Selasa, 23 Oktober 2012

MANAJEMEN PELAYANAN KEBIDANAN

A.    Definisi Operasional

Manajemen kebidanan adalah pendekatan yang digunakan oleh bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis mulai dari pengkajian, analisis data, diagnosis kebidanan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

(50 Tahun IBI, 2007)
Manajemen kebidanan adalah metode dan pendekatan pemecahan masalah ibu dan anak yang khusus dilakukan oleh bidan dalam memberikan asuhan kebidanan kepada individu, keluarga dan masyarakat.
(Depkes RI, 2005)
Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, keteranpilan dalam rangkaian tahapan yang logis untuk pengambilan suatu keputusan berfokus pada klien.
(Helen Varney, 1997)

Defenisi operasional :

1.  Ada Standar Manajemen Asuhan Kebidanan (SMAK) sebagai pedoman dalam memberikan pelayanan kebidanan
2.      Ada format manajemen kebidanan yang terdapat pada catatan medik
3.      Ada pengkajian asuhan kebidanan bagi setiap klien
4.      Ada diagnosa kebidanan
5.      Ada rencana asuhan kebidanan
6.      Ada dokumen tertulis tentang tindakan kebidnan
7.      Ada catatan perkembangn klien dalam asuhan kebidanan
8.      Ada evaluasi dalam memberikan asuhan kebidanan
9.      Ada dokumentasi utuk kegiatan manajemen kebidanan
B.     Langkah-Langkah dalam Manajemen Pelayanan Kebidanan
Manajemen pelayanan kebidanan tentu saja mengambil sistem manajemen pada umumnya. Dalam pelayanannya juga melaksanakan aktifitas manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, kordinasi dan pengawasan (supervisi dan evaluasi). 

·         Langkah I        : Pengumpulan Data Dasar
Pada langkah ini dilakukan pegumpulan informasi yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.
Untuk memperoleh data dilakukan dengan cara :
1.      Anamnesa
a.       Biodata ( Nama, umur, alamat, pekerjaan, agama, pendidikan)
b.      Riwayat Menstruasi (menarche, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya darah yang keluar, aliran darah yang keluar, mentruasi terakhir, adakah dismenorhe, gangguan sewaktu menstruasi (metrorhagia, menoraghi), gejala premenstrual)
c.      Riwayat Kesehatan ( Gambaran penyakit lalu, riwayat penyakit keluarga, riwayat kehamilan sekarang )
d.      Riwayat Perkawinan (kawin berapa kali, usia kawin pertama kali)
e.       Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas
  • Jumlah kehamilandan kelahiran : G (gravid), P (para), A (abortus), H (hidup) 

  • Riwayat persalinan : jarak antara dua kelahiran, tempat melahirkan, lamanya melahirkan,cara melahirkan 

  • Masalah/gangguan kesehatan yang timbul sewaktu hamil dan melahirkan, Misalnya : Pre-eklampsi, infeksi, dll
f.       Bio-Psiko-Sosial-Spiritual
g.      Pengetahuan Klien 

2.      Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital
3.      Pemeriksaan khusus (Inspeksi, Palpasi, Auskultasi, Perkusi)
4.      Pemeriksaan penunjang (Laboratorium, catatan terbaru dan sebelumnya) 

Bila klien mengalami komplikasi yang perlu dikonsultasikan kepada dokter dalam manajemen kolaborasi bidan akan melakukan konsultasi. Pada langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Bidan mengumpulkan data dasar awal yang lengkap. Pada keadaan tertentu dapat terjadi langkah pertama akan overlap dengan langkah 5 dan 6 (atau menjadi bagian dari langkah-langkah tersebut) karena data yang diperlukan diambil dari hasil pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan diagnostik yang lain. Kadang-kadang bidan perlu memulai manajemen dari langkah 4 untuk mendapatkan data dasar awal yang perlu disampaikan kepada dokter.
·         Langkah II      : Interpretasi Data Dasar

Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosa atau masalah berdasarkan interpretasi atas data-data yang telah dikumpulkan. Data dasar yang telah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga dapat merumuskan diagnosa dan masalah yang spesifik. 

