sebagai penjabaran rencana kerja 5 tahunan.

Langkah dalam penyusunan
• Identifikasi keadaan dan masalah
• Penyusunan rencana
• Penyusunan POA
• Penulisan dokumen pencatatan


Identifikasi keadaan dan masalah
• Mengetahui kebijakan
• Mengumpulkan data
• Data umum
• Data wilayah
• Data penduduk
• Data Sumber daya puskesmas
• Data status kesehatan
• Data Cakupan
• Analisa data
• Analisa derajat kesehatan
• Analisa kependudukan
• Analisa upaya pelayanan kesehatan
• Analisa perilaku
• Analisa lingkungan
• Perumusan masala
• Penentuan prioritas
Delbeq: dengan cara mendiskusikan dengan anggota kelompok dan
mendengarkan saran dari nara sumber
Hanlon: sistem skoring
Besarnya masalah meniputi
• Prosentase penduduk yang terkena
• Biaya per orang/bulan
• Kerugian
• Skor 0 -10

Tingkat kegawatan
• Ganas
• Urgensi
• Kecenderungan
• Skor 0 – 10

Kemudahan cara penanggunangan
Nilai 0,5 – 1,5

Faktor PEARL
Menentukan dapat tidaknya program tersebut dilakukan
P: Appropriatness (tepat guna)
E: Economic feasibility
A: acceptability
R: Resourse availability
L: Legality

Penentuan skor melalui voting 1:ya, 0:tidak

Penyusunan rencana kegiatan
• Perumusan tujuan dan sasaran
• Perumusan kebijakan dan langkah-langkah
• Perumusan kegiatan
• Perumusan sumber daya

Penyusunan POA
• Penjadwalan
• Penentuan waktu
• Penentuan lokasi dan sasaran
• pengorganisasia
• Pengalokasian sumber daya
• Dana: sumber, besarnya dan pemanfaatannya
• Jenis dan jumlah sarana yang diperlukan
• Jumlah dan tenaga yang diperlukan
• Pelaksanaan
• Persiapan
• Penggerakan dan pelaksanaan
• Pengawasan, pengendalian dan penilaian

Penulisan dokumen
1. Pendahuluan
2. Keadaan dan masalah
3. Tujuan dan sasaran
4. Pokok kegiatan dan pentahapan
5. Kebutuhan sumber daya
6. Pemantauan dan penilaian
7. Penutup

Lokakarya Mini Puskesmas

Definisi
Upaya untuk menggalang kerjasama tim untuk penggerakan dan pelaksanaan upaya kesehatan puskesmas sesuai dengan rencanayang telah disusun dari tiap-tiap upaya kesehatan pokok puskesmas, sehingga dapat dihindarkan terjadinya tumpang tindih dalam pelaksanaan kegiatannya.

Tujuan
Umum
Meningkatkan kemampuan tenaga puskesmas bekerja sama dengan tim dan membina kerjasama lintas program dan lintas sektoral.
Khusus
• Terlaksananya kerjasama tim lintas program
• Terlaksananya kerjasama lintas sektoran dalam rangka pembinaan PSM
• Terlaksananya rapat kerja bulanan
• Terlaksananya rapat kerja triwulan dan pembinaan kerjasama lintas
Sektoral

Ruang lingkup
• Menggalang kerjasama tim dari masing-masing anggota
• Meningkatkan kebanggaan dan semangat membela keberhasilan tim
•
Komponen
• Penggalangan kerjasama dalam tim puskesmas
• Penggalangan kerjasama lintas sektoral
• Rapat kerja bulanan puskesmas
• Rapat kerja triwulan lintas sektoral

Supervisi

Definisi
Upaya pengarahan dengan cara mendengar alasan dan keluhan-keluhan tentang masalah dalam pelaksanaan dan memberikan petunjuk serta saran-saran dalam mengatasi permasalan yang dihadapi pelaksana, sehingga meningkatkan daya guna dan hasil guna serta kemampuan pelaksana dalam melaksanakan upaya kesehatan puskesmas

Tujuan
Umum
Terselenggaranya upaya kesehatan puskesmas secara berhasil guna dan berdayaguna
Khusus
• Terselenggaranya program upaya kesehatan puskesmas sesuai dengan pedoman pelaksanaan
• Kekeliruan dan penyimpangan dalat diluruskan.
• Meningkatkan mutu pelayanan
• Meningkatkan hasil pencapaian puskesmas
• Meningkatkan hasil pencapaian pelayanan puskesmas

Ruang lingkup
• Bimbingan kepala puskesmas kepada pelaksana meliputi:
• Masukan
• Sarana dan prasarana
• Anggaran
• Keternagaan
• Perlengkapan administrasi
• Proses
• Sesuai pedoman puskesmas
• Keluaran
• Cakupan

• Bimbingan kepala puskesmas kepada tenaga teknis dan tenaga masyarakat dalam bentuk:
1. Pertemuan dalam puskesmas
2. Kunjungan lapangan
3. Pelaksanaan bimbingan
4. Pengaturan waktu


Puskesmas Di Era Reformasi

Latar Belakang
1. Amandemen UUD 45 Pasal 28 Ayat H tentang kewajiban pemerintah menyediakan pelayanan kesehatan bagi penduduk
2. UU Kesehatan no 23 tahun 1992
3. Tuntutan globalisasi
4. Pergeseran paradigma
5. Kebijakan pembangunan kesehatan dan perkembangan puskesmas

Analisa Kekuatan Puskesmas
1. Puskesmas tersebar di seluruh tanah air
2. Keberhasilan puskesmas dalam meningkatkan cakupan
3. Ketersediaan sumberdaya
4. Kepopuleran Puskesmas

Analisa Kelemahan Puskesmas
1. Citra puskesmas belum baik
2. Tidak memiliki visi dan misi
3. Tiga fungsi pokok puskesmas belum seimbang
4. Beban kerja belum sesuai dengan sumberdaya
5. Kemitraan dengan stake holder dan share holder masih kurang

Peluan Pengembangan
1. Amandemen UUD 45
2. Tuntutan reformasi
3. Kemajuan IPTEK
4. Desentralisasi
5. Kesepakatan Bupati

Ancaman
1. Transisi epidemiologi
2. Pencemaran lingkungan
3. Perubahan peliralu dan gaya hidup masyarakat
4. Kesehatan masih menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Penyebab masalah
1. Kepemimpinan
2. Sarana tidak memadai
3. Beban berlebihan

Revitalisasi Puskesmas
1. Meningkatkan kepemimpinan Puskesmas
2. Renovasi sarana dan prasarana
3. Reformasi konsep puskesmas yang sedang berjalan

Perbedaan Puskesmas Dulu dan Sekarang

Dulu
1. Tidak ada visi
2. Fungsi
• Pusbangkes
• Pembinaan PSM
• Pusyankes
3. Program pokok
4. Berbasis cakupan

Sekarang
1. Ada visi
2. Fungsi
• Pembangunan berwawasan kesehatan
• Pemberdayaan kel dan mas.
• Pemberi pelayanan tingkat pertama
3. Basis sarana kesehatan, IPTS, IPKS
Pengertian

Unit pelaksana kesehatan di wilayah kerja kecamatan atau bagian dari kecamatan dengan azas:
• Kewilayahan
• Peran serta masyarakat
• Keterpaduan
• Rujukan

Fungsi Puskesmas
1. Pusat penggerakan pembangunan berwawasan kesehatan
2. Pusat pemberdayaan masyarakat dan keluarga dalam pembangunan kesehatan
3. Pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama

Pusat penggerakan pembangunan berwawasan kesehatan
1. Menjadi motivator, fasilitator, pemantau pembangunan di wilayah kerjanya
2. Intensif dalam kerjasama lintas sektoral
3. Kemitraan dengan sektor swasta, dunia usaha dan lainnya
4. Fasilitator dalam forum kecamatan sehat

Pusat pemberdayaan masyarakat dan keluarga
1. Menggalang potensi masyarakat
2. Memfasilitasi tumbuh kembang Badan Penyantuhn Puskesmas (BPP) dan BPKM.
3. Peduli keluarga, peduli remaja dan peduli lansia

Pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama
1. Menyediakan pelayanan medik dan kesehatan masyarakat
2. Model pelayanan (statik dan mobile)
3. Peningkatan jenis mutu pelayanan kesehatan
4. Peningkatan sarana pelayanan kesehatan

Program Puskesmas
1. Promosi kesehatan
2. Kesehatan lingkungan
3. P2M
4. KIA/KB
5. Perbaikan Gizi
6. Pengobatan dasar
7. Program pengembangan

Pembiayaan
• Fee for service
• Pra Upaya
• APBD
• Kerjasama Kemitraan
• Hibah atau Grant

Indikator Pencapaian Kecamatan Sehat
1. Indikator lingkungan
2. Indikator perilaku sehat
3. Indikator pelayanan sehat
4. Indikator status kesehatan

Indikator Pelaksanaan Fungsi Puskesmas
• Pembangunan Berwawasan kesehatan (IPTS)
• Pemberdayaan Masyarakat (UKBM), Kemitraan, BPP.
• Pemberdayaan keluarga (IPKS)
• Yankes; cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan

IPTS(Indikator Potensi Tatanan Sehat)
• Tatanan sekolah
• Tatanan tempat kerja
• Tatanan tempat umum
• Indikator yang dipakai PHBS

Indikator sekolah sehat
• Ada air bersih
• Ada jamban
• Ada larangan merokok
• Ada dokter kecil
• Ada tempat sampah

UKBM (Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat)
1. Diutamakan posyandu dan polindes
2. Harus ada informasi berbasis polindes
3. Strata posyandu dinilai setahun sekali

IPKS (Indikator Potensi Keluarga Sehat)
• Ada air bersih
• Tersedia jamban saniter
• Lantai rumah bukan tanah
• Peserta KB bagi PUS
• Menimbang balita bagi yang punya bayi
• Tidah ada anggota keluarga yang merokok
• Menjadi peserta dana sehat/askes/JPKM

IPMS (Indikator Potensi Masyarakat Sehat)
1. Cakupan dan kulitas dari program pokok
2. Cakupan dan kualitas dari program pengembangan

Daftar Pustaka :
Pedoman Kerja Puskesmas Jelid 1
Pedoman ARRIEF

DIARE

A. LATAR BELAKANG
Diere adalah penyebab penting kekurangan gizi, ini disebabkan karena adanya anoreksia pada penderita diare, sehingga penderita makan lebih sedikit dari biasanya dan kemampuan menyerap sari makanan juga berkurang. Padahal kebutuhan sari makananya meningkat akibat adanya infeksi. Setiap episod diare menyebabkan kekurangan gizi, sehingga bila episode diare berkepanjangan maka dampaknya terhadap pertumbuhan dan perkembangan akan terlihat keterlambatan tubuh kembang pada anak dan bayi.
Diare merupakan penyebab utama angka kesakitan dan kematian pada anak di negara berkembang, dengan perkiraan 1,3 milyar episode dan 3,2 juta kematian setiap tahun pada balita. Secara keseluruhan anak-anak ini mengalami rata-rata 3,3 epoisode diare pertahun. Pada daerah yang dnegan angka episode yang tinggi ini, seorang balita dapat menghabiskan 25 % waktunya dengan diare. Sekitar 80 % kematian yang berhubungan dengan diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan. Penyebab utama kematian karena diare adalah dehidrasi sebagai akibat kehilangan cairan dan elektrolit melalui tinjanya. Penyebab kematian lain adalah disentri, kekurangan gizi, dan infeksi serius seperti pnemoni.
Menurut laporan Departemen Kesehatan, di Indonesia setiap anak mengalami diare 1,6 samapi 2 kali setahun. Hasil SKRT (survaey kesahatan rumah tangga) di Indonesia angka kematian diare anak balita dan bayi permil pertahun berturut menunjukan angka sebagai berikut ; 6,6 (balita) 22 (bayi) pertahun 1980; 3,7 (balita) dan 13,3 (bayi) pada tahun1985. 2,1 (balita) 7,3 (bayi) pada tahun 1992. 1 balita dan 8 bayi pada tahun 1995. Sementara itu morbiditas diare tidak menunjukan hal yang sama. Dari hasil studi morbiditas oleh DEPKES di 8 propinsi pada tahun 1989,1990,1995 berturut-turut morbiditas diare menunjukan 78 %, 103 % dan 100 %. Apalagi dengan terjadinya krisis ekonomi yang melanda negara Asia dimana Indonesia yang terparah, angka kejadian diare menunjukan kenaikan. Bahkan gangguan kesehatan maupun yang terkait dengan diare seperti gangguan gizi dan ISPA menunjukan hasil yang nyata (DEPKES RI, 1999).
Meskipun pada orang dewasa penyakit diare baiasanya lebih ringan dari pada pada anak tetapi angka kejadian yang semakin menurun menujukan angka kemajuan penanganan diare. Pada saat ini sudah tersedia pengobatan yang mudah dan efektif yang dapat menurunkan jumlah kematian karena diare pada sebagian besar kasus. Sekarang dengan dipakainya upaya pembentukan KPD (kegiatan pendidikan Diare) antara lain dengan pojok URO (Upaya Rehidrasi Oral) di banyak rumah sakit dan dilanjutkan dengan pendidikan medik penberantasan diare kasus diare di bangsal semakin berkurang secara nyata.

B. PENGERTIAN.
Menurut Haroen N, S. Suraatmaja dan P.O Asdil (1998), diare adalah defekasi encer lebih dari 3 kali sehari dengan atau tanpa darah atau lendir dalam tinja.
Sedangkan menurut C.L Betz & L.A Sowden (1996) diare merupakan suatu keadaan terjadinya inflamasi mukosa lambung atau usus.
Menurut Suradi & Rita (2001), diare diartikan sebagai suatu keadaan dimana terjadinya kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi buang air besar satu kali atau lebih dengan bentuk encer atau cair.
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah yinja yang lebih banyak dari biasanya (normal 100-200 cc/jam tinja). Dengan tinja berbentuk cair /setengan padat, dapat disertai frekuensi yang meningkat. Menurut WHO (1980), diare adalah buang air besar encer lebih dari 3 x sehari. Diare terbagi 2 berdasarkan mula dan lamanya , yaitu diare akut dan kronis (Mansjoer,A.1999,501).
Beberapa pengertian lain tentang diare sepeerti :
1. Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cairan, dengan demikian kandungan air pada tinja lebih banyak dari keadaan normal yakni 100-200 ml sekali defekasi (Hendarwanto, 1999).
2. Menurut WHO (1980) diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari.
3. Diare ialah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak dengan konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat bercampur lendir dan darah (Ngastiyah, 1997).
Anak usia TODDLER adalah anak usia antara 1 sampai 3 tahun (Donna L. Wong)
Jadi diare dapat diartikan suatu kondisi, buang air besar yang tidak normal yaitu lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja yang encer dapat disertai atau tanpa disertai darah atau lendir sebagai akibat dari terjadinya proses inflamasi pada lambung atau usus.
Diare adalah kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi satu kali atau lebih buang air besar dengan bentuk tinja yang encer atau cair.




C. PENYEBAB
Menurut Haroen N.S, Suraatmaja dan P.O Asnil (1998), ditinjau dari sudut patofisiologi, penyebab diare akut dapat dibagi dalam dua golongan yaitu:
1. Diare sekresi (secretory diarrhoe), disebabkan oleh:
a) Infeksi virus, kuman-kuman patogen dan apatogen seperti shigella, salmonela, E. Coli, golongan vibrio, B. Cereus, clostridium perfarings, stapylococus aureus, comperastaltik usus halus yang disebabkan bahan-bahan kimia makanan (misalnya keracunan makanan, makanan yang pedas, terlalau asam), gangguan psikis (ketakutan, gugup), gangguan saraf, hawa dingin, alergi dan sebagainya.
b) Defisiensi imum terutama SIGA (secretory imonol bulin A) yang mengakibatkan terjadinya berlipat gandanya bakteri/flata usus dan jamur terutama canalida.
2. Diare osmotik (osmotik diarrhoea) disebabkan oleh:
a) malabsorpsi makanan: karbohidrat, lemak (LCT), protein, vitamin dan mineral.
b) Kurang kalori protein.
c) Bayi berat badan lahir rendah dan bayi baru lahir.
Sedangkan menurut Ngastiyah (1997), penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa faktor yaitu:
1. Faktor infeksi
a) Infeksi enteral
Merupakan penyebab utama diare pada anak, yang meliputi: infeksi bakteri, infeksi virus (enteovirus, polimyelitis, virus echo coxsackie). Adeno virus, rota virus, astrovirus, dll) dan infeksi parasit : cacing (ascaris, trichuris, oxyuris, strongxloides) protozoa (entamoeba histolytica, giardia lamblia, trichomonas homunis) jamur (canida albicous).
b) Infeksi parenteral ialah infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti otitis media akut (OMA) tonsilitis/tonsilofaringits, bronkopeneumonia, ensefalitis infeksi saluran kemih dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur dibawah dua (2) tahun.
2. Faktor malabsorsi atau Gangguan metabolik : penyakit celiac, cystic fibrosis pada pankreas. Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Intoleransi laktosa merupakan penyebab diare yang terpenting pada bayi dan anak. Di samping itu dapat pula terjadi malabsorbsi lemak dan protein.
3. Faktor makanan : Makanan basi, beracun, terlampau banyak lemak, sayuran dimasak kutang matang. Alergi makanan; susu, protein
4. Faktor psikologis: Rasa takut, cemas, Emosional atau stress
5. Iritasi langsung pada saluran pencernaan oleh makanan
6. Obat-obatan; antibiotik,
7. Penyakit usus; colitis ulcerative, crohn disease, enterocolitis
8. Obstruksi usus

D. PATOFISIOLOGI
Mekanisme dasar yang menyebabkan diare ialah yang pertama gangguan osmotik, akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus, isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.
Kedua akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekali air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
Ketiga gangguan motalitas usus, terjadinya hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri timbul berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula.
Selain itu diare juga dapat terjadi, akibat masuknya mikroorganisme hidup ke dalam usus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung, mikroorganisme tersebut berkembang biak, kemudian mengeluarkan toksin dan akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare.
Sedangkan akibat dari diare akan terjadi beberapa hal sebagai berikut:
1. Kehilangan air (dehidrasi)
Dehidrasi terjadi karena kehilangan air (output) lebih banyak dari pemasukan (input), merupakan penyebab terjadinya kematian pada diare.
2. Gangguan keseimbangan asam basa (metabik asidosis)
Hal ini terjadi karena kehilangan Na-bicarbonat bersama tinja. Metabolisme lemak tidak sempurna sehingga benda kotor tertimbun dalam tubuh, terjadinya penimbunan asam laktat karena adanya anorexia jaringan. Produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal (terjadi oliguria/anuria) dan terjadinya pemindahan ion Na dari cairan ekstraseluler kedalam cairan intraseluler. Cairan, sodium, potasium dan bikarbonat berpinah dari rongga ektraseluler ke dalam tinjaa, sehingga mengakibatkan dehidrasi kekurangan elektrolit, dan dapat terjadi asidosis metabolik
3. Hipoglikemia
Hipoglikemia terjadi pada 2-3% anak yang menderita diare, lebih sering pada anak yang sebelumnya telah menderita KKP. Hal ini terjadi karena adanya gangguan penyimpanan/penyediaan glikogen dalam hati dan adanya gangguan absorbsi glukosa.Gejala hipoglikemia akan muncul jika kadar glukosa darah menurun hingga 40 mg% pada bayi dan 50% pada anak-anak.
4. Gangguan gizi
Terjadinya penurunan berat badan dalam waktu singkat, hal ini disebabkan oleh:
- Makanan sering dihentikan oleh orang tua karena takut diare atau muntah yang bertambah hebat.
- Walaupun susu diteruskan, sering diberikan dengan pengeluaran dan susu yang encer ini diberikan terlalu lama.
- Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorbsi dengan baik karena adanya hiperperistaltik.
5. Gangguan sirkulasi
Sebagai akibat diare dapat terjadi renjatan (shock) hipovolemik, akibatnya perfusi jaringan berkurang dan terjadi hipoksia, asidosis bertambah berat, dapat mengakibatkan perdarahan otak, kesadaran menurun dan bila tidak segera diatasi klien akan meninggal.
6. Diare yang terjadi merupakan proses dari ;
Peradangan akan menurunkan kemampuan intestinal untuk mengabsorbsi cairan dan elektrolit dan bahan-bahan makanan. Ini terjadi pada sindrom malabsorbsi.