1.      Diagnosa kebidanan
Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan oleh bidan dalam lingkup praktek kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur diagnosa kebidanan.
Standar Nomenklatur Diagnosa Kebidanan        :
a.       Diakui dan telah disyahkan oleh profesi
b.      Berhubungan langsung dengan praktek kebidanan
c.       Memiliki ciri khas kebidanan
d.      Didukung oleh clinical judgement dalam praktek kebidanan
e.       Dapat diselesaikan dengan pendekatan manajemen kebidanan
Rumusan diagnosa dan masalah keduanya digunakan karena masalah tidak dapat didefinisikan seperti diagnosa tetapi tetap membutuhkan penenganan. Masalah  sering  berkaitan  dengan  hal-hal  yang sedang dialami oleh wanita yang diidentifikasi oleh bidan sesuai dengan hasil pengkajian. Masalah juga sering menyertai diagnosa.
Sebagai contoh :
-          Diagnosa : kemungkinan wanita hamil
-          Masalah : wanita tersebut tidak menginginkan kehamilannya. 

2.      Masalah
Hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman klien yang ditemukan dari hasil pengkajian atau yang menyertai.
Contoh perumusan masalah :
Masalah Dasar
Ø  Wanita tidak menginginkan kehamilan Wanita mengatakan belum ingin hamil 
Ø  Ibu hamil trimester III merasa takut Ibu mengatakan takut menghadapi persalinan. 

3.      Kebutuhan 
Hal-hal yang dibutuhkan klien dan belum teridentifikasi dalam diagnosa dan masalah yang didapatkan dengan melakukan analisa data.
Hal-hal yang dibutuhkan klien dan belum teridentifikasi dalam diagnosa dan masalah yang didapatkan dengan melakukan analisa data.
Contoh kebutuhan :
Kebutuhan Dasar : Ibu menyenangi Binatang
Kebutuhan           :
Ø  Penyuluhan bahaya binatang terhadap kehamilan
Ø  Pemeriksaan TORCH Ibu mengatakan sekeluarga menyayangi binatang
·         Langkah III     : Mengidentifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial

Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial lain berdasarkan  rangkaian  masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil mengamati klien bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosa/masalah  potensial ini benar-benar terjadi. Pada langkah ini penting sekali melakukan asuhan yang aman.
Contoh : Seorang wanita dengan pembesaran uterus yang berlebihan. Bidan harus mempertimbangkan kemungkinan penyebab pemuaian uterus yang berlebihan tersebut, misalnya:
1.      Besar dari masa kehamilan
2.      Ibu dengan diabetes kehamilan, atau
3.      Kehamilan kembar
Kemudian dia harus mengantisipasi, melakukan perencanaan untuk mengatasinya dan bersiap-siap terhadap kemungkinan tiba-tiba terjadi perdarahan postpartum yang disebabkan oleh atonia uteri karena pembesaran uterus yang berlebihan.
Pada persalinan dengan bayi besar, bidan sebaiknya mengantisipasi dan bersiap-siap terhadap kemungkinan terjadinya distosia bahu dan juga kebutuhan untuk resusitasi. Bidan juga sebaiknya waspada terhadap kemungkinan wanita menderita infeksi saluran kencing yang menyebabkan tingginya kemungkinan terjadinya peningkatan partus premature atau bayi kecil.
Persiapan yang sederhana adalah dengan bertanya dan mengkaji riwayat kehamilan pada setiap kunjungan ulang, pemeriksaan laboratorium terhadap simptomatik terhadap bakteri dan segera memberi pengobatan jika infeksi saluran kencing terjadi.
·         Langkah IV     : Mengidentifikasi dan Menetapkan Kebutuhan yang Memerlukan Penanganan Segera.

Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan/atau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien.  Langkah keempat mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen kebidanan. Jadi manajemen bukan hanya selama asuhan primer periodik atau kunjungan prenatal saja, tetapi juga selama wanita tersebut bersama bidan, terus-menerus, misalnya pada waktu wanita tersebut dalam persalinan. Data baru mungkin saja perlu dikumpulkan dan dievaluasi. Beberapa data mungkin mengindikasikan situasi yang gawat dimana bidan harus bertindak segera untuk kepentingan keselamatan jiwa ibu atau anak (misalnya perdarahan kala III atau perdarahan segera setelah lahir, distosia bahu, atau nilai APGAR yang rendah).
Dari data yang dikumpulkan dapat menunjukkan satu situasi yang memerlukan tindakan segera sementara yang lain harus menunggu intervensi dari seorang dokter, misalnya prolaps tali pusat. Situasi lainnya bisa saja tidak merupakan kegawatan tetapi memerlukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter. Demikian juga bila ditemukan tanda-tanda awal dari pre-eklampsia, kelainan panggul, adanya penyakit jantung, diabetes atau masalah medik yang serius, bidan perlu melakukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter.
Dalam kondisi tertentu seorang wanita mungkin juga akan memerlukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter atau tim kesehatan lainnya seperti pekerja sosial, ahli gizi, atau seorang ahli perawatan klinis bayi baru lahir. Dalam hal ini bidan harus mampu mengevaluasi kondisi setiap klien untuk menentukan kepada siapa konsultasi dan kolaborasi yang paling tepat dalam manajemen asuhan klien.
·         Langkah V      : Merencanakan Asuhan yang Menyeluruh

Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh, ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap diagnosa atau masalah yang telah dididentifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini informasi/data dasar yang tidak lengkap dapat dilengkapi.
Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang sudah teridentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah yang berkaitan tetapi juga dari kerangka pedoman antisipasi terhadap wanita tersebut seperti apa yang diperkirakan akan terjadi berikutnya, apakah dibutuhkan penyuluhan, konseling dan apakah perlu merujuk klien bila ada masalah-masalah yang berkaitan dengan sosial-ekonomi, kultural atau masalah psikologis.
Dengan kata lain, asuhan terhadap wanita tersebut sudah mencakup setiap hal yang berkaitan dengan semua aspek asuhan. Setiap rencana asuhan haruslah disetujui oleh kedua belah pihak, yaitu oleh bidan dan klien, agar dapat dilaksanakan dengan efektif karena klien merupakan bagian dari pelaksanaan rencana tersebut. Oleh karena itu, pada langkah ini tugas bidan adalah merumuskan rencana asuhan sesuai dengan hasil pembahasan rencana bersama klien, kemudian membuat kesepakatan bersama sebelum melaksanakannya.
Semua keputusan yang dikembangkan dalam asuhan yang menyeluruh ini harus rasional dan benar-benar valid berdasarkan pengethuan dan teori yang up to date serta sesuai dengan asumsi tentang apa yang akan atau tidak akan dilakukan klien.
Rasional berarti tidak berdasarkan asumsi, tetapi sesuai dengan keadaan klien dan pengetahuan teori yang benar dan memadai atau berdasarkan suatu data dasar yang lengkap, dan bisa dianggap valid sehingga menghasilkan asuhan klien yang lengkap dan tidak berbahaya.
·         Langkah VI     : Melaksanakan Asuhan

Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah ke 5 dilaksanakan secara efisien dan aman. Perencanaan ini bias dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian dilakukan oleh bidan dan sebagian lagi oleh klien, atau anggota tim kesehatan yang lain. Jika bidan tidak melakukan sendiri ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya. (misalnya: memastikan agar langkah-langkah tersebut benar-benar terlaksana). Dalam situasi dimana bidan berkolaborasi dengan dokter, untuk menangani klien yang mengalami komplikasi, maka keterlibatan bidan dalam manajemen asuhan bagi klien adalah bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana asuhan bersama yang menyeluruh tersebut. Manajemen yang efisien akan menyingkat waktu dan biaya serta meningkatkan mutu dari asuhan klien.
·         Langkah VII   : Evaluasi

Pada langkah ketujuh ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaiman atelah diidentifikasi di dalam masalah dan diagnosa. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar efektif dalam pelaksanaanya. Ada kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut telah efektif sedang sebagian belum efektif.