E. MANIFESTASI KLINIS DIARE
Mula-mula anak cengeng, gelisah, suhu tubuh meningkat, napsu makan berkurang kemudian timbul diare. Tinja mungkin disertai lendir dan atau darah. Warna tinja makin lama berubah kehijauan karena bercampur dengan empedu. Daerah anus dan sekitarnya timbul luka lecet karena sering defekasi dan tinja yang asam akibat laktosa yang tidak diabsorbsi usus selama diare.
Gejala muntah dapat timbul sebelum atau selama diare dan dapat disebabkan karena lambung turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit. Bila kehilangan cairan terus berlangsung tanpa penggantian yang memadai, gejala dehidrasi mulai tampak yaitu: berat badan menurun, turgor kulit berkurang, mata dan ubun-ubun besar cekung (pada bayi), selaput lendir bibir dan mulut serta kulit kering.
Bila dehidrasi terus berlanjut dapat terjadi renjatan hipovolemik dengan gejala denyut jantung menjadi cepat, denyut nadi cepat dan lemah bahkan tidak teraba, tekanan darah menurun, klien tampak lemah dengan kesadaran menurun. Karena kekurangan cairan, diuresis berkurang (oliguria sampai anuria). Bila terjadi asidosis metabolik klien akan tampak pucat, pernapasan cepat dan dalam (pernapasan Kussmaul).

F. KOMPLIKASI
1. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik).
2. Renjatan hipovolemik.
3. Hipokalemia (dengan gejala mekorismus, hiptoni otot, lemah, bradikardi, perubahan pada elektro kardiagram).
4. Hipoglikemia.
5. Introleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase karena kerusakan vili mukosa, usus halus.
6. Kejang terutama pada dehidrasi hipertonik.
7. Malnutrisi energi, protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga mengalami kelaparan.
8. Hipokalsemi
9. Cardiac dysrhythmias akibat hipokalemi dan hipokalsemi
10. Hiponatremi
11. Syok hipovolemik
12. Asidosis

G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Pemeriksaan tinja
a) Makroskopis dan mikroskopis
b) PH dan kadar gula dalam tinja
c) Bila perlu diadakan uji bakteri
2. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah, dengan menentukan PH dan cadangan alkali dan analisa gas darah. AGD : asidosis metabolic ( Ph menurun, pO2 meningkat, pcO2 meningkat, HCO3 menurun )
3. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.
4. Pemeriksaan elektrolit terutama kadar Na, K, Kalsium dan Posfat( Serum elektrolit : Hipo natremi, Hipernatremi, hipokalemi).
5. Riwayat alergi pada obat-obatan atau makanan
6. Kultur tinja : Bakteri, virus, parasit, candida
7. Pemeriksaan elektrolit; BUN, creatinine, dan glukosa
8. Faal ginjal : UC meningkat (GGA)
9. Radiologi : mungkin ditemukan bronchopemoni


H. PENTALAKSANAAN
1. Medis
Dasar pengobatan diare adalah:
a. Pemberian cairan, jenis cairan, cara memberikan cairan, jumlah pemberiannya.
b. Jumlah Cairan ; tergantung pada :
1) Defisit ( derajat dehidrasi)
2) Kehilangan sesaat (concurrent less)
3) Rumatan (maintenance).

Pada prinsipnya jumlah cairan pengganti yang hendak diberikan harus sesuai dengan jumlah cairan yang keluar dari badan. Jumlah kehilangan cairan dari badan dapat dihitung dengan cara/rumus:
1. Mengukur BJ Plasma
Kebutuhan cairan dihitung dengan rumus:
BJ Plasma – 1,025
---------------------- x BB x 4 ml
0,001

2. Metode Pierce
Berdasarkan keadaan klinis, yakni:
* diare ringan, kebutuhan cairan = 5% x kg BB
* diare sedang, kebutuhan cairan = 8% x kg BB
* diare ringan, kebutuhan cairan = 10% x kg BB


c. Jadwal / kecepatan cairan
1) Pada anak usia 1- 5 tahun dengan pemberian 3 gelas bila berat badanya kurang lebih 13 kg : maka pemberianya adalah :
i. BB (kg) x 50 cc
ii. BB (kg) x 10 – 20 = 130 – 260 cc setiap diare = 1 gls.
2) Terapi standar pada anak dengan diare sedang :
i. + 50 cc/kg/3 jam atau 5 tetes/kg/mnt



1) Cairan per oral
Pada klien dengan dehidrasi ringan dan sedang diberikan peroral berupa cairan yang bersifat NaCl dan NaHCO3 dan glukosa. Untuk diare akut dan kolera pada anak diatas 6 bulan kadar Natrium 90 mEg/l. Pada anak dibawah umur 6 bulan dengan dehidrasi ringan-sedang kadar natrium 50-60 mEg/l. Formula lengkap disebut oralit, sedangkan larutan gula garam dan tajin disebut formula yang tidak lengkap karena banyak mengandung NaCl dan sukrosa. Pemberian cairan dan elektrolit; oral (seperti; pedialyte atau oralit) atau terapi parenteral. . Pada keadaan diare akut awal yang ringan dapat diberikan cairan oralit untuk mencegah dehidrasi dengan segala akibatnya.
Pada bayi, pemberian ASI diteruskan jika penyebab bukan dari ASI
2) Cairan parentral
Pada saat ini cairan Ringer Laktat merupakan cairan pilihan karena tersedia cukup banyak di pasaran meskipun jumlah kaliumnya rendah bila dibandingkan dengan kadar kalium tinja. Bila RL tidak tersedia dapat diberiakn NaCl isotonik (0,9%) yang sebaiknya ditambahkan dengan 1 ampul Nabik 7,5% 50 ml pada setiap satu liter NaCl isotonic. Cairan I : RL dan NS Cairan II : D5 ¼ salin,nabic. KCL
D5 : RL = 4 : 1 + KCL
D5 + 6 cc NaCl 15 % + Nabic (7 mEq/lt) + KCL
HSD (half strengh darrow) D ½ 2,5 NS cairan khusus pada diare usia > 3 bulan.