C.    Perencanaan dalam Pelayanan

·         INPUT
-          Semua hal yang diperlukan untuk terselenggaranya suatu pelayanan kesehatan
-          Tenaga, Dana, Sarana
·         PROSES
-           Semua tindakan yang dilakukan pada waktu menyelenggarakan pelayanan kesehatan.
-          Aspek : Tindakan medis dan tindakan Non medis

·         OUTPUT
-          Menunjuk pada penampilan (perfomance) pelayanan kesehatan.
-          Penampilan aspek medis pelayanan kesehatan dan penampilan aspek non-medis pelayanan kesehatan
D.    Pemantauan Pelayanan Kebidanan
1.      Register Kohort

Register kohort adalah sumber data pelayanan ibu hamil, ibu nifas, neonatal, bayi dan balita dengan tujuan Untuk mengidentifikasi masalah kesehatan ibu dan neonatal yang terdeteksi di rumah tangga yang teridentinfikasi dari data bidan.
Jenis Register Kohort       :

a.       Register Kohort Ibu
Register kohort ibu merupakan sumber data pelayanan ibu hamil dan bersalin, serta keadaan/resiko yang dipunyai ibu yang di organisir sedemikian rupa yang pengkoleksiaannya melibatkan kader dan dukun bayi diwilayahnya setiap bulan yang mana informasi pada saat ini lebih difokuskan pada kesehatan ibu dan bayi baru lahir tanpa adanya duplikasi informasi
b.      Register Kohort Bayi
Merupakan sumber data pelayanan kesehatan bayi, termasuk neonatal
c.       Register Kohort Balita
Merupakan sumber data pelayanan kesehatan balita, umur 12 bulan sampai dengan 5 tahun 
2.      PWS KIA (Pemantauan Wilayah Setempat)

PWS KIA adalah alat manajemen untuk melakukan pemantauan program KIA di suatu wilayah kerja secara terus menerus, agar dapat dilakukan tindak lanjut yang cepat dan tepat.
Program KIA yang dimaksud meliputi pelayanan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, ibu dengan komplikasi kebidanan, keluarga berencana, bayi baru lahir, bayi baru lahir dengan komplikasi, bayi, dan balita
Kegiatan PWS KIA terdiri dari :
-          Pengumpulan
-          Pengolahan
-          Analisis
-          Interpretasi data
-          Penyebarluasan informasi ke penyelenggara program dan pihak/instansi terkait untuk tindak lanjut
·         Pengumpulan Data PWS KIA

A.    Data Sasaran
  • Jumlah Seluruh ibu hamil
  • Jumlah seluruh ibu bersalin
  • Jumlah ibu nifas
  • Jumlah seluruh bayi
  • Jumlah seluruh Pasangan Usia Subur (PUS)
B.      Data Pelayanan
  • Jumlah  K1 dan K4
  • Jumlah persalinan yang ditolong oleh Tenaga Kesehatan
  • Jumlah  ibu nifas yang dilayani 3 kali ( KF 3 ) oleh Tenaga Kesehatan
  • Jumlah Neonatus yang  mendapat  pelayanan kesehatan pada umur 6-48 jam
  • Jumlah neonatus yang mendapat  pelayanan lengkap ( KN lengkap )
  • Jumlah ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dengan faktor resiko/komplikasi yang di deteksi oleh Masyarakat
  • Jumlah Kasus komplikasi obstetri yang ditangani
  • Jumlah Neonatus dengan komplikasi yangg ditangani
  • Jumlah bayi 29 hari – 12 bulan yang mendapat  pelayanan kesehatan sedikitnya 4 kali
  • Jumlah anak balita (12–59 bulan) yang mendapat pelayanan kesehatan sedikitnya 8 kali
  • Jumlah anak balita sakit yang mendapat pelayanan kesehatan sesuai standar
  • Jumlah peserta KB aktif

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...