Cairan Parenteral diberikan pada klien yang mengalami dehidrasi berat, dengan rincian sebagai berikut:
Untuk anak umur 1 bl-2 tahun berat badan 3-10 kg
• 1 jam pertama : 40 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt (infus set berukuran 1 ml=15 tts atau 13 tts/kgBB/menit (set infus 1 ml=20 tetes).
• 7 jam berikutnya : 12 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt (infusset berukuran 1 ml=15 tts atau 4 tts/kgBB/menit (set infus 1 ml=20 tetes).
• 16 jam berikutnya : 125 ml/kgBB/ oralit
Untuk anak lebih dari 2-5 tahun dengan berat badan 10-15 kg
1 jam pertama : 30 ml/kgBB/jam atau 8 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 10 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).
Untuk anak lebih dari 5-10 tahun dengan berat badan 15-25 kg
• 1 jam pertama : 20 ml/kgBB/jam atau 5 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 7 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).
• 7 jam berikut : 10 ml/kgBB/jam atau 2,5 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 3 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).
• 16 jam berikut : 105 ml/kgBB oralit per oral.
Untuk bayi baru lahir dengan berat badan 2-3 kg
• Kebutuhan cairan: 125 ml + 100 ml + 25 ml = 250 ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian glukosa 5% + 1 bagian NaHCO3 1½ %.
Kecepatan : 4 jam pertama : 25 ml/kgBB/jam atau 6 tts/kgBB/menit (1 ml = 15 tts) 8 tts/kg/BB/mt (1mt=20 tts).
• Untuk bayi berat badan lahir rendah
Kebutuhan cairan: 250 ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian glukosa 10% + 1 bagian NaHCO3 1½ %).
d. Pengobatan dietetik
Untuk anak dibawah 1 tahun dan anak diatas 1 tahun dengan berat badan kurang dari 7 kg, jenis makanan:
1) Susu (ASI, susu formula yang mengandung laktosa rendah dan lemak tak jenuh
2) Makanan setengah padat (bubur atau makanan padat (nasi tim)
3) Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan misalnya susu yang tidak mengandung laktosa dan asam lemak yang berantai sedang atau tak jenuh. Dalam keadaan malbasorbsi berat serta alergi protein susu sapi dapat diberi elemen atau semi elemental formula.
e. Obat-obatan
Prinsip pengobatan menggantikan cairan yang hilang dengan cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa atau karbohidrat lain. Obat-obatan yang diberikan pada anak diare adalah:
1) Obat anti sekresi (Asetosal, 25 mg/hari dengan dosis minimal 30 mg klorpromazine 0,5 – 1 mg / kg BB/hari )
2) Obat spasmolitik (papaverin, ekstrakbelladone)
3) Antibiotik (diberikan bila penyebab infeksi telah diidentifikasi)
f. Supportif
Vitamin A 200.000. IU/IM, usia 1 – 5 tahun
2. Keperawatan
a. Identitas
Perlu diperhatikan adalah usia. Episode diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan. Insiden paling tinggi adalah golongan umur 6-11 bulan. Kebanyakan kuman usus merangsang kekebalan terhadap infeksi, hal ini membantu menjelaskan penurunan insidence penyakit pada anak yang lebih besar. Pada umur 2 tahun atau lebih imunitas aktif mulai terbentuk. Kebanyakan kasus karena infeksi usus asimptomatik dan kuman enteric menyebar terutama klien tidak menyadari adanya infeksi. Status ekonomi juga berpengaruh terutama dilihat dari pola makan dan perawatannya .
b. Keluhan Utama
BAB lebih dari 3 x
c. Riwayat Keperawatan/Penyakit Sekarang
Pada umumnya anak masuk rumah sakit dengan keluhan buang air cair berkali-kali baik desertai atau tanpa dengan muntah, tinja dapat bercampur lendir dan atau darah. Keluhan lain yang mungkin didapatkan adalah napsu makan menurun, suhu badan meningkat, volume diuresis menurun dan gejala penurunan kesadaran. BAB warna kuning kehijauan, bercamour lendir dan darah atau lendir saja. Konsistensi encer, frekuensi lebih dari 3 kali, waktu pengeluaran : 3-5 hari (diare akut), lebih dari 7 hari ( diare berkepanjangan), lebih dari 14 hari (diare kronis).
d. Riwayat Keperawatan/Penyakit Sebelumnya
Meliputi pengkajian riwayat prenatal, natal dan post natal, hospitalisasi dan pembedahan yang pernah dialami, alergi, pola kebiasaan, tumbuh-kembang, imunisasi, status gizi (lebih, baik, kurang, buruk), psikososial, psikoseksual, interaksi dan lain-lain. Pernah mengalami diare sebelumnya, pemakian antibiotik atau kortikosteroid jangka panjang (perubahan candida albicans dari saprofit menjadi parasit), alergi makanan, ISPA, ISK, OMA campak.
e. Riwayat Kesehatan Keluarga
Meliputi pengkajian pengkajian komposisi keluarga, lingkungan rumah dan komunitas, pendidikan dan pekerjaan anggota keluarga, fungsi dan hubungan angota keluarga, kultur dan kepercayaan, perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan, persepsi keluarga tentang penyakit klien dan lain-lain. Ada salah satu keluarga yang mengalami diare.
f. Riwayat Nutrisi
Pada anak usia toddler makanan yang diberikan seperti pada orang dewasa, porsi yang diberikan 3 kali setiap hari dengan tambahan buah dan susu. kekurangan gizi pada anak usia toddler sangat rentan,. Cara pengelolahan makanan yang baik, menjaga kebersihan dan sanitasi makanan, kebiasan cuci tangan,
g. Riwayat Kesehatan Lingkungan
Penyimpanan makanan pada suhu kamar, kurang menjaga kebersihan, lingkungan tempat tinggal.
h. Riwayat Pertumbuhan dan perkembangan
1) Pertumbuhan
a) Kenaikan BB karena umur 1 –3 tahun berkisar antara 1,5-2,5 kg (rata-rata 2 kg), PB 6-10 cm (rata-rata 8 cm) pertahun.
b) Kenaikan linkar kepala : 12cm ditahun pertama dan 2 cm ditahun kedua dan seterusnya.
c) Tumbuh gigi 8 buah : tambahan gigi susu; geraham pertama dan gigi taring, seluruhnya berjumlah 14 – 16 buah
d) Erupsi gigi : geraham perama menusul gigi taring.
2) Perkembangan
a) Tahap perkembangan Psikoseksual menurut Sigmund Freud.
Fase anal :
Pengeluaran tinja menjadi sumber kepuasan libido, meulai menunjukan keakuannya, cinta diri sendiri/ egoistic, mulai kenal dengan tubuhnya, tugas utamanyan adalah latihan kebersihan, perkembangan bicra dan bahasa (meniru dan mengulang kata sederhana, hubungna interpersonal, bermain).
b) Tahap perkembangan psikososial menurut Erik Erikson.
Autonomy vs Shame and doundt
Perkembangn ketrampilan motorik dan bahasa dipelajari anak toddler dari lingkungan dan keuntungan yang ia peroleh Dario kemam puannya untuk mandiri (tak tergantug). Melalui dorongan orang tua untuk makan, berpakaian, BAB sendiri, jika orang tua terlalu over protektif menuntut harapan yanag terlalu tinggi maka anak akan merasa malu dan ragu-ragu seperti juga halnya perasaan tidak mampu yang dapat berkembang pada diri anak.
c) Gerakan kasar dan halus, bacara, bahasa dan kecerdasan, bergaul dan mandiri : Umur 2-3 tahun :
• berdiri dengan satu kaki tampa berpegangan sedikitpun 2 hitungan (GK)
• Meniru membuat garis lurus (GH)
• Menyatakan keinginan sedikitnya dengan dua kata (BBK)
• Melepas pakaian sendiri (BM)
i. Pengkajian Fisik/Pemeriksaan Fisik
1) Pengakajian secara umum dilakukan dengan metode head to too yang meliputi: keadaan umum dan status kesadaran, tanda-tanda vital, area kepala dan wajah, dada, abdomen, ekstremitas dan genito-urinaria.
2) Fokus pengkajian pada anak dengan diare adalah penemuan tanda-tanda yang mungkin didapatkan yang meliputi: penurunan BB, denyut nadi cepat dan lemah, tekanan darah menurun, mata cekung, mukosa bibir dan mulut kering, kulit kering dengan turgor berkurang. Dapat ditemukan peningkatan frekuensi pernapasan, peningkatan peristaltik usus dan adanya luka lecet sekitar anus.
3) Pemeriksaan Fisik
a) pengukuran panjang badan, berat badan menurun, lingkar lengan mengecil, lingkar kepala, lingkar abdomen membesar,
b) keadaan umum : klien lemah, gelisah, rewel, lesu, kesadaran menurun.
c) Kepala : ubun-ubun tak teraba cekung karena sudah menutup pada anak umur 1 tahun lebih
d) Mata : cekung, kering, sangat cekung
e) Sistem pencernaan : mukosa mulut kering, distensi abdomen, peristaltic meningkat > 35 x/mnt, nafsu makan menurun, mual muntah, minum normal atau tidak haus, minum lahap dan kelihatan haus, minum sedikit atau kelihatan bisa minum
f) Sistem Pernafasan : dispnea, pernafasan cepat > 40 x/mnt karena asidosis metabolic (kontraksi otot pernafasan)
g) Sistem kardiovaskuler : nadi cepat > 120 x/mnt dan lemah, tensi menurun pada diare sedang .
h) Sistem integumen : warna kulit pucat, turgor menurun > 2 dt, suhu meningkat > 375 0 c, akral hangat, akral dingin (waspada syok), capillary refill time memajang > 2 dt, kemerahan pada daerah perianal.
i) Sistem perkemihan : urin produksi oliguria sampai anuria (200-400 ml/ 24 jam ), frekuensi berkurang dari sebelum sakit.
j) Dampak hospitalisasi : semua anak sakit yang MRS bisa mengalami stress yang berupa perpisahan, kehilangan waktu bermain, terhadap tindakan invasive respon yang ditunjukan adalah protes, putus asa, dan kemudian menerima.


Masalah klien diare yang perlu diperhatikan ialah resiko terjadinya gangguan sirkulasi darah, kebutuhan nutrisi, resiko komplikasi, gangguan rasa aman dan nyaman, kurangnya pengetahuan orang tua mengenai proses penyakit.
Mengingat diare sebagian besar menular, maka perlu dilakukan penataan lingkungan sehingga tidak terjadi penularan pada klien lain.
a. Data fokus
1) Hidrasi
- Turgor kulit
- Membran mukosa
- Asupan dan haluaran
2) Abdomen
- Nyeri
- Kekauan
- Bising usus
- Muntah-jumlah, frekuensi dan karakteristik
- Feses-jumlah, frekuensi, dan karakteristik
- Kram
- Tenesmus

j. Diagnosa keperawatan dan intrevensi keperawatan

Diagnosa 1: Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan skunder terhadap diare
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam keseimbangan dan elektrolit dipertahankan secara maksimal
Kriteria hasil :
o Tanda vital dalam batas normal (N: 120-60 x/mnt, S; 36-37,50 c, RR : < 40 x/mnt )
o Turgor elastik , membran mukosa bibir basah, mata tidak cowong, UUB tidak cekung.
o Konsistensi BAB lembek, frekwensi 1 kali perhari
Intervensi :
1) Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan dan elektrolit
R/ Penurunan sisrkulasi volume cairan menyebabkan kekeringan mukosa dan pemekataj urin. Deteksi dini memungkinkan terapi pergantian cairan segera untuk memperbaiki defisit
2) Pantau intake dan output
R/ Dehidrasi dapat meningkatkan laju filtrasi glomerulus membuat keluaran tak aadekuat untuk membersihkan sisa metabolisme.
3) Timbang berat badan setiap hari
R/ Mendeteksi kehilangan cairan , penurunan 1 kg BB sama dengan kehilangan cairan 1 lt
4) Anjurkan keluarga untuk memberi minum banyak pada kien, 2-3 lt/hr
R/ Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang secara oral
5) Kolaborasi :
1. Pemeriksaan laboratorium serum elektrolit (Na, K,Ca, BUN)
R/ koreksi keseimbang cairan dan elektrolit, BUN untuk mengetahui faal ginjal (kompensasi).
2. Cairan parenteral ( IV line ) sesuai dengan umur
R/ Mengganti cairan dan elektrolit secara adekuat dan cepat.
3. Obat-obatan : (antisekresin, antispasmolitik, antibiotik)
R/ anti sekresi untuk menurunkan sekresi cairan dan elektrolit agar simbang, antispasmolitik untuk proses absorbsi normal, antibiotik sebagai anti bakteri berspektrum luas untuk menghambat endotoksin.

Diagnosa 2 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya intake dan out put
Tujuan : setelah dilakukan tindakan perawatan selama dirumah di RS kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria : - Nafsu makan meningkat
- BB meningkat atau normal sesuai umur
Intervensi :
1) Diskusikan dan jelaskan tentang pembatasan diet (makanan berserat tinggi, berlemak dan air terlalu panas atau dingin)
R/ Serat tinggi, lemak,air terlalu panas / dingin dapat merangsang mengiritasi lambung dan sluran usus.
2) Ciptakan lingkungan yang bersih, jauh dari bau yang tak sedap atau sampah, sajikan makanan dalam keadaan hangat
R/ situasi yang nyaman, rileks akan merangsang nafsu makan.
3) Berikan jam istirahat (tidur) serta kurangi kegiatan yang berlebihan
R/ Mengurangi pemakaian energi yang berlebihan
4) Monitor intake dan out put dalam 24 jam
R/ Mengetahui jumlah output dapat merencenakan jumlah makanan.
5) Kolaborasi dengan tim kesehtaan lain :
a. terapi gizi : Diet TKTP rendah serat, susu
b. obat-obatan atau vitamin ( A)
R/ Mengandung zat yang diperlukan , untuk proses pertumbuhan

Diagnosa 3 : Resiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi dampak sekunder dari diare
Tujuan : Stelah dilakukan tindakan perawatan selama 3x 24 jam tidak terjadi peningkatan suhu tubuh
Kriteria hasil : suhu tubuh dalam batas normal ( 36-37,5 C)
Tidak terdapat tanda infeksi (rubur, dolor, kalor, tumor, fungtio leasa)
Intervensi :
1) Monitor suhu tubuh setiap 2 jam
R/ Deteksi dini terjadinya perubahan abnormal fungsi tubuh ( adanya infeksi)
2) Berikan kompres hangat
R/ merangsang pusat pengatur panas untuk menurunkan produksi panas tubuh
3) Kolaborasi pemberian antipirektik
R/ Merangsang pusat pengatur panas di otak

Diagnosa 4 : Resiko gangguan integritas kulit perianal berhubungan dengan peningkatan frekwensi BAB (diare)
Tujuan : setelah dilakukan tindaka keperawtan selama di rumah sakit integritas kulit tidak terganggu
Kriteria hasil : - Tidak terjadi iritasi : kemerahan, lecet, kebersihan terjaga
- Keluarga mampu mendemontrasikan perawatan perianal
dengan baik dan benar
Intervensi :
1) Diskusikan dan jelaskan pentingnya menjaga tempat tidur
R/ Kebersihan mencegah perkembang biakan kuman
2) Demontrasikan serta libatkan keluarga dalam merawat perianal (bila basah dan mengganti pakaian bawah serta alasnya)
R/ Mencegah terjadinya iritassi kulit yang tak diharapkan oleh karena kelebaban dan keasaman feces
3) Atur posisi tidur atau duduk dengan selang waktu 2-3 jam
R/ Melancarkan vaskulerisasi, mengurangi penekanan yang lama sehingga tak terjadi iskemi dan irirtasi .

Diagnosa 5 : Kecemasan anak berhubungan dengan tindakan invasive
Tujuan : setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3 x 24 jam, klien mampu beradaptasi
Kriteria hasil : Mau menerima tindakan perawatan, klien tampak tenang dan tidak rewel
Intervensi :
1) Libatkan keluarga dalam melakukan tindakan perawatan
R/ Pendekatan awal pada anak melalui ibu atau keluarga
2) Hindari persepsi yang salah pada perawat dan RS
R/ mengurangi rasa takut anak terhadap perawat dan lingkungan RS
3) Berikan pujian jika klien mau diberikan tindakan perawatan dan pengobatan
R/ menambah rasa percaya diri anak akan keberanian dan kemampuannya
4) Lakukan kontak sesering mungkin dan lakukan komunikasi baik verbal maupun non verbal (sentuhan, belaian dll)
R/ Kasih saying serta pengenalan diri perawat akan menunbuhkan rasa aman pada klien.
5) Berikan mainan sebagai rangsang sensori anak


TAMBAHAN

Diagnosa Keperawatan Intervensi Keperawatan yang mungkin berhubungan :
Dx.1 Kekurangan volume cairan b/d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah serta intake terbatas (mual)
Intervensi dan Rasional:
1. Berikan cairan oral dan parenteral sesuai dengan program rehidrasi
Sebagai upaya rehidrasi untuk mengganti cairan yang keluar bersama feses.
2. Pantau intake dan output.
Memberikan informasi status keseimbangan cairan untuk menetapkan kebutuhan cairan pengganti.
3. Kaji tanda vital, tanda/gejala dehidrasi dan hasil pemeriksaan laboratorium
Menilai status hidrasi, elektrolit dan keseimbangan asam basa.
4. Kolaborasi pelaksanaan terapi definitif.
Pemberian obat-obatan secara kausal penting setelah penyebab diare diketahui.

Dx.2 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien dan peningkatan peristaltik usus.
Intervensi dan Rasional:
1. Pertahankan tirah baring dan pembatasan aktivitas selama fase akut.
Menurunkan kebutuhan metabolik.
2. Pertahankan status NPO (puasa) selama fase akut (sesuai program terapi) dan segera mulai pemberian makanan per oral setelah kondisi klien mengizinkan
Pembatasan diet per oral mungkin ditetapkan selama fase akut untuk menurunkan peristaltik sehingga terjadi kekurangan nutrisi. Pemberian makanan sesegera mungkin penting setelah keadaan klinis klien memungkinkan.
3. Bantu pelaksanaan pemberian makanan sesuai dengan program diet.
Memenuhi kebutuhan nutrisi klien
4. Kolaborasi pemberian nutrisi parenteral sesuai indikasi.
Mengistirahatkan kerja gastrointestinal dan mengatasi/mencegah kekurangan nutrisi lebih lanjut.

Dx.3 Nyeri (akut) b/d hiperperistaltik, iritasi fisura perirektal.
Intervensi dan Rasional:
1. Atur posisi yang nyaman bagi klien, misalnya dengan lutut fleksi.
Menurunkan tegangan permukaan abdomen dan mengurangi nyeri.
2. Lakukan aktivitas pengalihan untuk memberikan rasa nyaman seperti masase punggung dan kompres hangat abdomen
Meningkatkan relaksasi, mengalihkan fokus perhatian kliendan meningkatkan kemampuan koping.
3. Bersihkan area anorektal dengan sabun ringan dan airsetelah defekasi dan berikan perawatan kulit
Melindungi kulit dari keasaman feses, mencegah iritasi.
4. Kolaborasi pemberian obat analgetika dan atau antikolinergik sesuai indikasi
Analgetik sebagai agen anti nyeri dan antikolinergik untuk menurunkan spasme traktus GI dapat diberikan sesuai indikasi klinis.
5. Kaji keluhan nyeri (skala 1-10), perubahan karakteristik nyeri, petunjuk verbal dan non verbal
Mengevaluasi perkembangan nyeri untuk menetapkan intervensi selanjutnya.

Dx.4 Kecemasan keluarga b/d perubahan status kesehatan anaknya.
Intervensi dan Rasional:
1. Dorong keluarga klien untuk membicarakan kecemasan dan berikan umpan balik tentang mekanisme koping yang tepat.
Membantu mengidentifikasi penyebab kecemasan dan alternatif pemecahan masalah.
2. Tekankan bahwa kecemasan adalah masalah yang umum terjadi pada orang tua klien yang anaknya mengalami masalah yang sama.
Membantu menurunkan stres dengan mengetahui bahwa klien bukan satu-satunya orang yang mengalami masalah yang demikian.
3. Ciptakan lingkungan yang tenang, tunjukkan sikap ramah tamah dan tulus dalam membantu klien.
Mengurangi rangsang eksternal yang dapat memicu peningkatan kecamasan.

Dx.5 Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b/d pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau keterbatasan kognitif.
Intervensi dan Rasional:
1. Kaji kesiapan keluarga klien mengikuti pembelajaran, termasuk pengetahuan tentang penyakit dan perawatan anaknya.
Efektivitas pembelajaran dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan mental serta latar belakang pengetahuan sebelumnya.
2. Jelaskan tentang proses penyakit anaknya, penyebab dan akibatnya terhadap gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari aktivitas sehari-hari.
Pemahaman tentang masalah ini penting untuk meningkatkan partisipasi keluarga klien dan keluarga dalam proses perawatan klien.
3. Jelaskan tentang tujuan pemberian obat, dosis, frekuensi dan cara pemberian serta efek samping yang mungkin timbul.
Meningkatkan pemahaman dan partisipasi keluarga klien dalam pengobatan.
4. Jelaskan dan tunjukkan cara perawatan perineal setelah defekasi.
Meningkatkan kemandirian dan kontrol keluarga klien terhadap kebutuhan perawatan diri anaknya.


Intervensi Keperawatan yang mungkin berhubungan dengan diagnosa keperawatan Lain :
1. Meningkatkan hidrasi dan keseimbangan elektrolit
 Kaji status hidrasi,; ubun-ubun, mata, turgor kulit dan membran mukosa
 Kaji pengeluaran urine; gravitasi urine atau berat jenis urine (1.005-1.020) atau sesuai dengan usia pengeluaran urine 1-2 ml/kg per jam
 Kaji pemasukan dan pengeluaran cairan
 Monitor tanda-tanda vital
 Pemeriksaan laboratorium sesuai program; elektrolit, Ht, pH, dan serum albumin
 Pemberian cairan dan elektrolit sesuai protokol (dengan oralit, dan cairan parenteral bila indikasi)
 Pemberian obat anti diare dan antibiotik sesuai program
 Anak diistirahatkan
2. Mempertahankan keutuhan kulit
 Kaji kerusakan kulit atau iritasi setiap buang air besar
 Gunakan kapas lembab dan sabun bayi (atau pH normal) untuk membersihkan anus setiap baung air besar
 Hindari dari pakaian dan pengalas tempat tidur yang lembab
 Ganti popok / kain apabila lembab atau basah
 Gunakan obat cream bila perlu untuk perawatan perineal
3. Mengurangi dan mencegah penyebaran infeksi
 Ajarkan cara mencuci tangan yang benar pada orang tua dan pengunjung
 Segera bersihkan dan angkat bekas baung air besar dan tempatkan pada tempat yang khusus
 Gunakan standar pencegahan universal (seperi; gunakan sarung tangan dan lain-lain)
 Tempatkan pada ruangan yang khusus
4. Meningkatkan kebutuhan nutrisi yang optimum
 Timbang berat badan anak setiap hari
 Monitor intake dan output (pemasukan dn pengeluaran)
 Setelah rehidrasi, berikan minuman oral dengan sering dan makanan yang sesuai dengan diit dan usia dan atau berat badan anak
 Hindari minuman buah-buahan
 Lakukan kebersihan mulut setiap habis makan
 Bagi bayi, ASI tetap diteruskan
 Bila bayi tidak toleran dengan ASI berikan formula yang rendah laktosa
5. Meningkatkan pengetahuan orang tua
 Kaji tingkat pemahaman orang tua
 Ajarkan tentang prinsip diit dan kontrol diare
 Ajarkan pada orang tua tentang pentingnya cuci tangan untuk menghindari kontaminasi
 Jelaskan tentang penyakit, perawatan dan pengobatan
 Jelaskan pentingnya kebersihan
6. Menurunkan rasa takut/cemas pada anak dan orang tua
 Ajarkan pad orang tua untuk mengekspresikan perasaan rasa takut dan cemas; dengarkan keluhan orang tua dan bersikap empati, dan sentuhan terapeutik
 Gunakan komunikasi terapuetik; kontak mata, sikap tubuh dan sentuhan
 Jelaskan setiap prosedur yang akan dilakukan pada anak dan orang tua
 Libatkan orang tua dalam perawatan anak
 Jelaskan kondisi anak, alasan pegobatan dan perawatan
7. Tingkatkan dan pantau keseimbangan cairan dan elektrolit
 Pantau cairan IV
 Kaji asupan dan keluaran
 Kaji status hidrasi
 Pantau berat badan harian
 Pantau kemampuan anak untuk rehidrasi
 Melalui mulut
8. Cegah iritabilitas saluran gastro intestinal lebih lanjut
• Kaji kemampuan anak untuk mengkonsumsi melalui mulut (misalnya: pertama diberi cairan rehidrasi oral, kemudian meningkat ke makanan biasa yang mudah dicerna seperti: pisang, nasi, roti atau asi.
• Hindari memberikan susu produk.
• Konsultasikan dengan ahli gizi tentang pemilihan makanan.
9. Cegah iritasi dan kerusakan kulit
• Ganti popok dengan sering, kaji kondisi kulit setiap saat.
• Basuh perineum dengan sabun ringan dan air dan paparkan terhadap udara.
• Berikan salep pelumas pada rektum dan perineum (feses yang bersifat asam akan mengiritasi kulit).
10. Ikuti tindakan pencegahan umum atau enterik untuk mencegah penularan infeksi (merujuk pada kebijakan dan prosedur institusi).
11. Penuhi kebutuhan perkembangan anak selama hospitalisasi.
• Sediakan mainan sesuai usia.
• Masukan rutinitas di rumah selama hospitalisasi.
• Dorong pengungkapan perasaan dengan cara-cara yang sesuai usia.
12. Berikan dukungan emosional keluarga.
• Dorong untuk mengekspresikan kekhawatirannya.
• Rujuk layanan sosial bila perlu.
• Beri kenyamanan fisik dan psikologis.
13. Rencana pemulangan.
• Ajarkan orang tua dan anak tentang higiene personal dan lingkungan.
• Kuatkan informasi tentang diet.
• Beri informasi tentang tanda-tanda dehidrasi pada orang tua.
• Ajarkan orang tua tentang perjanjian pemeriksaan ulang
• Jelaskan penyebab diare
• Ajarkan untuk mengenal komplikasi diare
• Ajarkan untuk mencegah penyakit diare dan penularan; ajarkan tentang standar pencegahan
• Ajarkan perawatan anak; pemberian makanan dan minuman (misalnya;oralit)
• Ajarkan mengenal tanda-tanda dehidrasi, ubun-ubun dan mata cekung, turgor kulit tidak elastis, membran mukosa kering
• Jelaskan obat-obatan yang diberikan; efek samping dan kegunaannya










DAFTAR PUSTAKA

Arjatmo T. 2001. Keadaan Gawat yang mengancam jiwa, Jakarta gaya baru
Bates. B, 1995. Pemeriksaan Fisik & Riwayat Kesehatan. Ed 2. EGC. Jakarta
Betz Cecily L, Sowden Linda A. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatik, Jakarta, EGC
Carpenitto.LJ. 2000. Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis. Ed 6. EGC. Jakarta.
Doengoes,2000. Asuhan Keperawatan Maternal/ Bayi. EGC. Jakarta
Sachasin Rosa M. 1996. Prinsip Keperawatan Pediatik. Alih bahasa : Manulang R.F. Jakarta, EGC
Kejang pada anak. www. Pediatik.com / knal.php
Lab/ UPF IKA, 1994. Pedoman Diagnosa dan Terapi . RSUD Dr. Soetomo. Surabaya.
Markum.AH. 1999. Ilmu Kesehatan Anak. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.
Ngastiyah (1997), Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta
Price & Wilson (1995), Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Buku 1, Ed.4, EGC, Jakarta
Soetjiningsih (1998), Tumbuh Kembang Anak, EGC, Jakarta
Soeparman & Waspadji (1990), Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Ed. Ke-3, BP FKUI, Jakarta.
Suryanah,2000. Keperawatan Anak. EGC. Jakarta














Perdarahan Gastroentistinal

DEFINISI
Hilangnya darah yang bisa dari berbagai tempat di intralumen dari orofaring sampai anus.

Klasifikasi :
1. Atas : di atas ligamentum Treitz
2. Bawah : di bawah ligamentum Treitz.

Tanda :

Hematemisis adalah muntah darah atau terdapat pada muntahan (UGIB). Sedangkan melena adalah pengeluaran feses yang berwarna hitam seperti ter yang disebabkan oleh adanya perdarahan saluran cerna bagian atas (Tondobala, 1987 dalam Suparman, 1993). Biasanya dari bagian atas saluran cerna, namun dapat di segala tempat di atas sekum. hematokezia : buang air besar berdarah (LGIB atau UGIB yang cepat).

Warna darah, tergantung:
• Lamanya hubungan antara atau kontak antara darah dengan asam lambung
• Besar kecilnya perdarahan,
Sehingga dapat berwarna seperti kopi, kemerah-merahan dan bergumpal-gumpal.
Hematemisis
Terjadi bila perdarahan dibagian proksimal jejunum (Tondobala, 1987) atau di atas ligamen Treitz /pada jungsi denojejunal (Hudak & Gallo, 1996)
Melena
Dapat terjadi tersendiri atau bersama-sama dengan hematemisis.
Paling sedikit terjadi perdarahan sebanyak 50-100 mL, baru dijumpai keadaan melena.

Etiologi perdarahan saluran cerna atas
• Kelainan esophagus: varises, esophagitis, keganasan
• Kelainan lambung dan duodenum: tukak lambung & duodenum, keganasan, dll
• Penyakit darah: leukemia, DIC, purpura trombositopenia, dll.
• Penyakit sistemik lainnya: uremia, dll
• Pemakaian obat yang ulserogenik: golongan salisilat, kortikosteroid, alkohol, dll
• Perdarahan orofaringeal dan epistakis darah tertelan
• Esofagitis erosive. Pejamu yang tanggap imunnya baik : GERD / esofagus Barrett, XRT. Pejamu yang tanggap imunnya lemah : CMV, HSV, kandida
• Varices (10 %)
• Ruptur Mallory-Weiss (7%, robekan di gastroesofagus karena mau muntah /muntah-muntah dengan glotis yang tertutup).
• Gastritis / gastropati (23%, NSAID, H. Pylori, alkohol, penyakit mukosa yang berhubungan dengan stres).
• Penyakit ulkus peptikum (PUD) (46%)
• Malformasi vaskular. Lesi Dieulafony (arteri ektatik superfisialis biasanya pada kardia dengan UGIB yang mendadak dan masif) AVM (tersendiri atau bersama sindrom Osler-Weber-Rendu) fistula aorta-enterik (tandur aorta mengikis sepertiga porsio duodenum, muncul dengan “perdarahan luas”) vaskulitis.
• Penyakit neoplastik (esofagus atau gaster)
• Penyebab lahirnya : ulserasi hiatus hernia, koagulapati, amiloidosis, penyakit jaringan penyambung
Penyebab perdarahan saluran cerna bagian atas terbanyak di Indonesia adalah karena pecahnya varises esophagus, dengan rata-rata 45-50% seluruh perdarahan saluran cerna bagian atas (Hilmy, 1971: 58%; Soemomarto, 1981: 60%; Abdurrahman: 50%; Hernomo, 1981: 44,8%; dan Ali: 57,43% seperti dikutip Tondobala, 1987 dalam Suparman, 1993)
.
Etiologi perdarahan saluran cerna bawah
•Penyakit divertikular
•Angiodisplasia
•Penyakit neoplastik
•Kolitis : infeksi, iskemik, radiasi, penyakit radang usus (UC > CD)
•Hemoroid
Manifestasi klinis
•UGIB > LGIB : mual, muntah, hematemesis, muntah seperti warna kopi, nyeri
epigastrium, reaksi vasovagal, sinkop, melena.
•LGIB > IGIB : diare, tenesmus, BRBPR atau kotoran berwarna maron


PATOFISIOLOGI
Pada gagal hepar sirosis kronis, kematian sel dalam hepar mengakibatkan peningkatan tekanan vena porta. Sebagai akibatnya terbentuk saluran kolateral dalam submukosa esopagus dan rektum serta pada dinding abdomen anterior untuk mengalihkan darah dari sirkulasi splenik menjauhi hepar. Dengan meningkatnya teklanan dalam vena ini, maka vena tsb menjadi mengembang dan membesar (dilatasi) oleh darah (disebut varises). Varises dapat pecah, mengakibatkan perdarahan gastrointestinal masif. Selanjutnya dapat mengakibatkan kehilangan darah tiba-tiba, penurunan arus balik vena ke jantung, dan penurunan curah jantung. Jika perdarahan menjadi berlebihan, maka akan mengakibatkan penurunan perfusi jaringan. Dalam berespon terhadap penurunan curah jantung, tubuh melakukan mekanisme kompensasi untuk mencoba mempertahankan perfusi. Mekanisme ini merangsang tanda-tanda dan gejala-gejala utama yang terlihat pada saat pengkajian awal. Jika volume darah tidak digantikan , penurunan perfusi jaringan mengakibatkan disfungsi seluler. Sel-sel akan berubah menjadi metabolsime anaerobi, dan terbentuk asam laktat. Penurunan aliran darah akan memberikan efek pada seluruh sistem tubuh, dan tanpa suplai oksigen yang mencukupi sistem tersebut akan mengalami kegagalan.
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan kolaboratif
Intervensi awal mencakup 4 langkah: (a) kaji keparahan perdarahan, (b) gantikan cairan dan produk darah untuk mnengatasi shock, (c) tegakan diagnosa penyebab perdarahan dan (d) rencanakan dan laksanakan perawatan definitif.
Resusitasi Cairan dan Produk Darah: Pasang akses intravena dengan kanul berdiameter besar. Buatlah akses dengan 2 jalur intravena yang berdiameter besar (18 gauge atau lebih). Lakukan penggantian cairan intravena: RL atau Normal saline. Kaji terus tanda-tanda vital saat cairan diganti.
Jika kehilangan cairan > 1500 ml membutuhkan penggantian darah selain cairan. Untuk itu periksa gol darah dan cross-match dapat menggunakan golongan darah O negatif jika eksanguinis). Identifikasi dan perbaiki koagulopati (FFP untuk menormalkan PT, trombosit tetap > 50000/mm3).
Kadang digunakan obat vasoaktif sampai cairan seimbang untuk mempertahankan tekanan darah dan perfusi orghan vital, seperti: dopamin, epineprin dan norefineprin untuk menstabilkan pasien sampai dilakukan perawatan definitif.
Penatalaksanaan jalan nafas bila diperlukan
Konsultasi dengan ahli bedah digestif bila diperlukan.
Mendiagnosa Penyebab Perdarahan : Dilakukan dengan endoskopi pleksibel. Angiografi (jika tidak terkaji dengan endoskofi)
Pemasangan selang nasogastrik utuk mengkaji tingkat perdarahan (tetapi kontroversial). Dapat mendiagnosis UGIB, dapat membuang isi saluran cerna (sebelum dilakukan EGD dan untuk mencegah aspirasi), lavase untuk melihat ada tidaknya perdarahan yang menetap (prognosis buruk); negatif palsu pada waktu UGIB apabila perdarahan berasal baik dari duodenum maupun intermiten.
Pemeriksaan barium (double contrast) untuk lambung dan duodenum. Pemeriksaan tsb dilakukan pada berbagai posisi terutama pada 1/3 distal esopagus, kardia dan fundus lambung untuk mencari ada tidaknya varises, sedini mungkin setelah hematemisis berhenti.

Tanda-tanda prognosis buruk pada UGIB
• Demografik : Usia > 60 tahun, komorbiditas
• Beratnya : darah merah segar pada aspirat NGT, permintaan transfusi, hemodinamik tak stabil.
• Etiologi : varises atau neoplastik
• Munculnya ulkus (dari prognosis yang terbaik hingga terburuk) : dasarnya bersih keluar darah tanpa pembuluh yang terlihat bekuan yang melekat erat perdarahan aktif.

Perawatan Definitif
Terapi Endoskofi
Skleroterapi, menggunakan pensklerosis: natrium morrhuate atau natrium tetradesil sulfat. Agen ini melukai endotel menyebabkan nekrosis dan akhirnya mengakibatkan sklerosis pembuluh yang berdarah.
Endoskopi tamponade termal mencakup probe pemanas, fotokoagulasi laser dan elektrokoagulasi.
Bilas Lambung
Dilakukan selama periode perdarahan akut (kontroversial, karena mengganggu mekanisme pembekuan normal. Sebagian lain meyakini lambung dapat membantu membersihkan darah dalam lambung, membantu mendiagnosis penyebab perdarahan selama endoskofi)
Jika dinstruksikan bilas lambung maka 1000-2000 ml air atau normal salin steril dalam suhu kamar dimasukan dengan menggunakan NGT. Kemudian dikeluarkan kembali dengan spuit atau dipasang suction sampai sekresi lambung jernih.
Bilas lambung pakai es tidak dianjurkan àkan mengakibatkan perdarahan
Irigasi lambung dengan cairan normal saline levarterenol agar menimbulkan vasokontriksi. Setelah diabsorbsi lambung obat dikirim melalui sistem vena porta ke hepar dimana metabolisme terjadi, sehingga reaksi sistemik dapat dicegah. Pengenceran biasanya menggunakan 2 ampul dalam 1000 ml larutan.
Pasien berresiko mengalami apsirasi lambung karena pemasangan NGT dan peningkatan tekanan intragastrik karena darah atau cairan yang digunakan untuk membilas. Pemantauan distensi lambung dan membaringkan pasien dengan kepala ditinggikan penting untuk mencegah refluk isi lambung. Bila posisi tsb kontraindikasi, maka diganti posisi dekubitus lateral kanan—memudahkan mengalirnya isi lambung melewati pilorus.
Pemberian Pitresin
Dilakukan bila dengan bilas lambung atau skleroterapi tidak menolong, maka diberikan vasopresin (Pitresin) intravena.
Obat ini menurunkan tekanan vena porta dan oleh karenanya menurunkan aliran darah pada tempat perdarahan
Dosis 0,2-0,6 unit permenit. Karena vasokontsriktor maka harus diinfuskan melalui aliran pusat. Hati-hati karena dapat terjadi hipersensitif. Mempengaruhi output urine karena sifat antidiuretiknya.
Mengurangi Asam Lambung
Turunkan keasaman sekresi lambung, dengan obat histamin (H2) antagonistik, contoh: simetidin (tagamet), ranitidin hidrokloride (zantac) dan famotidin (pepcid). Dosis tunggal dapat menurunkan sekresi asam selama hampir 5 jam.
Ranitidin iv: 50 mg dicairkan 50 ml D5W setiap 6 jam. Simetidin iv: 300 mg dicairkan dalam dosis intermiten 300 mg dicairkan dalam 50 mg D5W setiap 6 jam atau sebagai infus intravena kontinu 50 mg/jam. Hasil terbaik dicapai jika pH lambung 4 dapat dipertahankan. Antasid juga biasanya diberikan.
Memperbaiki Status Hipokoagulasi
Pemberian vitamin K dalam bentuk fitonadion (aquaMephyton) 10 mg im atau iv dengan lambat untuk mengembalikan masa protrombin menjadi normal. Dapat pula diberikan plasma segar beku.
Balon Tamponade
Terdapat bermacam balon tamponade antara lain Tube Sangstaken-Blakemore, Minnesota, atau Linton-Nachlas. Alat ini untuk mengontrol perdaraghan GI bagian atas karena varises esophagus.
Tube Sangstaken-Blakemore mengandung 3 lumen: (1) balon gastrik yang dapat diinflasikan dengan 100-200 mL udara, (2) balon esopagus yang dapat diinflasikan dengan 40 mm Hg (menggunakan spigmomanometer) dan lumen yang ke (3) untuk mengaspirasi isi lambung.
Tube Minnesota, mempunyai lumen tambahan dan mempunyai lubang untuk menghisap sekresi paring. Sedangkan tube Linton-Nachlas terdiri hanya satu balon gaster yang dapat diinflasikan dengan 500-600 mL udara. Terdapat beberapa lubang/bagian yang terbuka baik pada bagian esophagus maupun lambung untuk mengaspirasi sekresi dan darah.
Tube/slenag Sangstaken-Blakemore setelah dipasang didalam lambung dikembangkan dengan udara tidak lebih dari 50 ml
Kemudian selang ditarik perlahan sampai balon lambung pas terkait pada kardia lambung.
Setelah dipastikan letaknya tepat (menggunakan pemeriksaan radiografi), balon lambung dpat dikembangkan dengan 100-200 mL udara.
Kemudian selang dibagian luar ditraksi dan difiksasi.
Jika perdarahan berlanjut balon esopagus dapat dikembangkan dengan tekanan 250 40 mm Hg (menggunakan spigmomanometer) dan dipertahankan dalam 24-48 jam. Jika lebih lama depat menyebabkan edema, esopagitis, ulserasi atau perforasi esopagus.
Hal yang penting dilakukan saat menggunakan balon ini adalah observasi konstan dan perawatan cermat, dengan mengidentifikasi ketiga ostium selang, diberi label dengan tepat dan diperiksa kepatenannya sebelum dipasang.
Asuhan Keperawatan
Pasien dipertahankan istirahat sempurna, karena gerakan seperti batuk, mengejanà meningkatkan tekanan intra abdomen (tib) shg dapat terjadi perdarahan lenjut.
Bagian kepala tempat tidur tetap ditinggikan untuk mengurangi aliran darah ke sistem porta dan mencegah refluk ke dalam esopagus.
Karena pasien tdk dapat menelan saliva harus sering di suction dari esopagus bagian atas
Nasoparing harus sering sisuction karena peningkatan sekresi akiat iritasi oleh selang
NGT harus diirigasi setiap 2 jam untuk memastikan kepatenannya dan menjaga agar lambung tetap kosong.
Lubang hidung harus sering diperiksa, dibersihkan dan diberi pelumas untuk mencegah area penekanan yang disebabkan selang.
Jangan membiarkan darah berada dalam lambung karena akan masuk ke intestin dan bereaksi dengan bakteri menghasilkan amonia, yang akan diserap ke dalam aliran darah. Sementara kemapuan hepar untuk merubah amonia menjadi urea rusak, dan dapat terjadi intoksikasi amonia.
Terapi Pembedahan
• Reseksi lambung (antrektomi)
• Gastrektomi
• Gastroentrostomi
• Vagotomi
Billroth I : prosedur yang mencakup vagotomi dan antrektomi dengan anastomosis lambung pada duodenum.
Billroth II : meliputi vagotomi, reseksi antrum dan anastomosis lambung pada jejunum Operasi dekompresi hipertensi porta
Penatalaksanaan keperawatan
Pengkajian
Anamnesis, Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium
Anamnesis: perlu ditanyakan tentang:
1. Riwayat penyakit dahulu: hepatitis, penyakit hati menahun, alkohlisme, penyakit lambung, pemakaian obat-obat ulserogenik (penggunaan aspirin, NSAID, atau antikoagulan), diketahui menderita koagulopati dan penyakit darah seperti leuikemia, akut atau kronis, jumlah serangan, serangan terakhir yang paling sering hematemesis, muntah sebelum hematemesis, hematokezia, melena, nyeri abdomen, diare, riwayat pembedahan saluran cerna atau aorta.
2. Pada perdarahan karena pecahnya varises esophgaus, tidak ditemukan keluhan nyeri atau pedih di daerah epigastrium.
3. Tanda-gejala hemel timbul mendadak
4. Tanyakan prakiraan jumlah darah: misalnya satu gelas, dua gelas atau lainnya.
Pemeriksaan Fisik:
1. Keadaan umum
2. Kesadaran
3. Nadi, tekanan darah
4. Tanda-tanda anemia
5. Gejala hipovolemia
Tanda-tanda hipertensi portal dan sirosis hati: spider nevi, ginekomasti, eritema palmaris, capit medusae, adanya kolateral, asites, hepatosplenomegali dan edema tungkai, ikterus, atrofi testis,
Tanda vital : takikardi bila kehilangan cairan 10%; hipotensi ortostatik bila
kehilangan cairan 20%; syok bila kehilangan cairan 30%, pucat, telangektasiasis (penyakit hepar alkohol atau sindrom Osleer-Weber-Rendu)
Pemeriksaan abdomen : nyeri tekan dapat terlokalisir atau tanda-tanda di daerah peritoneum.
Pemeriksaan rektum : warna kotoran, adanya hemoroid, atau fisura ani
Laboratorium:
1. Hitung darah lengkap: penurunan Hb, Ht, peningkatan leukosit
2. Elektrolit: penurunan kalium serum; peningkatan natrium, glukosa serum dan laktat.
3. Profil hematologi: perpanjangan masa protrombin, tromboplastin
4. Gas darah arteri: alkalosis respiratori, hipoksemia.
Hematokrit (mungkin normal pada awal kehilangan darah akut sebelum seimbang kembali), hitung trombosit, PT, PTT, BUN / kreatinin (rasionya pada UGIB karena resorpsi saluran cerna dari darah atau azotemia prerenal), uji fungsi hepar.
Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan Radiologis : Dilakukan dengan pemeriksaan esopagogram untuk daerah esopagus dan double contrast untuk lambung dan duodenum. Pemeriksaan tsb dilakukan pada berbagai posisi terutama pada 1/3 distal esopagus, kardia dan fundus lambung untuk mencari ada tidaknya varises, sedini mungkin setelah hematemisis berhenti.
Pemeriksaan Endoskopi : Untuk menentukan asal dan sumber perdarahan. Keuntungan lain: dapat diambil foto, aspirasi cairan dan biopsi untuk pemeriksaan sitopatologik. Dilakukan sedini mungkin setelah hematemisis berhenti.
Pemeriksaan diagnostik pada UGIB : esofagogastroduodenoskopi (EGD) (dan terapi yang potensial).
Pemeriksaan diagnostik pada LGIB (periksa UGIB sebelum mencoba untuk melokalisasi LGIB yang diperkirakan)
Perdarahan berhenti secara spontan klonoskopi (mengidentifikasi penyebab pada > 70% kasus dan potensial untuk tindakan terapi)
Stabil namun perdarahan terus-menerus sken perdarahan (RBC berlabel 99mTc/albumin) : mendeteksi laju perdarahan yang > 0,1-1,0 ml/menit, namun sulit menentukan lokasi yang akurat.
Tidak stabil arteriografi (mendeteksi laju perdarahan yang > 0,5-1,0 ml/menit dan potensial untuk tindakan terapi (infus vasopresin intra arteri atau embolisasi) laparotomi ekspolari.
Diagnosa Keperawatan / Intervensi Keperawatan
1. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan darah akut, penggantian cepat volume dengan cairan kristaloid.
Tujuan : Pasien akan tetap stabil secara hemodinamik
Intervensi keperawatan :
• Pantau vs setiap jam
• Pantau nilai-nilai hemodinamik
• Ukur output urine tiap jam
• Ukur I dan O dan kaji keseimbangan
• Berikan cairan pengganti dan produk darah sesuai instruksi. Pantau adanya reaksi yang merugikan terhadap komponen terapi.
• Tirang baring total, baringkan pasien terlentang dg kaki ditinggikan untuk meningkatkan preload jika pasien mengalami hipotensi. Jika terjadi normotensi tempatkan tinggi bagian kepala tempat tidur pada 45 derajat untuk mencegah aspirasi isi lambung.
• Pantau Hb dan Ht
• Pantau elektrolit
• Periksa feses terhadap darah untuk 72 jam setelah masa akut.

2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan kapasitas angkut oksigen dan faktor-faktor resiko aspirasi.
Tujuan : Pasien akan mempertahankan oksigenasi dan pertukran gas yang adekuat
Intervensi Keperawatan :
• Pantau SaO2 dengan menggunakan oksimetri atau ABGs
• Pantau bunyi nafas dan gejala-gejala pulmoner
• Gunakan suplemen O2 sesuai instruksi
• Pantau suhu tubuh
• Pantau adanya distensi abdomen
• Baringkan pasien pada bagian kepala tempat tidur yang ditinggikan jika segalanya memungkinkan
• Pertahankan fungsi dan patensi NGT dengan tepat.
• Atasi segera mual
3. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan aliran intravena
Tujuan : Pasien tidak akan mengalami infeksi nosokomial
Intervensi Keperawatan :
• Pertahankan kestabilan selang intravena.
• Ukur suhu tubuh setiap jam
• Pantau sistem intravena terhadap patensi, infiltrasi, dan tanda-tanda infeksi
• Ganti letak intravena setiap 48-72 jam dan jika perlu
• Ganti larutan intravena sedikitnya tiap 24 jam
• Letak insersi setiap shift
• Gunakan tehnik aseptik saat mengganti balutan dan selang. Pertahankan balutan bersih dan steril
• Ukur sel darah putih
4. Ansietas berhubungan dengan sakit kritis, ketakutan akan kematian ataupun kerusakan bentuk tubuh, perubahan peran dalam lingkup sosial atau ketidakmampuan yang permanen.
Tujuan : Pasien akan menyatakan bahwa cemasnya berkurang atau hilang.
Intervensi Keperawatan :
a. Kaji ansietas : ringan, sedang, berat
b. Memberikan ketentraman dan kenyamanan hati
• Tinggal bersama klien
• Jangan atau meminta klien untuk membuat keputusan
• Berbicara dengan tenang dan perlahan, menggunakan kalimat yang pendak dan sederhana
• Waspada terhadap perhatian anda sendiri dan hindari ansietas yang timbal balik
• Perlihatkan rasa empati (mis ; datang dengan tenang, menyentuh, membiarkan menangis, berbicara)
c. Singkirkan stimulasi yang berlebih (mis; tempatkan klien di ruangan yang lebih tenang); batasi kontak dengan orang lain
d. Apabila ansietas telah berkurang, bantu klien untuk mengenali ansietas dengan tujuan untuk mulai memahami atau memecahkan masalah
• Berikan dorongan klien untuk mengingat dan menganalisa peristiwa ansietas serupa.
• Gali perilaku alternatif apa yang mungkin telah digunakan jika kopingnya maladaptif.
e. Bantu klien yang sedang marah
• identifikasi adanya marah (mis; perasaan frustasi, ansietas, ketidakberdayaan, adanya peka rangsang, berbicara meledak-ledak)
• Kenali reaksi anda terhadap perilaku klien; waspadai perasaan anda sendiri dalam bekerja dengan individu yang sedang marah.
• Bantu dalam membuat hubungan antara frustasi dengan perasaan selanjutnya.
• Sebutkan batasan-batasan dengan jelas; katakan pada individu apa yang benar-benar diharapkan (mis; ”Saya tidak dapat membiarkan anda berteriak”[melempar benda-benda, dsb]).
• Ketika menyebutkan perilaku yang tidak dapat diterima, berikan suatu alternatif (mis; beri ruangan yang tenang, aktifitas fisik, kesempatan untuk berkomunikasi dari hati ke hati)
• Kembangkan strategi modifikasi perilaku; bicarakan dengan seluruh personil yang terlibat agar konsisten
• Lakukan interaksi dengan klien apabila dia tidak banyak menuntut atau manipulatif
f. Bila berkenan, berikan aktifitas yang dapat mengurangi ketegangan (mis; aktivitas fisik, permainan-permainan)

Tambahan
Varises
Farmakologi :
Octreotide 50 gram bolus IV 50 g/jam infus (berhasil
84%, Lancet 342 : 637, 1993) Vasopresin atau vasopresin + nitrogliserin (kurang manjur dan lebih banyak komplikasi) Penyekat-â (non-selektif) dan nitrat apabila hemodinamik stabil
Non-Farmakologi :
Skleroterapi endoskopi (berhasil 88%) atau band ligation (angka keberhasilan > 90%) Octreotide + terapi endoskopik (angka keberhasilan > 95% ; (N Eng J Med 333 : 555, 1995)
Tamponade balon apabila perdarahannya berat Embolisasi atau TIPS apabila terapi endoskopik gagal
(N Engl J Med 333 : 165, 1994)
PUD
Farmakologi :
Penghambat pompa proton (N Egl J Med 336 : 1054, 1997), Octreotide 50 gram bolus IV 50 gram/jam infus.
Non-Farmakologi :
Terapi endoskopi (injeksi, kontak termal, laser). Angiografi mesenterika dengan infus vasopresin atau embolisasi. Reseksi gastrik apabila endoskopi dan terapi farmakologi gagal
Mallory-Weiss
Biasanya berhenti secara spontan
Gastritis esofagus
Penghambat pompa proton, antagonis H2
Penyakit divertikuler
Biasanya berhenti secara spontan. Terapi endoskopi (injeksi epinefrin), vasopresin arterial atauembolisasi, pembedahan
Angiodisplasia
Vasopresin arterial, terapi endoskopik, pembedahan
DAFTAR PUSTAKA
Diagnosa Kep. NANDA
Hudak dan Galo. (1996). Keperawatan kritis: Pendekatan holistik. (Vol. II, edisi 6). Jakarta: EGC.
Lanros, N.E., dan Barber, J.M. (2000). Emergency nursing. (4th ed.). Stamford: Appleton & Lange.
Suparman. (1987). Ilmu penyakit dalam. (Jilid I, edisi kedua). Jakarta: Balai Penerbit FKUI.




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...